Malam itu, langit Manila mulai dipenuhi warna jingga yang perlahan berubah gelap.
Chelsea berdiri cukup lama di dalam mobilnya yang terparkir di seberang gedung pusat Hayes Group.
Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari pintu lobi utama, dan sudah hampir tiga puluh menit ia menunggu.
Entah untuk apa. Mungkin... hanya ingin memastikan sendiri sesuatu yang sejak siang terus memenuhi kepalanya.
Beberapa menit kemudian... pintu lobi otomatis terbuka, yang satu per satu karyawan mulai keluar.
Chelsea memperhatikan setiap wajah yang melintas. Hingga akhirnya... ia melihat Efren.
Laki-laki itu keluar bersama beberapa jajaran direksi. Mereka masih membicarakan sesuatu sambil berjalan menuju area parkir.
Chelsea menggenggam setir mobilnya semakin erat.
Begitu rombongan itu mulai berpencar, ia segera turun dari mobil.
"Efren."
Suara itu membuat langkah Efren terhenti, ia menoleh. Begitu melihat Chelsea berdiri beberapa meter darinya, alisnya sedikit bertaut.
"...Chelsea?"
Chelsea berjalan mendekat dengan wajah yang terlihat tenang, bahkan terlalu tenang. "Kamu waktu sebentar?"
Efren memperhatikan raut wajahnya beberapa detik, lalu mengangguk. "...Ada." Ia menoleh kepada salah seorang direksi. "Silakan duluan."
"Baik, Sir."
Beberapa saat kemudian... area parkir mulai sepi, dan hanya tinggal mereka berdua.
Efren mengedarkan pandangan, lalu menatap Chelsea. "Mungkin lebih baik bicara di ruanganku."
Chelsea diam mematung, dengan Efren yang masih menatapnya.
"Mau ke ruanganku? Atau tetap di sini dan nanti menjadi bahan tontonan orang yang lewat?" Efren menaikkan kedua alisnya.
Beberapa detik kemudian, Chelsea terdengar menghela napas, dan selanjutnya... ia mengangguk.
"Ayo." Efren berbalik badan lebih dulu, dan... Chelsea mengikuti di belakangnya.
Beberapa menit berlalu, kini mereka sudah berada di depan ruangan Efren.
Sejak tadi, tentu karyawan yang melihat mereka tampak menyapa dengan sopan.
Klik.
Pintu terbuka, Efren lebih dulu masuk ke sana.
Di dalam ruangan yang terasa lebih dingin dari di luar, Efren maju lebih dulu.
Efren memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Kamu mau bicara apa?"
Chelsea tidak langsung menjawab, ia hanya menatap wajah laki-laki di depannya cukup lama.
Tatapan yang membuat Efren mulai merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
"Aku lihat pengumuman perusahaan kamu."
Efren mengangguk kecil.
"...Tentang Madeleine."
"Iya."
Chelsea tersenyum tipis.
"Dan aku lihat, sekarang dia menjadi Executive Secretary kamu. Yang artinya... menggantikan Arthur?"
Efren mengangguk. "Iya."
"Lalu?"
Efren mengernyit pelan. "Lalu apa?"
Chelsea tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti seseorang yang sedang menahan kecewa. "Aku cuma mau memastikan."
"Memastikan apa?"
Chelsea menatapnya lurus. "Semua yang dulu kamu bilang ke aku."
Efren terdiam.
Chelsea melanjutkan pelan. "Kamu bilang hubungan kalian hanya sebatas pekerjaan, gak ada kaitannya dengan masa lalu, dan keputusan apa pun yang kamu ambil murni profesional."
Efren mengangguk pelan. "Benar."
Chelsea kembali tersenyum. "Apa kamu masih bisa bilang begitu sekarang?"
Efren mulai memahami arah pembicaraan itu. "Tentu masih, Chels. Maksud kamu apa?"
Jawaban singkat itu justru membuat Chelsea menggeleng pelan.
"Waktu itu, aku benar-benar berusaha percaya sama kamu."
Efren tidak menyela.
"Tapi semakin aku pikir..." Chelsea menarik napas panjang. "Semuanya malah semakin masuk akal."
"Apa sebenarnya maksud kamu?"
Chelsea menatapnya tanpa berkedip. "Selama ini kamu bohong."
Rahang Efren sedikit mengeras. "Chelsea."
"Gak menutup kemungkinan kalau sebenarnya... kamu mutusin aku karena udah ada dia."
Kalimat itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan.
Efren langsung menggeleng. "Tidak sama sekali, Chels."
Chelsea terkekeh pelan. "Sayangnya aku udah gak bisa pegang omongan kamu, kamu juga sudah mengakhiri semuanya. Kamu masih mau menyangkal?"