Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #19

19. Penawaran jabatan

Beberapa hari kemudian...


Sejak pagi, Madeleine berusaha memusatkan pikirannya pada pekerjaan.


Laporan demi laporan ia periksa dengan teliti, berusaha mengabaikan bisik-bisik yang masih sesekali terdengar setiap kali ia melewati lorong kantor.


Untungnya... dalam tiga minggu terakhir, Efren hampir tidak pernah lagi memanggilnya secara langsung.


Kalaupun ada revisi, semuanya disampaikan melalui Division Manager.


Madeleine sempat berpikir... mungkin setelah kejadian hari itu, Efren akhirnya menyadari bahwa menjaga jarak adalah keputusan yang paling tepat.


Setidaknya... itulah yang ia harapkan.


Tok.


Tok.


Suara ketukan pelan terdengar di meja kerjanya.


Madeleine mendongak.


Arthur berdiri di depannya dengan eskpresi yang seperti biasa sulit ditebak.


"Miss. Madeleine."


"Iya, Mr. Arthur?"


"Mr. Efren meminta Anda ke ruangannya."


Madeleine membeku, baru saja ia merasa untung tak pernah lagi disuruh datang langsung ke ruangan mantan kekasihnya itu semasa dulu.


"...Sekarang?"


Arthur mengangguk. "Iya."


Beberapa detik Madeleine tidak menjawab, tatapannya perlahan berpindah pada seorang division managernya yang terlihat sedang berdiskusi dengan salah satu supervisior di ujung ruangan.


Arthur seolah mengerti isi pikirannya. "Mr. Louis sudah mengetahui."


Madeleine mengembuskan napas pelan. "...Baik."


•••


Beberapa menit kemudian...


Madeleine berdiri di depan pintu ruangan President Director. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu itu, namun... entah kenapa ia justru mengurungkannya. 


Ia menarik napas panjang terlebih dahulu, sebelum kemudian...


Tok.


Tok.


Madeleine membuka pintu.


Ruangan itu masih sama seperti biasanya, saat terakhir kali dirinya datang ke ruangan ini.


Efren sedang duduk di kursi besar miliknya di ruangan itu, sambil membaca beberapa lembar dokumen.


Begitu melihat Madeleine masuk, ia langsung menutup berkas itu dan kini... perhatiannya teralih pada perempuan yang perlahan mendekat ke arahnya.


"Silakan duduk."


Namun bukannya duduk, Madeleine malah tetap berdiri di depan meja itu sambil sedikit membungkuk. "Saya lebih nyaman berdiri, Sir. Dan ada yang ingin saya bicarakan terlebih dahulu." Nada suaranya tetap sopan.


Efren mengernyit, namun setelahnya mengangguk pelan. "Silakan."


Madeleine menarik napas dalam. "Maaf kalau saya lancang. Tapi saya benar-benar ingin bertanya."


Efren menatapnya tanpa menyela. 


"Kenapa saya terus dipanggil ke ruangan ini?"


Ruangan langsung hening.


Madeleine melanjutkan. "Dan maaf... sebelumnya saya juga pernah bekerja di perusahaan lain, dan beberapa perusahaan juga saya ketahui hampir tidak pernah ada staf yang berhubungan langsung dengan President Director sesering ini." Ia berhenti sejenak. "Jika memang ada revisi, biasanya melalui Division Manager, atau meeting bersama jika sedang diadakan, atau jika tidak... minimal melalui kepala tim." 


Tatapannya bertemu dengan Efren. "Tapi kenapa saya berbeda?"


Efren hendak membuka mulut, namun Madeleine kembali berbicara.


"Dan jangan jawab karena lebih efisien, saya sudah mendengar itu tiga minggu yang lalu. Setahu saya... sejak saya masuk ke sini, hanya saya seorang staf biasa yang terus Anda panggil ke ruangan ini. Saya banyak melakukan kesalahan? Jika memang iya, seharusnya Anda sejak awal sudah menyampaikan kesalahan-kesalahan saya yang mungkin kurang berkenan bagi Anda, Sir. Bukan malah seperti ini, yang bisa saja berujung membuat kesalahpahaman."


