Pagi itu di Manila seharusnya berjalan seperti biasanya. Namun, tidak dengan Madeleine.
Apartemen kecil yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dipenuhi suara pertengkaran sejak tadi.
"Aku cuma pinjam sebentar, Madeleine! Nanti juga aku ganti!"
Suara ibunya menggema dari ruang tamu.
Madeleine yang baru saja mengenakan blazer langsung keluar dari kamarnya.
"Mom ngambil kartu kredit aku lagi?"
Perempuan paruh baya itu langsung mengalihkan pandangan.
"Aku memakainya hanya untuk menutup pembayaran dulu."
Madeleine memejamkan mata sesaat.
"Berapa kali aku bilang jangan pernah pakai kartu aku tanpa izin?"
"Aku ini kan ibumu!"
"Dan aku anak Mom, bukan mesin ATM."
Suara kembali hening.
Ibunya mendecak pelan.
"Kamu sekarang sudah bekerja di perusahaan besar. Gaji kamu juga besar. Masa bantu Ibu sendiri saja dihitung-hitung?"
Madeleine tertawa pelan, dan tawa itu terdengar sama sekali bukan tawa yang bahagia.
"Bantu?"
Ia mengangguk beberapa kali.
"Waktu aku SMA, aku bahkan ikut dikejar-kejar orang karena utang arisan Mom."
"Mom ingat?"
"Madeleine!"
"Aku yang nangis setiap malam karena takut pulang sekolah."
"Aku yang kerja sambilan buat bayar semua utang Mom!"
Air mata mulai memenuhi matanya.
"Tapi sampai sekarang..."
"...Mom masih ngelakuin hal yang sama."
Ibunya mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau ayahmu dulu gak ninggalin Mom demi perempuan-perempuan itu, hidup kita gak akan begini!"
Kalimat itu membuat Madeleine langsung menggeleng.
"Jangan salahin Dad terus."
"Mom sendiri gimana?"
"Mom pikir aku gak tahu selama ini?"
"Mom pikir aku gak lihat setiap minggu Mom ganti laki-laki?"
Ibunya langsung membelalak.
"Jaga omonganmu!"
"Kenapa?"
"Bohong?"
Madeleine mengusap air matanya kasar.
"Dulu aku benci Dad."
"Aku sebenci itu sama Dad. Tapi setelah aku besar..."
"...aku sadar Mom juga gak pernah berusaha memperbaiki apa pun."
"Mom malah mengulang kesalahan yang sama."
Tamparan keras mendarat di pipi Madeleine.
Plak.
Ruangan mendadak sunyi.
Madeleine tidak membalas, ia hanya memegang pipinya pelan. Dadanya terasa sesak.
"Aku capek, Mom..."
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Aku capek hidup begini."
"Aku capek tiap bulan nutup masalah yang bukan aku buat."
"Aku capek harus pura-pura kuat."
Ibunya kembali tersulut emosi.
"Kamu lupa? Siapa yang menemani kamu sekitar hampir tujuh tahun lalu jika bukan Mom? Dan siapa lagi yang peduli dan merawat kamu waktu itu kalau bukan Mom?! Kamu juga pasti tahu serapat apa Mom menjaga rahasia kamu kan! Bukan hanya Mom yang mempunyai aib di dunia ini."
Madeleine langsung membeku.
Kalimat terakhir itu terasa seperti menghantam dadanya tanpa ampun.
Matanya perlahan membesar.
"...Mom."
Suara itu keluar lirih, penuh peringatan.
"Jangan bawa itu."
Ibunya justru tertawa pendek, meski matanya ikut dipenuhi air mata.
"Kenapa?"
"Kamu malu?"
"Aku hanya mengingatkan kalau hidupmu juga tidak sebersih yang kamu pikir."
Madeleine menggeleng pelan berkali-kali.
"Please..."
"Jangan ungkit itu lagi."
"Kenapa gak boleh?" balas ibunya cepat. "Selama bertahun-tahun aku yang nutup semuanya. Aku yang menemani kamu. Aku yang menjaga kamu supaya tidak ada satu orang pun yang tahu."
Madeleine mengepalkan kedua tangannya.
"Aku gak pernah minta Mom ngungkit itu setiap kali kita bertengkar."
"Aku juga gak pernah minta semua itu terjadi."
Ibunya mengusap air matanya kasar.
"Kalau bukan karena aku, mungkin hidupmu sudah hancur dari dulu."
Kalimat itu membuat Madeleine mengangkat wajahnya.
Air matanya kini benar-benar jatuh.
"Iya."
"Aku tahu."
"Aku selalu tahu."
"Tapi bukan berarti Mom bisa terus memakai itu setiap kali ingin menang dalam pertengkaran kita."
Dadanya naik turun menahan sesak.
"Setiap kali Mom bilang begitu..."
"...aku selalu merasa kalau hidupku gak akan pernah bisa lepas dari masa lalu itu."
Ia menunduk.
"Aku udah berusaha keras buat bangkit."
"Belajar lagi."
"Membangun hidupku dari awal."
"Berusaha jadi seseorang yang bisa dibanggakan."
Suaranya mulai bergetar.
"Tapi setiap Mom membahas itu..."
"...rasanya semua usaha aku jadi gak ada artinya."
Ibunya ikut terdiam.
Namun gengsinya masih terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan.
"Aku hanya mau kamu sadar kalau aku juga berkorban. Lagi pula, semua itu salahmu sendiri juga."
Madeleine tertawa pelan.
Tawa yang terdengar begitu rapuh.
"Berarti kita sama."
"Aku juga banyak berkorban buat Mom."
"Aku nutup utang Mom yang gak sedikit itu."
"Aku ninggalin banyak mimpi."
"Aku kerja tanpa kenal waktu."
"Aku bahkan... sampai sekarang masih takut setiap ada nomor asing telepon karena kepikiran masa-masa dulu."
Air matanya terus mengalir.
"Kenapa kita terus saling nyakitin, Mom?"
Pertanyaan itu membuat ibunya perlahan memalingkan wajah.
Tidak ada jawaban.
Hanya isak tangis yang kini memenuhi ruang tamu apartemen kecil itu.
Madeleine menarik napas panjang.
"Aku sayang sama Mom."
"Makanya aku tetap di sini."
"Makanya aku tetap bantu Mom."
"Tapi tolong..."
Ia mengusap air matanya sendiri.
"...jangan jadikan masa lalu aku sebagai senjata setiap kali kita bertengkar."
"Itu luka paling besar dalam hidup aku."
"Dan sampai hari ini..."
"...luka itu belum pernah benar-benar sembuh."
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Madeleine kemudian mengambil tas kerjanya.
"Mulai hari ini..."
"...jangan pernah ambil apa pun yang punya aku tanpa izin."
Ia berjalan menuju pintu.
Namun langkahnya kembali terhenti ketika suara ibunya terdengar lirih.
"Kalau kamu juga ninggalin Mama..."
"...Mama punya siapa lagi?"
Punggung Madeleine menegang.
Matanya kembali memanas.
Tanpa berbalik sedikit pun, ia menjawab pelan,
"Aku gak pernah ninggalin Mama."
"Aku cuma... udah terlalu lelah."
Pintu apartemen tertutup perlahan.
"Madeleine!"
•••
Perjalanan menuju kantor terasa begitu panjang.
Madeleine bahkan harus berhenti beberapa kali di pinggir jalan hanya untuk menenangkan dirinya.
Tangannya masih gemetar.