Beberapa menit kemudian.
Pintu ruang Kerja President Director Hayes Group tertutup perlahan.
Madeleine berdiri beberapa langkah dari pintu, sementara Efren berjalan lebih dulu menuju meja kerjanya.
Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.
Dinding kaca memperlihatkan sebagian kota Manila dari ketinggian, sementara rak-rak berisi dokumen dan penghargaan memenuhi sisi ruangan.
Efren meletakkan map yang tadi dibawanya di atas meja.
"Duduk."
Madeleine mengangguk pelan.
"Terima kasih."
Ia duduk dengan posisi yang sedikit kaku, map berisi dokumen lamarannya masih dipeluk di atas pangkuan.
Efren yang sudah duduk di kursi komisaris itu memperhatikan wajah perempuan di depannya beberapa saat.
Wajah yang jauh lebih kurus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu waktu itu di sebuah kafe, dan... lingkar hitam di bawah matanya juga terlihat semakin jelas.
Akhirnya Efren membuka suara.
"...Jadi."
Madeleine mengangkat pandangan.
"Kamu datang ke sini untuk?"
Pertanyaan itu membuat Madeleine terdiam sesaat, ia berusaha menatap mata laki-laki itu.
"Aku dipecat dari perusahaan tempat kerjaku yang lama, Moreau."
Efren mengernyitkan dahi, sedetik kemudian ia memajukan kepala untuk lebih benar-benar menatap Madeleine.
"Dipecat?"
Madeleine menunduk.
"Jadi... kamu benar-benar sudah dipecat dari Moreau?"
Madeleine mengangguk pelan.
"...Iya."
Efren menyandarkan tubuhnya ke kursi, terlihat berpikir sejenak... lalu mengembuskan napas. Ia mengingat beberapa waktu lalu pertemuannya dengan Madeleine di sebuah kafe. Waktu itu... perempuan di depannya ini terlihat sangat menyedihkan.
Kini, dugaan yang sempat terlintas di kepalanya saat itu ternyata benar.
"Apa penyebabnya?"
Pertanyaan itu terdengar tenang, bukan menghakimi.
Madeleine terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Aku melakukan beberapa kesalahan."
Efren tetap menatapnya. "Kesalahan seperti apa?"
Madeleine menarik napas pelan. "Penjadwalan, administrasi, dan beberapa dokumen juga ada yang lolos tanpa sempat aku cek ulang." Ia tersenyum tipis. "Semuanya kelihatannya memang sepele. Tapi kalau dikumpulkan... akibatnya gak lagi sepele."
Efren masih diam.
Madeleine melanjutkan. "Perusahaan udah kasih aku kesempatan berkali-kali. Aku yang gak bisa memperbaikinya."
Ruangan kembali sunyi.
Efren menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Selama aku kenal kamu... kamu bukan orang yang ceroboh."
Madeleine menundukkan pandangan. "Mungkin sekarang aku jadi orang yang ceroboh."
Efren menggeleng pelan. "Orang bisa melakukan kesalahan. Tapi kamu bukan tipe yang terus mengulang kesalahan yang sama."
Tatapan Madeleine perlahan beralih ke arah jendela. "Aku juga gak pernah nyangka," jawabannya pelan.
Efren memperhatikannya beberapa detik. "Lalu? Ada sesuatu yang terjadi?"
Madeleine menghela napas pelan. "Ada."
"Kalau memang ada..." Efren berhenti sejenak. "...kenapa kamu gak minta cuti? Atau berhenti sebelum semuanya jadi seperti ini?"
Madeleine tersenyum hambar. "Karena aku merasa cuti dari pekerjaan hanyalah hal yang sia-sia dan buang-buang waktu, akan lebih baik aku melakukan rutinitas seperti biasa. Pikirku begitu."
Efren mengangkat kedua alis. "Tapi itu semua pada akhirnya lebih merugikan kamu, kan?"
Madeleine mengalihkan pandangan. "Aku tahu, aku sudah terlambat menyadari kalau kondisiku sudah tidak memungkinkan untuk tetap bekerja seperti biasanya."
Efren tidak lagi mengejar jawaban itu.
Ia bisa melihat sendiri bahwa Madeleine memang tidak ingin membahas lebih jauh.
Maka ia mengubah arah pembicaraan.
