Pagi itu, suasana kantor Moreau International tampak jauh lebih sibuk dibanding biasanya.
Beberapa klien dari luar negeri dijadwalkan datang sejak pagi, sementara agenda Laurent nyaris penuh hingga malam hari.
Madeleine berjalan cepat menyusuri koridor sambil membawa tablet dan beberapa map di tangannya.
"Miss Madeleine."
Seorang staf dari divisi legal menghampirinya.
"Draft untuk meeting di pukul sebelas nanti sudah saya kirimkan ke email Anda."
"Baik, nanti saya cek."
Belum sempat ia membuka email tersebut, ponselnya kembali bergetar.
"Miss Madeleine, ruang rapat tiga sudah siap."
"Oke."
Ia membalas singkat, lalu kembali berjalan menuju lantai atas.
Belakangan ini, ia sedang mencoba memperbaiki semuanya dengan datang lebih pagi, dan... mungkin pulang lebih lama untuk lembur.
Menjelang siang harinya, Laurent baru saja keluar dari ruang meeting bersama beberapa klien.
"Madeleine."
"Yes, Sir."
"Meeting saya dengan Skyline Holdings dipindahkan menjadi pukul dua siang, benar?"
Madeleine langsung membuka tabletnya.
"Benar, Sir."
Laurent mengangguk singkat.
"Baik."
Ia kembali berjalan menuju ruang kerjanya.
Namun belum sampai lima menit... pintu ruangan CEO itu kembali terbuka.
"Madeleine."
Nada suara Laurent kali ini jauh lebih datar.
Madeleine langsung berdiri.
"Sir?"
"Masuk."
Beberapa staf yang berada di luar saling melirik. Karena mereka tahu... jika nada bicara bos mereka sudah seperti itu, hampir selalu berarti ada sesuatu yang tidak beres.
Madeleine menutup pintu perlahan.
Laurent berdiri di dekat mejanya sambil memegang sebuah map, helaan napas panjangnya pun sampai terdengar ke telinga Madeleine yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Duduk."
Madeleine menurut.
Laurent meletakkan map itu tepat di depannya.
"Kamu menjadwalkan meeting Skyline Holdings pukul dua."
"Iya, Sir. Itu benar."
"Lalu..."
Laurent membuka halaman berikutnya.
"...siapa yang menjadwalkan meeting internal dengan divisi investasi di waktu yang sama?"
Madeleine mengernyit.
Ia segera mengambil tabletnya.
Jemarinya bergerak cepat membuka kalender kerja.
Beberapa detik kemudian... wajahnya perlahan memucat.
Ada dua agenda di sana, di jam yang sama.
Dadanya seketika terasa kosong.
"...Sir..."
Laurent menatapnya lekat. "Jelaskan."
Madeleine menelan ludah. "Saya..." Ia membuka kembali riwayat perubahan, matanya bergerak cepat membaca setiap detail.
Lalu ia menyadari sesuatu.
Hari ketika jadwal itu dipindahkan... tak salah lagi adalah pagi saat dirinya datang terlambat setelah bertengkar dengan ibunya kala itu.
Saat itu ia menerima beberapa permintaan perubahan jadwal sekaligus.
Kemudian... ia menggeser salah satunya, dan agenda yang lain tertinggal.
"Saya minta maaf, Sir."
"Saya telah melakukan kesalahan."
Laurent tidak langsung menjawab.
"Karena kesalahan ini..."
"...dua direktur sudah menunggu hampir empat puluh menit di ruang rapat."
"Sementara pihak Skyline Holdings hampir membatalkan pertemuan."
Ruangan kembali sunyi.
Madeleine menundukkan kepala.
"Maaf, Sir."
"Saya akan memastikan setelah ini hal itu tidak akan terulang lagi."
"Saya benar-benar minta maaf atas ketidak telitian saya kali ini. Saya benar-benar tidak sengaja melakukan itu."
