Madeleine memejamkan mata perlahan. Ia masih mengingat hari-hari itu.
Hari yang tidak pernah ingin ia kenang lagi.
Ibunya lalu kembali berbicara.
"Setelah semuanya selesai..."
"...kami bertiga sepakat menghilang dari kehidupan satu sama lain."
"Mom juga minta kamu untuk tidak lagi saling menghubungi dengan Efren."
"Semuanya selesai di hari itu juga."
Suara perempuan itu terdengar datar.
"Mom melakukan semuanya demi kamu."
"Dan mereka melakukan demi nama keluarga Hayes tidak tercemar. Bukan untuk anaknya, apalagi memikirkan kamu!"
Madeleine menggigit bibir bawahnya.
Ibunya melanjutkan,
"Waktu itu, ayah dan ibu Efren juga bilang hal yang sama."
"'Biarkan semuanya berhenti sampai di sini.'"
"'Jangan ada lagi yang mengungkit apa pun.'"
"'Anggap semua ini tidak pernah terjadi.'"
Madeleine menggeleng pelan.
"Udah cukup, Mom."
Namun ibunya seolah tidak mendengar.
"Mereka memang menjaga nama keluarganya."
"Dan Mom menjaga kamu."
"Lalu setelah itu..."
"...kami semua menjalani hidup masing-masing. Termasuk kamu dan Efren!"
Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
Ibunya kemudian menatap Madeleine dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kalau hari ini kamu datang ke Efren..."
"...dia tetap tidak akan tahu apa pun."
"Karena dari dulu memang tidak pernah ada yang memberitahunya."
Madeleine perlahan mengangkat wajah. Air matanya kembali menggenang.
"Itu memang yang aku mau."
Ibunya mengernyit.
"Apa?"
"Aku gak pernah ingin Efren tahu."
Jawabannya singkat.
Tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.
"Aku juga gak pernah ingin dia merasa bertanggung jawab atas sesuatu yang bahkan dia gak pernah tahu."
Ibunya menghela napas kasar.
"Kamu masih membelanya?"
Madeleine menggeleng.
"Aku bukan membela siapa-siapa."
"Aku hanya menjaga apa yang dari dulu memang sudah diputuskan."
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Kalau selama bertahun-tahun semuanya berhasil disimpan..."
"...biarkan tetap seperti itu."
Ibunya tertawa pendek.
"Terus kamu mau bagaimana sekarang?"
"Mau cari kerja dari nol lagi?"
Madeleine mengangguk pelan.
"Iya."
"Dengan keadaan seperti sekarang?"
"Iya."
"Tanpa bantuan siapa pun?"
Madeleine menatap ibunya lurus-lurus.
"Kalau aku harus mulai lagi dari bawah..."
"...aku akan mulai lagi."
"Tapi bukan dengan mendatangi Efren."
Ia menarik napas panjang.
"Dan bukan dengan membuka lagi masa lalu yang selama ini susah payah kita kubur."
Ucapan itu membuat ibunya akhirnya terdiam.
Untuk beberapa saat...
Tidak ada lagi yang berbicara.
Hanya keheningan yang memenuhi kamar, sementara di antara keduanya tersimpan sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari lingkaran tiga orang dewasa... dan tidak pernah sampai ke telinga Efren.
"Tapi tidak ada salahnya apabila sekarang kamu datang kepadanya. Orang tuanya sudah tiada, tinggal dirinya sendiri. Dia hanya anak tunggal dan tidak punya siapa-siapa lagi kecuali saudara dari ibunya, Mom tahu semuanya!"
"Tidak!" Madeleine menatap tajam ibunya. "Mom salah! Dia masih punya adik sekarang, dia tidak benar-benar jadi anak tunggal sampai sekarang."
Ibunya mengernyit menatap Madeleine benar-benar, kepalanya sudah miring menatap putrinya itu. "Adik kamu bilang? Kamu ingin tahu sesuatu?"
Madeleine balas menatap ibunya lebih dalam, ia menunggu hal selanjutnya yang akan dikatakan ibunya.
"Memang tidak salah, aku punya anak terlalu bodoh sejak dulu. Masalah usia saja dia tidak bisa menghitung atau menaruh kecurigaan sedikit pun? Apabila Efren yang seperti itu, mungkin masih wajar karena tidak pernah ada yang memberitahunya," batin Catherine.
"Lupakan saja semuanya!" Catherine hendak berbalik. "Dan jangan lupa mencari pekerjaan lagi setelah ini, Madeleine!" Ia mulai melangkah meninggalkan kamar putrinya itu.
•••
Beberapa hari kemudian.
Setiap pagi, Madeleine keluar dari apartemen membawa map berisi curriculum vitae dan beberapa lembar dokumen pendukung.
Ia mendatangi satu perusahaan ke perusahaan lain.
Mengirim lamaran pekerjaan melalui online pun sudah dilakukan juga, seperti email.
Ia pulang dari perusahaan tersebut setelah melakukan wawancara dan berakhir... selalu mendapat jawaban yang sama.
"Kami akan menghubungi Anda kembali."
Namun telepon itu tidak pernah datang.
Dan kini... hampir satu bulan telah berlalu.
Madeleine kembali duduk di ruang tunggu sebuah perusahaan.
Seorang staf HR keluar sambil membawa sebuah map miliknya.
"Miss Madeleine."
Madeleine langsung berdiri.
"Terima kasih sudah datang."
Kalimat pembuka itu saja sudah cukup membuatnya mengerti.
"Kualifikasi Anda sebenarnya sangat baik."
"Tetapi..."
"...Anda tidak masuk dalam kandidat kami, karena kami mencari untuk posisi sebagai staf kreatif. Menurut kami, mohon maaf sepertinya dari gelar dan pengalaman Anda sangat jauh dari itu..."
Madeleine tersenyum tipis.
"Saya mengerti."
"Semoga sukses untuk proses berikutnya."
"Terima kasih."
Ia menerima kembali mapnya.
Lalu berjalan keluar gedung dengan langkah pelan.
Sore harinya.
Langit Manila mulai berubah jingga.
Madeleine duduk sendirian di bangku taman kota.
Map di pangkuannya semakin kusut karena terlalu sering dibuka dan ditutup.
Ia menatap daftar perusahaan yang sejak kemarin sudah ia beri tanda.
Satu per satu... semuanya sudah ia datangi.