"Terus sekarang?"
Madeleine perlahan membuka map yang sejak tadi dipeluknya.
Ia mengeluarkan sebuah curriculum vitae beserta beberapa dokumen pendukung, lalu meletakkannya di atas meja Efren.
"Aku datang..."
"...untuk melamar kerja."
Efren melirik dokumen itu, lalu kembali menatap Madeleine.
"Aku tahu mungkin ini terdengar aneh, atau bahkan gak profesional. Tapi aku udah coba cari pekerjaan hampir satu bulan, dan hasilnya..." Ia tersenyum kecil. "...belum ada satu pun yang menerimaku."
Ruangan kembali hening.
Madeleine kembali membuka suara.
"Aku gak datang ke sini bukan karena masa lalu, apalagi diperlakukan berbeda. Aku hanya ingin meminta kesempatan... bila kamu berkenan."
Madeleine berhenti sesaat, ia menatap lantai. Sepuluh detik kemudian, ia mengangkat wajahnya kembali dan menatap Efren."
"Kalau memang di Hayes Group ada posisi yang sesuai dengan kemampuanku... aku ingin melamar secara baik-baik. Aku juga... tentu siap mengikuti proses apa pun yang berlaku di perusahaan ini."
Efren tidak langsung menjawab.
Tatapannya beralih pada curriculum vitae yang masih tergeletak di atas meja.
Lalu kembali kepada Madeleine.
"Jadi... hari ini kamu datang sebagai pelamar kerja?"
Madeleine mengangguk mantap. "Iya."
Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, Efren meraih curriculum vitae tersebut dan mulai membukanya satu per satu.
Tatapannya bergerak perlahan, membaca setiap baris tanpa terburu-buru.
Riwayat pendidikan.
Pengalaman kerja.
Pelatihan.
Sertifikasi.
Sesekali ia membalik halaman berikutnya.
Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
Madeleine hanya duduk diam.
"Kenapa selama hampir satu bulan gak ada perusahaan yang menerima kamu dan kenapa sekarang kamu memilih Hayes Group?"
Madeleine mengangkat wajahnya untuk berusaha menatap Efren yang tengah fokus memperhatikan curriculum vitae miliknya.
"Karena aku sudah gak punya pilihan lain, semuanya menolak aku. Sebagian bilang posisi yang mereka butuhkan gak sesuai pengalamanku, sebagian lagi... memilih kandidat lain, dan mungkin... pengalaman di perusahaan sebelumnya juga membuat mereka mempertimbangkan, aku sudah tidak di tempat lamaku karena dipecat."
Madeleine lalu menutup matanya sejenak, kemudian... kembali membukanya. "Maaf, Mr. Efren."
Efren yang tampak sedang membaca serius kemudian kepalanya sedikit terangkat, ia melirik Madeleine dengan satu alis yang terangkat naik.
"Ya?"
Madeleine mengangguk pelan.
"Mr. Efren?" Efren mengangguk beberapa kali. "Terdengar sangat profesional, Miss Madeleine."
Madeleine sempat terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia menarik napas pelan.
"Kita sedang berada di kantor." Jawabannya tenang. "Dan aku datang sebagai pelamar kerja."
"Jadi menurutku... memang seharusnya begitu."
Efren masih menatapnya beberapa saat, lalu... sudut bibirnya bisa Madeleine lihat terangkat tipis. "Aku gak bilang itu salah."
Madeleine mengangguk kecil. "Baik, Mr. Efren."
Efren menggeleng pelan sambil menutup curriculum vitae yang sejak tadi dibacanya.
"Kalau di luar jam kerja mungkin terasa aneh."
"Tapi untuk di ruangan ini... aku lebih memilih semua orang bersikap profesional."
Madeleine mengembuskan napas pelan.
"Itu juga yang aku pikirkan."
Ruangan kembali hening beberapa saat.
Efren kembali membuka curriculum vitae itu, kali ini lebih memperhatikan bagian pengalaman kerja.
"Hampir satu setengah tahun di Moreau sebagai Executive Secretary."
"Iya."
"Sebelumnya sempat beberapa bulan menjadi seorang Executive Assistant."
"Iya."
Efren mengangguk pelan.
"Pengalaman kamu sebenarnya cukup kuat."