Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #20

20. Di antara profesionalisme.

Beberapa hari setelah percakapan terakhirnya dengan Efren, galeri seni milik Chelsea tetap buka seperti biasa. 


Pagi itu beberapa pengunjung silih berganti masuk, menikmati lukisan-lukisan yang berjajar rapi di setiap dinding. Musik instrumental mengalun pelan, menciptakan suasana tenang yang biasanya sangat Chelsea sukai.


Namun hari itu... Chelsea hanya duduk diam di balik meja kerjanya. Di depannya terbuka sebuah katalog pameran, tetapi sejak lima belas menit yang lalu halaman yang sama bahkan belum juga ia balik.


Tatapannya kosong, entah sedang melihat tulisan di hadapannya... atau justru tidak melihat apa-apa sama sekali.


"Miss Chelsea?"


Suara pelan itu membuat Chelsea sedikit tersentak, ia langsung mengangkat kepalanya.


Seorang karyawan galerinya, Alya, berdiri sambil membawa beberapa berkas.


"Eh..." Chelsea berkedip beberapa kali. "Iya?"


Alya tersenyum kecil. "Maaf ganggu."


"Gak apa-apa."


Alya menyerahkan map di tangannya. "Ini proposal kerja sama dari komunitas seni yang kemarin sempat menghubungi kita. Tinggal menunggu persetujuan Miss saja."


Chelsea menerimanya. "Oh... iya." Ia membuka map itu sekilas, namun lagi-lagi... tatapannya berhenti di halaman pertama tanpa benar-benar membaca isinya.


Alya memperhatikan itu beberapa detik. "Miss?"


"Hm?"


"...Miss baik-baik aja?"


Chelsea langsung tersenyum refleks. "Iya. Jawaban yang terlalu cepat.


Alya justru semakin ragu. "Miss yakin?"


Chelsea terkekeh pelan, berusaha terdengar biasa. "Kenapa nanya begitu?"


"Soalnya..." Alya terlihat sedikit sungkan. "Beberapa hari ini Miss kelihatan beda."


Chelsea terdiam. "Beda gimana?"


"Lebih sering melamun."


Chelsea tersenyum tipis. "Masa?"


"Iya." Alya mengangguk pelan. "Tadi pagi saya sampai manggil Miss dua kali."


Chelsea baru menyadari. "...Oh ya?"


"Iya."


Chelsea menundukkan pandangannya. "Maaf."


Alya buru-buru menggeleng. "Bukan itu maksud saya."


Ruangan kembali hening beberapa saat.


Alya kemudian berkata pelan. "Kalau memang lagi ada masalah... semoga cepat selesai ya, Miss."


Chelsea tersenyum kecil. "Terima kasih."


"Tapi..." Alya kembali berkata hati-hati. "Jangan dipendem sendirian."


Kalimat sederhana itu justru membuat dada Chelsea terasa sesak.


Ia hanya mengangguk. "Nanti juga membaik."


Alya membalas senyum tipis sebelum akhirnya kembali ke area depan galeri.


Chelsea kembali sendirian.


Ia memandang proposal di tangannya, lalu perlahan menutup map itu tanpa sempat membaca satu halaman pun.


Tangannya bergerak mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping laptop.


Layar menyala.


Tidak ada pesan baru.


Tanpa sadar, ibu jarinya membuka ruang obrolan dengan nama yang sudah hampir tiga tahun menjadi bagian dari hari-harinya.


Efren.


Percakapan terakhir mereka masih berada di sana.


Tidak ada pertengkaran, maupun kata-kata kasar.


Hanya beberapa pesan singkat setelah malam itu.


"Hati-hati di jalan."


"Terima kasih untuk semuanya, Chels."


"Jaga kesehatan."


Chelsea menatap tiga kalimat itu cukup lama.


Biasanya... di jam seperti ini Efren akan mengirim pesan.


"Udah makan belum?"


Atau...


"Jangan lupa istirahat."


Kadang hanya foto secangkir kopi di ruang kerjanya, disertai kalimat singkat yang selalu berhasil membuat Chelsea tersenyum.


Namun beberapa hari ini... tidak ada apa-apa. Dan untuk ke sekian kalinya... Chelsea sadar bahwa tidak akan ada lagi pesan-pesan seperti itu.


Dadanya mendadak terasa kosong.


Ia menghela napas pelan, lalu mengunci layar ponselnya.


Namun baru beberapa detik kemudian... ponsel itu kembali bergetar.


Chelsea refleks mengambilnya.


Jantungnya sempat berdegup sedikit lebih cepat.


Namun senyum tipis yang nyaris muncul itu perlahan memudar saat melihat nama yang muncul di layar.


Ibu.


Chelsea memandang nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengusap cepat sudut matanya.


Ia menarik napas panjang, merapikan suaranya yang mulai serak.


Lihat selengkapnya