Entah sudah yang ke berapa kalinya, Efren baru saja merebahkan dirinya ke samping Madeleine. Ia menatap wanita itu, tubuh mereka yang masih penuh dengan keringat bercucuran.
Madeleine masih terkulai tak berdaya, hingga kemudian setelah napasnya kembali teratur ia menoleh untuk menatap Efren.
Ia terdiam, meresapi semuanya. Entah setelah ini ia akan berbuat apa, dirinya belum mengerti setelah kegiatan panas yang baru saja mereka lakukan.
"Apa?" Efren bertanya lirih, masih menatap wajah itu.
Madeleine rasanya tak bisa membuka mulut, ia membeku. Lalu memalingkan wajah sebentar untuk melirik jam, setelahnya kembali menatap Efren.
"Pergi dari sini sebelum ibuku pulang," ucapnya pelan, dari nadanya terdengar seperti ada kekecewaan, ketakutan, dan kebingungan.
Efren masih diam, ia bahkan bergeming sambil masih menatap Madeleine.
"Sudah jam sebelas, Efren. Kamu harusnya pulang dari tadi." Ia lalu beranjak lebih dulu, meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya sebelum kemudian mencari pakaiannya.
KRIT.
DOR.
Mata Madeleine seketika membelalak mendengar itu, ia yang baru selesai memakai baju pun dengan cepat menoleh pada Efren yang masih diam di atas tempat tidur.
"EFREN! CEPAT PERGI DARI SINI!" panik Madeleine.
"Kenapa? Ada siapa?" tanya Efren bingung.
"Kamu tanya ada siapa? Itu pasti ibuku." Madeleine menoleh menatap pintu.
"Memangnya dari mana ibu kamu jam segini baru pulang?" Efren terheran.
Madeleine menggeleng. "Aku tidak tahu. Mom suka begitu. Kalau Raphael memang suka pulang malam, entah acara kampus atau di luar itu, karena dia juga bekerja," jelasnya cepat.
Tak banyak bertanya lagi, Efren segera meraih pakaian dan memakainya dengan gerakan yang cukup cepat.
"Di mana jas dan sepatuku?" bisiknya.
Madeleine yang masih berusaha menenangkan napas buru-buru mencarinya, ia tak kunjung menemuman. Hingga kemudian, ia sadar sesuatu dan matanya langsung membelalak kaget.
"Masih di luar!"
Dari luar kamar terdengar suara pintu apartemen ditutup kembali.
"Raphael, taruh saja belanjaannya di dapur!"
"Iya, Mom."
Madeleine memejamkan mata sesaat. "Benar... mereka pulang."
Efren memperhatikan wajah perempuan itu yang jelas mulai panik. "Tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang?" Madeleine berbisik cepat. "Kalau Mom tahu kamu ada di sini..." Kalimatnya menggantung.
Efren mengenakan jasnya yang masih sedikit lembap. "Aku keluar saja."
"Sekarang?"
Belum sempat mereka bergerak, terdengar langkah kaki mendekati lorong kamar.
Tok.
Tok.
"Madeleine?" suara ibunya terdengar dari balik pintu. "Kamu sudah pulang?"
Madeleine dan Efren saling berpandangan.
Jantung Madeleine berdetak semakin cepat.
"I-iya, Mom!"
"Kok pintunya dikunci?"
Madeleine menelan ludah.
"Aku... lagi ganti baju."
Di luar, suasana memang tenang. Namun, Catherine seketika mengernyit saat melihat sebuah setelan jas beserta sepatu pria berada di ruang tengah apartemen ini. Ia lalu kembali menoleh ke arah pintu kamar putrinya.
"Madeleine! Kamu pulang sama siapa? Ada jas dan sepatu pria." Ibunya terdengar sedikit berteriak di depan pintu kamarnya.
"Tidak perlu berisik, Mom. Sudah malam, aku ingin tidur, lelah. Mungkin Kakak yang membawanya tak sengaja, hanya baju dan sepatu lagi pula," sahut Raphael yang sudah hendak merebahkan tubuh setelah menggelar kasur di depan televisi, ia tak sempat menaruh kecurigaan apa pun kepada kakaknya yang sudah pulang duluan, tentu saja matanya pun juga tak buta akan yang dimaksud ibunya.
Langkah kakinya ibunya, perlahan menjauh.
Madeleine langsung mengembuskan napas panjang.
"Untung..."
Efren menatap wanitanya, ia tak bereaksi apa pun.
"Tunggu nanti. Jangan sampai mereka tahu."
Efren mengangguk saja. "Oke." Ia menurut yang diminta Madeleine.
Hingga satu jam telah berlalu.
Madeleine melirik pintu kamarnya. "Mungkin sudah aman," ucapnya. "Jangan lakukan ini lagi, aku merasa tidak pantas," lirihnya setelah Efren sudah berdiri di dekatnya.
"Tidak ada yang tidak pantas. Aku mencintai kamu," balas Efren tanpa rasa bersalah.
Madeleine lebih dulu membuka pintu kamar. Setelah memastikan keadaan cukup aman, ia memberi isyarat kepada Efren untuk keluar.
Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, ibunya yang sedang meletakkan kantong belanja langsung menoleh.
Beliau membeku.
Pandangannya bergantian antara Madeleine... lalu Efren.
"Madeleine," panggil ibunya, masih mematung menatap putrinya bersama seseorang yang tentu juga dikenalnya.
Madeleine seketika berhenti, diikuti Efren. Ia membeku, tubuhnya kaku seketika dan rasanya ingin menghilang sekarang juga.
Efren sudah berbalik lebih dulu, ia menatap Ibu dari Madeleine dan langsung membungkuk sopan.
"Selamat malam, Tante. Hujan tadi sangat deras, jadi Madeleine meminta saya berteduh sebentar di sini. Maaf mengganggu, saya pamit sekarang juga."
Madeleine segera menarik lengan laki-laki itu. "Sudah cukup waktunya, Sir. Terima kasih sudah repot-repot mengantarkan saya sampai ke apartemen kecil kami, tak sangka Sir sangat menghargai tempat ini dan tidak banyak berkomentar." Ia mengajaknya agar cepat keluar dari apartemennya.
Ibu Madeleine yang masih berdiri menatap putrinya bersama laki-laki itu pun masih bergeming, ia tak berkedip sama sekali sejak tadi.
BRAK!
Raphael yang tadi baru saja akan terlelap penuh dari tidurnya pun kini beranjak, ia menatap kepergian seseorang setelah Madeleine menutup pintu dengan keras.
Madeleine berdiri bersandar membelakangi pintu itu, ia menatap lantai sebelum kemudian menatap ibunya yang masih terdiam dan... bergantian pada adiknya yang juga sudah berdiri di dekatnya.
"Itu siapa, Kak?"
"Efren." Sekian lama ibunya diam, kini beliau baru saja membuka suara—pelan.
Madeleine memejamkan mata. "Dia hanya mengantarku, Mom. Tidak usah menaruh kecurigaan, maaf." Ia melangkah, dan hendak melewati ibunya itu.