Kalimat itu membuat Efren terdiam, 


Madeleine mengembuskan napas pelan. "Saya benar-benar ingin menghindari kesalahpahaman. Saya pikir... setelah kejadian itu, semuanya akan kembali seperti biasa. Nyatanya, sekarang saya dipanggil lagi." Ia menggeleng pelan. "Jujur saja, saya bingung. Karena saya bukan seorang manager atau pun kepala divisi, bahkan keputusan-keputusan yang saya kerjakan tetap harus melewati persetujuan Mr. Louis. Jadi sebenarnya... kenapa harus saya?"


Efren memandang perempuan di depannya cukup lama, lalu akhirnya menjawab pelan.


"Karena laporan yang kamu kerjakan memang sedang langsung aku review, Madeleine."


Madeleine langsung menggeleng. "Tidak, Mr. Efren yang terhormat. Itu tetap bisa lewat Mr. Louis selaku Division Manager divisi saya."


Efren terdiam.


"Kalau memang ada bagian yang kurang, Sir bisa panggil beliau. Beliau yang akan menyampaikan ke saya, itu prosedurnya." Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini sudah terdengar jelas bahwa ia sedang menahan sesuatu. "Saya bukan mengajari atau pun ada niat buruk, saya hanya menyampaikan yang saya ketahui dan tentu saya ingin tahu alasan Anda yang cukup bisa menjawab pertanyaan saya tersebut."


"Saya juga tidak ingin menjadi bahan pembicaraan lagi."


Efren menghela napas. "Mereka masih membicarakan itu?"


Madeleine masih menatap Efren. "Sir... Orang kantor itu tidak pernah benar-benar diam akan suatu hal, contohnya membicarakan seseorang seperti bergosip. Sekalipun mereka tidak mengatakannya di depan saya, namun saya tetap bisa merasakan cara mereka menatap."


Ruangan kembali sunyi.


Madeleine menatap Efren lurus. "Dan setelah Miss Chelsea datang ke ruangan ini waktu itu... keadaan justru semakin sulit."


Nama itu membuat tatapan Efren sedikit berubah, dan Madeleine tidak menyadarinya.


"Saya tidak tahu hubungan Sir dengan Miss Chelsea sekarang bagaimana, dan itu bukan urusan saya. Tapi..." Ia menarik napas panjang. "Apa Sir tidak takut bila beliau nanti akan salah paham lagi?"


Efren tetap diam, lalu Madeleine kembali melanjutkan. "Kalau saya jadi beliau... mungkin saya juga akan mempertanyakan banyak hal."


Efren perlahan mengangkat kepala. "Maksudmu?"


Madeleine tersenyum tipis. "Bagaimanapun, kita pernah memiliki masa lalu. Dan... kekasih Anda sekarang, Miss Chelsea sudah tahu tentang itu karena Anda yang waktu itu juga menjawab dengan jujur dan... itu di depan mata saya. Saya tidak lupa akan itu, Sir." Ia lalu kembali menarik napas dan membuangnya pelan. "Saya sekarang bekerja di perusahaan ini, yang tak lain di bawah tangan Anda. Lalu saya beberapa kali dipanggil ke ruangan ini. Saya rasa... orang mana pun akan berpikir macam-macam."


Madeleine berhenti beberapa detik. "Bahkan kalau tidak terjadi apa-apa." Kalimat itu terasa menusuk, karena itulah yang sebenarnya terjadi. Memang tidak ada apa-apa, namun semuanya sudah terlanjur terlihat berbeda. "Saya tidak mau jadi penyebab hubungan orang lain bermasalah."


Lihat selengkapnya