Beberapa hari kemudian...
Suasana di lantai eksekutif Hayes Group masih sibuk seperti biasanya.
Di siang hari menuju sore.
Di ruang rapat utama, para direksi dan kepala divisi masih membahas proyek investasi yang diperkirakan baru akan selesai satu jam lagi.
Madeleine duduk di sisi kanan Efren seperti biasa.
Tablet di tangannya terbuka, sesekali ia mencatat poin-poin penting yang perlu ditindaklanjuti setelah rapat berakhir.
Di tengah pembahasan, layar ponsel Efren yang berada di sampingnya bergetar pelan.
Sesaat kemudian, ia mendekat untuk berbisik ke Madeleine. "Aku lupa, hari ini adik aku datang ke sini karena aku janji mau ketemu dia. Kalau kamu tidak keberatan..." suaranya Efren sedikit melunak. "Temani dia sebentar sampai meeting selesai."
Madeleine mengangguk. "Oke, Sir." Ia belum akan beranjak, lalu berbisik kembali. "Sir tidak apa-apa sendiri?"
Efren yang sudah kembali fokus dengan rapat pun langsung mengangguk, lalu Madeleine beranjak dan keluar dari ruang rapat itu.
Lift berhenti di lantai dasar.
Begitu pintunya terbuka, Madeleine langsung mengedarkan pandangan ke seluruh lobby.
Tak butuh waktu lama, ia melihat seorang anak perempuan kecil berseragam sekolah dasar berdiri dengan seorang sopir berada di sampingnya.
Anak itu tampak cantik dengan rambut yang dikepang dua dan satu jepit lucu berwarna pink.
Matanya sejak tadi mengedarkan pandangan seperti mencari sesuatu, dan di detik berikutnya... Madeleine langsung menghampirinya.
Ia berjalan menghampiri dengan senyum hangat. "Halo."
Anak kecil itu mendongak, ia tersenyum dengan mata yang tampak berbinar.
"Nadien ya?" Madeleine masih tersenyum.
Nadien langsung mengangguk sambil masih tersenyum menatap wajah Madeleine. "Iya Kakak..." ucapannya sempat terhenti. "Cantik."
Madeleine sudah berjongkok mensejajarkan tubuhnya. "Cantik sekali, kamu masih ingat sama Kakak?"
Nadien terlihat mengingat sesuatu, beberapa saat dengan sedikit ragu ia mengangguk pelan.
"Lupa ya? Udah lama." Madeleine mengusap rambut anak itu. "Nadien cantik banget." Ia memandangi wajahnya sebentar.
Nadien mengangguk. "Terima kasih, Kakak juga cantik."
Madeleine tersenyum, walaupun masih tersenyum namun kedua alisnya tertaut dengan mata yang sedikit lagi hampir berkaca-kaca. "Kalau gitu, kita ke lantai atas dulu ya. Ayo." Ia berdiri, lalu meraih tangan Nadien. "Terima kasih, sudah mengantar Nadien." Ia tersenyum ramah pada sopir Nadien.
Sopir itu membalas dengan sopan, setelahnya Madeleine berbalik dan melangkah kembali menuju lift.
Di dalam lift, ia sesekali mengajak ngobrol Nadien yang kini digandengnya. "Nadien mau ketemu Kakak Efren?"
Nadien langsung mengangguk. "Iya, Aunty Mirey sedang di luar negeri sebentar. Terus Kakak bilang, Kakak merindukan Nadien jadi Nadien ke sini saja."
Madeleine tersenyum. "Nadien juga merindukan Kakak Efren, kan?"
Nadien menggeleng. "Tidak. Kakak selalu sibuk, jadi Nadien malas. Nadien lebih suka bermain dengan Bi Lena atau teman-teman Nadien di rumah Aunty Mirey."
Madeleine terkekeh, selanjutnya pintu lift terbuka dan ia keluar dari sana sambil masih menggandeng tangan Nadien. Mereka berjalan menuju ke mejanya yang berada di depan ruangan Efren.
"Kakak Efren masih belum selesai meeting. Jadi, Nadien tunggu di sini dulu sama Kakak, tidak apa-apa?" tanya Madeleine sedikit menunduk untuk menatap Nadien yang kini mendongak menatapnya, anak perempuan itu langsung mengangguk.
Madeleine meraih tas sekolah Nadien yang masih berada di punggung anak itu. "Sekarang Nadien duduk sini dulu, yuk." Ia menggandeng tangan itu untuk duduk di sebuah sofa kecil yang berada di samping meja kerjanya, lalu meletakkan tas berwarna pink itu di dekat sana.
