Satu minggu kemudian...
Pagi itu, Madeleine berdiri cukup lama di depan pintu ruang President Director.
Tangannya menggenggam map tipis berisi surat keputusan yang diberikan bagian Human Resources. Jemarinya sedikit mengencang sebelum akhirnya ia menarik napas panjang.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Suara Efren terdengar dari dalam.
Madeleine membuka pintu perlahan.
Seperti biasa, Efren duduk di kursi besar itu sambil berbicara melalui sambungan telepon. Mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh sekilas.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Efren mengangguk kecil, memberi isyarat agar Madeleine menunggu.
Madeleine membalas anggukan itu, lalu berdiri tenang di dekat pintu tanpa mengganggu.
"...Baik. Saya tunggu kabar baiknya sore ini."
Klik.
Telepon tertutup.
Efren meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap Madeleine. "Kamu datang."
Madeleine mengangguk pelan. "Iya, Sir."
"Silakan duduk."
Kali ini Madeleine tidak menolak, ia duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Efren.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Madeleine tampak menarik napas sebelum akhirnya mengangkat wajah.
"Saya sudah memikirkan tawaran Sir."
Efren hanya menatapnya tanpa menyela.
"Saya sudah mempertimbangkannya selama beberapa hari ini." Madeleine berhenti sejenak. "...Lalu saya juga memikirkan semua risiko dan tanggung jawabnya."
Efren masih diam.
"Saya tetap memiliki kekhawatiran yang sama seperti sebelumnya." Madeleine tersenyum tipis, namun senyum itu lebih terlihat sebagai bentuk kegugupan. "Tapi..."
Ia mengembuskan napas perlahan. "Kalau memang keputusan ini benar-benar murni berdasarkan kemampuan kerja saya... dan memang perusahaan membutuhkan seseorang untuk mengisi posisi itu..." ia menatap Efren lurus. "Maka saya menerima tawaran tersebut."
Ruangan mendadak sunyi, sampai beberapa detik kemudian Efren sama sekali belum juga bergerak seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.
"...Kamu yakin?"
Madeleine mengangguk. "Iya. Saya akan mencoba menjalankan tanggung jawab itu sebaik mungkin."
Baru kali itu sudut bibir Efren terangkat membentuk senyum yang sangat tipis.
"Hm." Hanya gumaman pendek, namun entah mengapa... wajahnya terlihat jauh lebih lega. "Baik."
Efren mengambil map yang berada di samping meja. "Mulai hari Senin depan kamu akan mulai transisi bersama Arthur, dan selama dua minggu dia akan mendampingi kamu."
"Semua jadwal, administrasi, direksi, korespondensi, sampai sistem kerja akan dia jelaskan satu per satu."
Madeleine mengangguk sambil mencatat dalam pikirannya. "Baik, Sir."
"Kalau ada yang belum dipahami, langsung ditanyakan."
"Iya."
Efren kembali membuka beberapa lembar dokumen. "Nanti HR juga akan mengurus perubahan jabatan, penyesuaian gaji, fasilitas kerja, dan kontrak barumu."
Madeleine kembali mengangguk. "Terima kasih."
Efren menatapnya lagi. "Justru aku yang berterima kasih."
Madeleine terlihat sedikit bingung.
"Karena akhirnya kamu bersedia mempertimbangkan kemampuanmu sendiri, Madeleine."
Kalimat itu membuat Madeleine terdiam beberapa detik, lalu... ia hanya mengangguk kecil.
"Aku harap keputusan ini tidak membuatmu menyesal."
Madeleine tersenyum tipis. "Saya juga berharap begitu."
Efren tersenyum kecil. "Lalu..." Nada suaranya kembali berubah menjadi profesional. "Mulai sekarang, ada satu hal yang perlu kita sepakati."
Madeleine memperhatikan.
"Di kantor... hubungan kita hanya sebatas President Director dan Executive Secretary. Tidak lebih."
Madeleine langsung mengangguk tanpa ragu. "Itu juga yang saya inginkan."
Efren mengangguk pelan. "Bagus."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan beberapa saat.
Madeleine berdiri dari duduknya. "Kalau begitu saya permisi, Sir."
Efren mengangguk. "Silakan."
Madeleine membukukan badan singkat sebelum berbalik menuju pintu.
Baru saja pintu tertutup...
Klik.
Ruangan kembali sunyi.
Efren tetap berdiri memandang pintu yang baru saja ditutup Madeleine.
Beberapa detik... tanpa sadar ia mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya.
Sudut bibirnya terangkat pelan, sangat tipis. "...Akhirnya."
Ia menundukkan kepala sambil terkekeh seorang diri.
"Terima kasih sudah menerima, Madeleine. Karena di balik itu, jika kamu tidak menerima posisi ini aku juga tidak akan menggantikan posisi Arthur dan juga... mungkin aku akan memaksamu untuk menerima," Kalimat itu keluar pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya didengar dirinya sendiri dan tatapannya mengarah ke pintu seolah melihat Madeleine.
Beberapa saat kemudian, ia meraih ponselnya. Jemarinya mengetik sebuah pesan singkat.
Arthur.
Madeleine sudah menerima. Mulai Senin, lakukan handover sesuai jadwal yang kita susun.
Tak sampai satu menit kemudian balasan masuk.
Baik, Sir. Saya akan mulai menyiapkan semuanya.
Efren meletakkan kembali ponselnya.
Bertahun-tahun ia memaksa dirinya melupakan Madeleine dan menganggap perempuan itu hanya sebuah bagian dari masa lalu, dan bertahun-tahun pula ia belajar menerima kenyataan bahwa perempuan itu mungkin tidak akan pernah kembali menjadi bagian dari hidupnya.
•••
Hari Senin pun tiba.
Untuk pertama kalinya, Madeleine tidak lagi berjalan menuju lantai tempat divisinya berada.
Pagi itu, ia justru berhenti di depan meja resepsionis lantai direksi.
Beberapa karyawan yang kebetulan berada di sana menyapanya ramah.
"Selamat pagi, Miss Madeleine."
"Selamat pagi."
Madeleine membalas senyum mereka, meski masih terasa sedikit canggung.
Tak lama kemudian, Arthur keluar dari area sekretariat sambil membawa sebuah tablet.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Mr. Arthur."
Arthur mengangguk kecil.
"Hari ini kita mulai."
"Iya."
Arthur mempersilakan Madeleine masuk ke area sekretariat President Director.
Ruangan itu jauh lebih tenang dibandingkan area kerja divisi lain.
Di sana hanya terdapat beberapa meja kerja milik sekretaris direksi, lemari arsip digital, ruang kecil untuk koordinasi, serta akses langsung menuju ruang kerja President Director.
Arthur berhenti di salah satu meja.
"Mulai hari ini, ini meja kerja Anda."
Madeleine memperhatikan meja yang sudah tertata rapi.
Di atasnya sudah tersedia laptop perusahaan, tablet kerja, telepon internal, beberapa map berlabel, serta sebuah agenda kulit berwarna hitam.