Dua bulan kemudian...
Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang disadari siapa pun.
Masa pendampingan Arthur untuk Madeleine sebagai pengganti dari jabatan executive secretary tentu telah lama selesai.
Kini, seluruh agenda President Director sepenuhnya berada di tangan Madeleine.
Pukul 07.15 pagi.
Madeleine sudah berada di meja kerjanya.
Seperti rutinitas setiap hari, ia lebih dulu membuka kalender digital President Director, mengecek perubahan jadwal yang masuk semalam, memastikan seluruh dokumen rapat sudah berada di urutan yang benar, lalu mengirimkan agenda singkat kepada Efren.
Tak lama kemudian, pintu lift direksi terbuka.
"Selamat pagi, Sir."
"Selamat pagi."
Efren hanya mengangguk tipis sambil menerima tablet yang sudah disodorkan Madeleine.
"Meeting pertama dimajukan lima belas menit."
"Oke."
"Proposal dari divisi properti juga sudah saya revisi sesuai arahan Anda kemarin."
"Bagus."
Percakapan mereka singkat, efisien, dan tentunya profesional. Begitulah yang terjadi di setiap pagi.
Namun... semakin lama bekerja bersama, semakin banyak kebiasaan kecil yang bisa muncul begitu saja tanpa direncanakan atau pun disadari.
Di suatu siang... Efren baru keluar dari rapat hampir dua jam tanpa jeda.
Begitu memasuki ruangannya, ia langsung membuka beberapa dokumen baru.
Belum lima menit kemudian...
Tok.
Tok.
"Masuk."
Madeleine masuk membawa secangkir kopi hitam dan segelas air putih. "Kopi, Sir."
Efren mengangkat kepala. "Aku tidak pesan."
"Saya tahu." Madeleine meletakkan cangkir itu di sisi meja. "Tapi dari tadi Sir belum sempat keluar ruangan sama sekali."
Efren terdiam beberapa detik. "...Terima kasih."
"Sama-sama." Madeleine kembali keluar.
Percakapan itu hanya berlangsung kurang dari satu menit.
Namun ketika pintu tertutup... Efren tanpa sadar tersenyum kecil sebelum akhirnya meraih kopi itu.
"Kalau perasaan aku masih sama seperti dulu, kamu akan marah atau justru sebaliknya, Ne? Aku selalu sadar, kalau ternyata setelah bertahun-tahun pun... tetap kamu yang aku cintai. Walaupun sejauh apa pun aku berusaha membuang perasaan itu dan membohongi diriku sendiri selama ini."
Efren hanya berbicara dalam hati, ia mulai meminum kopi yang barusan Madeleine bawakan.
Ia mengangguk pelan beberapa kali dengan matanya yang kini kembali menatap dokumen-dokumen, bayangan wajah Chelsea perlahan menyeruak di ingatannya.
"Maaf, Chels. Aku tidak pernah ingin membohongi kamu, tapi kenyataannya aku juga membohongi diriku sendiri. Tidak mungkin aku berkata jujur, aku tidak ingin melukai siapa pun. Bagaimana pun selama ini aku sudah memulai dengan kamu, tapi tidak juga bermaksud menganggap hubunganku dan kamu selama tiga tahun adalah pelarian dari perasaanku terhadap Madeleine."
•••
Di hari lain...
Rapat direksi baru selesai menjelang pukul sembilan malam.
Semua orang terlihat lelah.
Madeleine masih sibuk mengumpulkan notulen dan dokumen yang berserakan di meja.
Efren yang sudah berjalan beberapa langkah mendadak berhenti.
"Madeleine."
"Iya, Sir?"
"Kamu sudah makan malam?"
Madeleine tampak berpikir sebentar. "...Belum."
Efren mengangguk pelan. "Pesan makanan dulu."
Madeleine tersenyum kecil. "Nanti saja setelah semua beres."
"Itu perintah."
Madeleine berkedip pelan. "...Baik, Sir."
Beberapa direksi yang masih berada di ruangan itu saling melirik sekilas, kemudian salah satunya bahkan berbisik pelan kepada rekannya.
"Mr. Efren sekarang mulai memperhatikan sekretarisnya juga."
Teman di sampingnya langsung mengangguk sangat pelan. "Padahal dulu waktu masih bersama Mr. Arthur, sepertinya Mr. Efren tidak sampai segitunya seperti sekarang ke Ms. Madeleine."
"Namanya juga mantan pacar, rumornya kan begitu."
Hingga sesaat kemudian, Efren yang baru saja sibuk memperhatikan laptop milik Madeleine di sampingnya menjadi melirik ke arah dua karyawan yang barusan saja berbisik-bisik.
"Kalian bisik-bisik apa? Tidak sekalian saja si aula? Biar semuanya bisa dengar, termasuk saya."
Kalimat itu terdengar pelan namun tegas dengan suaranya yang seperti biasa selembut sutra, namun sungguh seketika membuat dua karyawan itu terdiam bagai bongkahan es.
"Maaf, Sir."
"Kami hanya membicarakan akan makan apa setelah pulang nanti."
Keduanya tertunduk dengan raut wajah yang sudah pucat pasi.
Madeleine melirik Efren yang berada di sampingnya, tentu ia juga merasa seram melihat Efren seperti itu dan tidak berani bergerak—sama seperti yang lain.
Suasana di ruangan itu seketika sangat hening.
"Sepertinya cukup. Kalau begitu, mari kita keluar dari ruangan ini," ucapnya pada Madeleine.
Efren berdiri lebih dulu, ia membenarkan jasnya yang sedikit kusut karena duduk dalam waktu lumayan lama. Setelahnya, melangkah meninggalkan ruangan itu.
Sementara Madeleine sendiri, dengan gerakan cepatnya seperti biasa ketika sedang menjadi executive secretary... ia membereskan seluruh barang bawaannya beserta persiapan rapat, setelahnya segera mengikuti Efren yang sudah lebih dulu keluar dari ruang rapat.
Tanpa Madeleine duga, pria itu kini berdiri di depan pintu lift. Ia yang baru keluar dari ruang rapat sambil membawa laptop di tangannya, dan beberapa perintilan lain pun juga melangkah menuju pintu lift itu.
Seakan menyadari kedatangannya, Efren seketika menoleh dan menatapnya.
"Sir masih di sini." Madeleine berusaha profesional, ia sekadar menyapa untuk basa-basi agar terlihat lebih pantas karena mereka juga akan naik di satu lift yang sama.
Efren menatap sekretarisnya itu dari bawah sampai atas, seperti memperhatikan. Lalu... tatapannya kini di mata Madeleine, alisnya terangkat naik satu.