Hari itu, Madeleine pulang ke apartemennya dengan langkah yang jauh lebih ringan dibandingkan saat berangkat tadi.
Meski belum ada kepastian...
Tidak seperti beberapa minggu terakhir yang selalu berakhir dengan penolakan.
Sesampainya di apartemen, Madeleine langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
Ia memejamkan mata sejenak.
Percakapannya dengan Efren kembali terlintas di benaknya.
"CV kamu gak akan berhenti di meja resepsionis."
Madeleine mengembuskan napas pelan.
"...Semoga saja benar."
Tak lama kemudian, ponselnya yang berada di samping bantal bergetar.
Ting.
Madeleine melirik sekilas.
Sebuah notifikasi email.
Awalnya ia mengira itu hanyalah email promosi atau balasan otomatis dari salah satu perusahaan yang pernah ia lamar.
Namun...
Saat matanya membaca nama pengirim...
Ia langsung duduk tegak.
Human Resources Department – Hayes Group.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"...Cepat banget. Aku gak salah?"
Gumamnya pelan.
Tanpa menunggu lebih lama, ia segera membuka email tersebut.
Matanya bergerak cepat membaca setiap baris.
Dear Miss Madeleine Rose,
Thank you for attending today's recruitment process at Hayes Group.
After completing the initial evaluation of your qualifications and interview, we are pleased to inform you that you have been selected to join Hayes Group.
Napas Madeleine seolah tertahan.
Matanya membulat.
Ia kembali membaca bagian itu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Takut kalau dirinya salah membaca.
Lalu pandangannya turun ke paragraf berikutnya.
You are expected to report to the Human Resources Division on Monday at 08.00 a.m. for employment administration, orientation, and placement briefing.
Air matanya tiba-tiba menggenang.
"...Aku..."
Suaranya nyaris tidak keluar.
"...Diterima."
Beberapa detik kemudian, air mata itu benar-benar jatuh.
Namun kali ini... bukan karena putus asa. Melainkan, karena lega.
Ia tertawa pelan di sela-sela isaknya.
"Akhirnya..."
"Akhirnya aku bakalan kerja lagi."
Selama hampir satu bulan...
Ia hidup dengan ketakutan.
Takut tidak mampu membayar apartemen, tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, dan tidak ada lagi perusahaan yang mau memberinya kesempatan.
Namun hari ini...
Ketakutan itu seolah sedikit demi sedikit mulai terangkat dari pundaknya.
Madeleine segera mengusap air matanya.
Lalu kembali membaca email tersebut dari awal.
"...Di luar ekspektasi aku, ini bahkan terlalu cepat. Baru tadi aku melamar, langsung diterima. Walaupun begitu, aku harus sangat bersyukur."
Keningnya perlahan berkerut.
Baru beberapa jam yang lalu ia datang ke Hayes Group.
Baru beberapa jam yang lalu pula ia bertemu Efren dan menjalani proses awal bersama HR.
Sekarang...
Surat penerimaan kerjanya sudah dikirim.
Madeleine kembali membaca isi email itu dengan lebih teliti.
Mulai dari nama pengirim.
Nomor referensi.
Sampai tanda tangan digital dari Human Resources Division.
Semuanya terlihat resmi.
Ia bahkan membuka lampiran surat keputusan yang disertakan.
Lengkap.
Tidak ada yang janggal.
Madeleine akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.
"...Mungkin..."
"...memang prosesnya cepat."
Lagi pula...
Semua yang dijelaskan HR tadi memang sudah dilakukan hari ini.
Verifikasi dokumen.
Pemeriksaan awal.
Wawancara singkat.
Kemungkinan besar...
Hayes Group memang sedang membutuhkan orang untuk mengisi posisi tersebut secepatnya.
Madeleine mengembuskan napas panjang.
Ia memilih untuk tidak berpikir terlalu jauh.
Yang terpenting sekarang...
Ia kembali memiliki pekerjaan.
Dan kali ini...
Ia berjanji dalam hati.
"Aku gak akan mengulang kesalahan yang sama."
"Kesempatan kedua ini gak akan aku sia-siakan lagi."
"Walaupun... kali ini aku hanya menjadi staf biasa."
•••
Malam harinya.
Sebuah restoran fine dining di kawasan pusat kota Manila tampak dipenuhi pengunjung.
Lampu-lampu gantung berwarna keemasan memantulkan cahaya hangat ke setiap sudut ruangan, sementara alunan musik piano terdengar mengiringi percakapan para pengunjung.
Di salah satu meja, Efren baru saja meletakkan gelas minumnya.
Di hadapannya, Chelsea sedang memotong steak di atas piringnya.
"Capek?"
Chelsea mengangkat kepal sambil tersenyum kecil.
"Harusnya aku yang nanya begitu."
Efren terkekeh pelan.
"Tapi banyak klien juga, kan?"
Chelsea mengangguk.
"Tadi ada salah satu calon kolektor yang mau lihat beberapa lukisan untuk pameran bulan depan. Ya... lumayan menyita waktu."
Efren mengangguk singkat.
"Terus gimana?"
Chelsea tersenyum puas.
"Sejauh ini berjalan baik. Lukisan utama juga kemungkinan besar sudah ada yang booking."