Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #25

25. "Buktikan kalau aku salah."

Beberapa hari kemudian.


Suasana sore di lantai eksekutif Hayes Group jauh lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya.


Pekerjaan masih menumpuk, tetapi ritme di ruang President Director tidak lagi sepadat saat rapat investasi berlangsung.


Madeleine berdiri di depan meja Efren, menyerahkan beberapa map yang baru saja selesai ia periksa.


"Ini revisi kontrak dari tim legal, Sir. Semuanya sudah saya tandai di bagian yang perlu ditandatangani."


Efren menerima map itu tanpa langsung membukanya.


"Terima kasih."


Madeleine hanya mengangguk kecil.


Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali bunyi keyboard dari laptop Efren.


Efren kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi. "Oh iya." Seolah baru mengingat sesuatu, ia menatap Madeleine. "Aku sebenarnya mau minta tolong lagi."


Madeleine langsung memperhatikan. "Apa, Sir?"


Efren tampak sedikit ragu sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Soal Nadien."


Mendengar nama itu, senyum Madeleine tanpa sadar ikut muncul. "Nadien kenapa?"


Efren mengusap tengkuknya pelan. "Sejak hari itu... dia terus membicarakan kamu."


Madeleine terlihat sedikit terkejut. "Saya?"


"Iya." Efren mengangguk pelan. "Bahkan setiap hari dia selalu bilang ingin bertemu kamu lagi."


Madeleine tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Benarkah itu, Sir?"


"Iya." Dia bahkan merengek minta datang ke kantor lagi."


Madeleine spontan tertawa kecil. "Lucu sekali."


Efren ikut tersenyum melihat reaksinya. "Jadi..." Ia menjeda sesaat. "Kamu apakah akan keberatan kalau sesekali Nadien datang lagi ke sini? Tentu kalau memang kamu sedang tidak sibuk."


Madeleine bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. "Tidak sama sekali." Jawabannya terdengar cepat, membuat Efren sedikit mengangkat alis.


"Serius?"


Madeleine mengangguk sambil tersenyum hangat. "Saya justru akan sangat senang. Nadien pun anak yang sangat menyenangkan. Kalau dia datang lagi, saya tidak keberatan menemaninya."


Entah mengapa, mendengar jawaban itu membuat Efren ikut merasa lega. Ia pun mengangguk. "Aku sudah hampir menyerah menghadapi rengekannya."


Madeleine mengangguk. "Biarkan dia datang, Sir. Saya juga merindukannya, dia sangat lucu." Ia lalu memperhatikan wajah Efren, tampak lebih serius. "Dia sangat mirip dengan Anda."


Efren kembali menoleh untuk menatap Madeleine. "Apanya?"


Madeleine terdiam sejenak, sebelum kemudian menetralkan kembali apa yang dimaksudnya.


"Emm... wajah kalian," ucapnya lirih. "Terutama... senyum kamu dan dia. Kalau lagi diam, ekspresinya juga mirip."


Efren sempat terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. Banyak yang bilang begitu."


"Benarkah?"


"Iya." Efren menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Katanya Nadien itu versi aku cewek. Bedanya dia lebih banyak senyum."


Madeleine ikut tersenyum. "Memang."


"Kalau aku waktu kecil sepertinya lebih menyebalkan."


Madeleine menggeleng pelan, senyumnya masih bertahan. "Saya rasa tidak."


Efren menatap Madeleine, kali ini tak biasa. "Kamu seyakin itu?"


Madeleine berdeham pelan. "Kenapa tidak? Kamu juga pasti sangat menyayangi Nadien, aku bisa melihat itu."


Bukan tak sadar, Efren justru sangat sadar ketika mendengar Madeline menyebut dirinya sendiri dengan 'aku," ia lalu memandang ke arah jendela sesaat sebelum tersenyum tipis.


"Dia satu-satunya keluarga intiku yang tersisa, tentu aku sangat menyayanginya. Walaupun tidak begitu... dari dulu juga aku sudah sangat menyayanginya, kamu juga sayang dia kan dari dulu? Kamu melihatnya dari dia masih bayi. Aku tahu kalau kamu memang benar merindukannya. Karena tidak ada seorang Madeleine yang benar-benar bisa menyembunyikan perasaannya dariku."


Madeleine seketika terdiam, tatapannya sempat bertemu dengan mata Efren sebelum buru-buru dialihkan.


Beberapa detik, ruangan itu kembali sunyi.


Madeleine tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba muncul. "Karena Nadien juga anak yang mudah disayangi."


Efren tidak langsung menjawab, ia masih memperhatikan raut wajah perempuan di depannya. "Aku tahu."


Madeleine melirik jam di tangannya. "Sir, sepertinya sudah terlalu lama saya di sini. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan terlebih dahulu sebelum jam pulang kantor tiba." Ia lalu beranjak dari duduknya, berdiri dan akan berbalik badan.


Efren menggeleng cepat, namun terlambat karena Madeleine tentu tak melihatnya. "Madeleine." Ia masih cukup bisa meraih tangan Madeleine dengan tangan panjang nan besarnya. Perempuan itu belum benar-benar melangkah, baru berbalik badan dan akan segera kembali.


Madeleine membeku, beberapa detik ia terkejut sebelum akhirnya tatapannya beralih ke lengannya. Sedetik kemudian... ia menoleh. 


Efren melepaskan tangannya dari sana, tanpa disadarinya... pria itu justru sudah beralih dan mendekat ke posisinya sekarang. Madeleine hampir gugup, namun ia berusaha biasa saja dan profesional.


Ia mengangguk pelan. "Ya. Kenapa, Sir?" 


"Apa kamu sadar sesuatu?"


Madeleine mengernyit. "Tentang apa?"


Efren mengembuskan napas. "Aku awalnya hampir mengelak, karena mengira mungkin hanya perasaan aku. Tapi asal kamu tahu, Nadien cukup bisa dengan cepat merasa dekat dengan kamu. Bersama orang lain, dia hampir tidak pernah seperti itu." Ia kini berdiri tepat di depan Madeleine, memperhatikan perempuan itu hingga Madeleine tanpa sadar menelan ludah sudah payah menahan rasa gugup yang sangat ingin dihilangkannya.


"Oh ya, Sir? Saya senang mendengarnya, itu cukup bagus," balas Madeleine.

Lihat selengkapnya