Langit Manila sudah berubah gelap ketika jam kerja berakhir.
Satu per satu karyawan mulai meninggalkan gedung Hayes Group.
Madeleine keluar dari lobby sambil membawa tas kerja dan payung lipat kecil di tangannya.
Begitu pintu otomatis terbuka, embusan angin lembap langsung menyambut wajahnya.
Rintik hujan mulai turun.
Ia mendongak sebentar.
"Semoga tidak tambah deras..."
Madeleine membuka payungnya lalu mulai berjalan menuju halte bus yang berjarak beberapa ratus meter dari gedung perusahaan.
Sudah bertahun-tahun ia terbiasa pulang seperti itu.
Bus.
Sesekali kereta.
Lalu berjalan kaki menuju apartemen.
Di saat yang sama...
Sebuah mobil hitam perlahan keluar dari area parkir basement.
Efren yang sedang menyetir tanpa sengaja melihat sosok yang sangat dikenalnya berjalan di trotoar.
Madeleine.
Sendirian.
Dengan langkah tenang sambil memegang payung kecil.
Ia sempat terus melaju beberapa meter. Namun entah mengapa, tangannya justru memutar setir menuju bahu jalan.
Mobil berhenti tepat di samping Madeleine.
Jendela perlahan turun.
"Madeleine."
Madeleine menoleh, ia terkejut. "Sir?"
Efren menatap ke luar jendela. "Mau ke halte?"
Madeleine mengangguk. "Iya."
"Ayo."
Madeleine terdiam sesaat mendengar itu, kemudian menggeleng kecil. "Tidak usah, Sir. Saya naik bus saja." Kalimatnya terdengar tenang.
Efren mengembuskan napas pelan. "Madeleine, ini sudah mulai hujan."
"Saya bawa payung."
"Hujannya sebentar lagi akan tambah deras."
Madeleine masih tersenyum sopan. "Tidak apa-apa."
Efren menatapnya beberapa detik. "Lalu busnya? Pasti penuh, dan kamu masih harus jalan lagi dari halte."
Madeleine tersenyum kecil. "Saya sudah biasa."
"Aku tidak menerima penolakan."
Kalimat itu membuat Madeleine terdiam.
Efren kembali membuka suara. "Aku cuma mau mengantar kamu pulang. Tidak lebih, dan kamu tidak perlu sungkan."
Madeleine masih terlihat ragu.
Efren masih menatap perempuan itu, lalu mengembuskan napas pelan. "Kalau gitu, anggap saja bos mengantar karyawannya."
Madeleine hampir ingin tertawa, namun ekspresi wajahnya tetap terkontrol dengan baik. "Sepertinya melakukan penyalahgunaan jabatan itu tidak baik, Mr. Efren." Ia berusaha tetap tenang mengatakannya, senyum tipis yang dipaksanya itu ia tunjukan.
"Kalau begitu... anggap saja teman lama." Efren terlihat masih ngotot, alisnya naik satu saat menatap Madeleine sekarang.
Suasana kembali hening beberapa detik, Madeleine akhirnya melirik langit. Hujan memang mulai membesar, kalau ia tetap menunggu bus... bisa saja ia harus berdiri cukup lama. Belum lagi ongkos perjalanan, ia pun menghela napas kecil.
"Kalau begitu... terima kasih."
Efren langsung membuka kunci pintu penumpang.
Madeleine masuk ke dalam mobil.
"Hemat ongkos hari ini," gumamnya pelan sambil memasang sabuk pengaman.
Efren mendengarnya, sudut bibirnya terangkat. "Jujur juga akhirnya."
Madeleine ikut tersenyum kecil. "Terima kasih sekali lagi, bosku."
Efren menyunggingkan senyum mendengar itu. "Kamu tidak seharusnya menolak."
•••
Sekitar empat puluh menit kemudian.
Hujan bukannya reda, justru turun jauh lebih deras.
Suara air menghantam kaca mobil hampir menutupi suara mesin.
"Belok kanan, Sir."
Efren mengikuti arah yang ditunjukkan Madeleine, hingga mobilnya kini memasuki kawasan apartemen sederhana yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Efren memperhatikan sekeliling, lingkungannya cukup bersih. Meskipun, tampak sederhana. Namun, cukup nyaman.
Mobil berhenti tepat di depan lobi.