Sudah hampir tiga minggu sejak kejadian itu, hubungan Chelsea dan Efren perlahan berubah. Mereka masih kerap bertemu, dan tidak ada pertengkaran besar maupun saling membentak satu sama lain.
Malam itu... Efren mengajak Chelsea makan malam di sebuah restoran yang biasa mereka datangi.
Restoran itu tidak terlalu ramai, hanya terdengar suara musik piano pelan mengiringi percakapan para tamu.
"Chels." Efren membuka suara, sejak pertemuan mereka malam ini... baru kedua kalinya keheningan itu terhenti.
Chelsea mendongak. "Kenapa?"
Efren mengembuskan napas pelan sebelum menatap perempuan di hadapannya. "Kita udah hampir tiga tahun sama-sama."
Chelsea mengangguk kecil. "Iya."
Efren terdiam sejenak, seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat. "Kamu masih ingat... setahun yang lalu aku pernah datang ke rumah orang tua kamu?"
Chelsea mengangguk lagi. "Aku ingat."
"Aku datang waktu itu karena aku serius sama hubungan kita." Tatapan Efren tidak berpindah darinya. "Aku juga sempat tanya langsung ke kamu... apa kamu sudah siap kalau hubungan ini kita bawa ke tahap yang lebih serius. Menikah."
Chelsea perlahan menurunkan sendok yang sedari tadi dipegangnya. "Tentu aku masih ingat."
Chelsea tersenyum tipis. "Waktu itu..." Ia mengembuskan napas pelan. "Aku bilang belum siap."
Efren mengangguk kecil. "Iya. Dan aku gak pernah maksa kamu setelah itu."
Chelsea mengangkat pandangannya. "Aku tahu. Makanya aku selalu bersyukur kamu bisa ngertiin aku."
Efren tersenyum samar. "Aku berusaha untuk itu."
Keheningan kembali menyelimuti meja mereka. Pelayan datang mengisi ulang air minum, lalu pergi begitu saja tanpa mengganggu percakapan yang mulai terasa semakin berat.
Efren kembali membuka suara. "Chels."
"Hm?"
"Kalau aku tanya lagi sekarang... apa jawaban kamu masih sama?"
Chelsea tidak langsung menjawab, ia menatap gelas di depannya cukup lama dan jemarinya terlihat memutar pelan ujung sedotan tanpa sadar.
Beberapa detik berlalu, lalu ia mengangkat wajahnya.
"Iya."Jawaban itu terdengar pelan, namun cukup jelas. "Masih sama."
Efren tidak tampak terkejut, seolah memang itulah jawaban yang sudah ia perkirakan.
Chelsea buru-buru melanjutkan. "Bukan karena aku gak serius sama kamu. Aku serius, Fren. Aku juga sayang sama kamu. Tapi..." Ia menarik napas panjang. "Aku belum bisa membayangkan menikah sekarang. Aku masih pengin fokus sama pekerjaanku. Galeriku juga baru mulai berkembang. Aku masih banyak hal yang pengin aku kejar."
Ia tersenyum kecil. "Mungkin aku egois. Aku tahu itu, maaf."
Efren langsung menggeleng. "Bukan. Kamu cuma jujur."
Chelsea memandangnya.
"Aku gak pernah marah sama jawaban kamu, Chels. Karena dari awal aku tahu... orang gak bisa dipaksa siap. Tapi..." Efren berhenti sejenak. "Aku juga harus jujur sama kamu."
Chelsea mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia menunggu kalimat selanjutnya yang akan Efren ucapkan.
"Aku capek pulang ke rumah."
Chelsea mengernyit pelan.
"Bukan capek karena kerja, atau pun sekadar rapat." Efren tersenyum hambar. "Tapi capek karena di rumah aku sekarang terasa sangat kosong."
Chelsea hanya diam.
"Kamu tahu... kalau selama setahun terakhir Nadien tinggal sama Aunty Mireya.
Chelsea mendengarkan baik-baik laki-laki itu berbicara.
"Aku memang bisa datang kapan aja, ketemu dia kapan pun aku mau. Tapi tetap aja beda, beda sama waktu dia masih pulang ke rumah." Efren menatap kosong ke arah jendela restoran, ia mengembuskan napas. "Kadang aku pulang malam. Masuk rumah, dan... semuanya terasa sunyi. Gak ada suara dia manggil aku."
Hal-hal sederhana itu justru membuat suara Efren semakin pelan. "Aku kangen dia, itu jelas."
Chelsea merasakan dadanya ikut sesak.
Ia tahu... Efren memang sangat menyayangi Nadien.
"Dua minggu lalu..." lanjut Efren, "aku sempat ngobrol lagi sama Aunty Mireya."
Chelsea memperhatikannya.
"Beliau bilang..." Efren menghentikan bicaranya, ia menatap Chelsea. "Kamu juga sudah tahu ini sebelumnya... aku pernah bilang, dan maaf Chels, aku mengulangnya."
"'Kalau kamu memang ingin Nadien tinggal lagi sama kamu, kamu juga harus mulai memikirkan kehidupanmu sendiri.'" Efren tersenyum tipis. Beliau gak pernah melarang. Tapi beliau juga khawatir, karena aku kerja dari pagi... kadang sampai larut malam. Aku masih hidup sendiri sampai sekarang. Nadien masih juga kecil." Ia kembali menghela napas sebelum melanjutkan lagi. "Dan dia butuh lebih dari sekadar kakak."
Chelsea perlahan menundukkan pandangan.
Ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan itu.