Laurent menarik napas panjang.
"Kalimat itu sudah terlalu sering saya dengar dua bulan belakangan, karena kesalahan kamu yang hampir berkali-kali beruntutan selama tiga bulan ini."
Madeleine mengepalkan jemarinya di atas pangkuan.
"Saya tahu."
"Tapi saya benar-benar akan memperbaikinya."
Laurent kembali membuka map lain.
"Ini belum selesai."
Madeleine perlahan mengangkat kepala.
Laurent menggeser selembar dokumen ke arahnya.
"Proposal kerja sama dengan Pacific Meridian."
Madeleine melihat dokumen itu.
Lalu matanya membesar.
Di halaman terakhir...
Nomor lampiran yang tercantum tidak sesuai.
Dokumen revisi yang seharusnya dikirim ternyata masih menggunakan versi lama.
Kesalahan kecil.
Namun dalam perusahaan sebesar Moreau International...
Kesalahan seperti itu tetap dianggap serius.
Laurent menatapnya beberapa saat.
"Saya sengaja mengecek ulang sendiri pagi tadi."
"Kalau dokumen ini sudah telanjur ditandatangani klien..."
"...proses administrasinya harus diulang dari awal."
Madeleine memejamkan mata sesaat.
Ia bahkan tidak ingat kapan kesalahan itu terjadi.
Beberapa hari terakhir pikirannya benar-benar tidak fokus.
Laurent akhirnya kembali duduk di kursinya.
"Madeleine."
Perempuan itu perlahan membuka mata.
"Beberapa bulan lalu saya masih bisa mengatakan kalau ini hanya fase."
"Tapi sekarang..."
Ia berhenti sejenak.
"...kesalahanmu sudah mulai berdampak pada pekerjaan orang lain."
Madeleine menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Saya minta maaf."
Laurent menggeleng pelan.
"Saya tidak sedang mencari permintaan maaf."
"Saya sedang mencari alasan kenapa saya harus tetap mempertahankan Executive Secretary yang terus melakukan kesalahan."
"Dan saya juga sudah beberapa kali... bahkan hampir terlalu sering memaafkan kesalahan yang kamu buat beberapa bulan terakhir."
Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.
Madeleine menggigit bibir bawahnya.
Tangannya terasa dingin.
Ia ingin menjelaskan.
Masalahnya yang berkaitan dengan ibunya, juga pertengkaran yang hampir terus-menerus terjadi di setiap minggu. Terutama... soal tagihan, dan ancaman kehilangan tempat tinggal.
Namun...
Tidak ada satu pun yang keluar dari mulutnya.
Karena ia sadar...
Semua itu bukan alasan yang bisa menghapus kesalahannya sebagai seorang profesional.
Laurent memperhatikannya beberapa detik.
Kemudian ia menekan tombol interkom di atas meja.
"Please ask HR Manager to come to my office."
Madeleine spontan mengangkat wajah.
Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
"...Sir?"
Laurent meletakkan kembali gagang telepon interkom, dan ruangan itu kini kembali dipenuhi keheningan yang terasa menyesakkan.
Madeleine masih duduk di tempatnya.
Jemarinya perlahan saling menggenggam, berusaha menahan gemetar yang sejak tadi tak kunjung berhenti.
"...Sir."
Suaranya terdengar pelan.
"Saya mohon..."
Laurent mengangkat tangan, menghentikan kalimatnya.
"Tunggu sampai HR datang."
Madeleine kembali terdiam.
Kurang dari lima menit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Tok.
"Come in."
Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun memasuki ruangan.
"Good afternoon, Mr. Laurent."
"Good afternoon, Ms. Sonya. Silakan duduk."
Tatapan Sonya sempat beralih kepada Madeleine yang terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Namun ia memilih tetap diam.
Laurent mendorong sebuah map ke arah HR Manager tersebut.
"Tolong lihat riwayat evaluasi Madeleine selama tiga bulan terakhir."