Nadien menurut saja, selanjutnya Madeleine pun duduk di sampingnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Nadien sudah makan belum?" Ia menoleh sebentar ke anak itu.
Nadien mengangguk. "Nadien sudah makan siang tadi, Kakak."
"Kalau begitu, mau cemilan?" Ia menawari beberapa cemilan yang biasa disimpannya.
Nadien melihat itu, matanya langsung berbinar dengan ekspresi wajah yang lebih antusias. "Tentu Nadien mau!"
Madeleine lebih mendekatkannya ke Nadien, ia memperhatikan anak itu yang kini tengah mengunyah.
"Hari ini Nadien belajar apa saja di sekolah?"
Nadien menoleh sebentar, kunyahan di mulutnya baru saja selesai beberapa detik setelahnya. "Science sama menggambar. Tadi Nadien gambar kupu-kupu, cantik seperti Kakak."
Madeleine tersenyum. "Oh ya? Nadien lebih cantik lho." Ia mengusap pelan kepala anak itu, menyentuh sedikit kepangan lucu di bagian kanan dan kiri. "Lucu sekali kepangannya, Bi Lena yang buat?"
Nadien mengangguk. "Iya, Bi Lena yang selalu melakukannya. Tapi Nadien kurang suka dikepang." Ia lalu menggeleng.
"Kenapa? Sakit?" Madeleine memperhatikan hasil kepangan itu.
Nadien kembali menggeleng. "Tidak juga, Kakak. Nadien hanya kurang suka, Nadien lebih cantik rambutnya biasa saja."
Madeleine terkekeh, ia hampir ingin tertawa. "Begini juga cantik. Kan jadi mirip sama kupu-kupu, bentuknya kanan kiri dua."
Suasana di meja kerja Madeleine yang biasanya sunyi kini justru terasa jauh lebih hidup karena celoteh Nadien.
Bahkan beberapa karyawan yang melintas sampai tersenyum melihatnya.
"Lucu juga ya..."
"Ms. Madeleine ternyata gampang akrab sama anak kecil."
"Iya."
Madeleine memperhatikan anak perempuan yang duduk di sampingnya, tampak tidak lagi melanjutkan makannya. "Makannya udah? Mau minum?"
Nadien mengangguk, selanjutnya Madeleine menoleh ke arah di mana tempat tas Nadien tadi ia letakkan. "Ini minumnya Nadien ya?" Ia lalu mengambilnya dan memberikannya pada anak itu.
Nadien pun langsung menerimanya, ia segera meminumnya.
Beberapa menit berlalu, sekitar 15 menit.
Nadien menoleh dan menatap Madeleine, hingga Madeleine yang tengah fokus ke laptop pun kembali menoleh ke anak itu.
"Kenapa?"
"Kakak... mau pipis. Di mana?" Wajah Nadien terlihat gelisah, sesekali ia mengedarkan pandangan namun setelahnya kembali menatap Madeleine.
Madeleine segera beranjak. "Mau pipis? Di sana, yuk." Ia menggandeng tangan anak itu yang barusan juga sudah ikut berdiri dari sofa kecil di sampingnya.
Saat sampai di toilet, Madeleine memastikannya. "Bisa sendiri?"
Nadien langsung mengangguk, namun... ia sejenak menatap ke arah toilet lalu mendongak lagi pada Madeleine.
Madeleine yang sudah sedikit menunduk itu pun... "Mau Kakak bantu?"
Nadien menggeleng. "Nadien bisa sendiri, Kakak."
Tak lama, anak itu segera masuk ke dalam toilet. Bukannya menutup pintu, Madeleine kembali memastikan sesuatu.
"Pakai tisu dulu ya, Nadien sudah tahu?" Ia kembali memperhatikan anak itu yang kemudian langsung mengangguk, selanjutnya ia baru menutup pintunya.
Sesaat kemudian, Madeleine membuka pintu itu karena Nadien dirasanya sudah selesai.
"Ayo."
"Kakak." Nadien mendongak pada Madeleine. "Mau lepas, panas." Ia ingin melepas rompinya.
Madeleine mengerti itu, ia berjongkok lalu dengan telaten segera melepas rompi itu. Namun sebelumnya... ia merapikan rok anak itu yang sedikit berantakan.
Setelahnya, Madeleine meraih rompi Nadien untuk membantunya melepasnya. Namun... gerakan tangannya seketika terhenti.