"Tidur bersama kekasih kita memang merupakan hal yang wajar di Barat. Tapi, aku bukan wanita murahan yang bisa kamu tiduri sampai hamil dan kamu setelahnya pergi begitu saja dari aku!"
Ucapan itu, seketika membuat tubuh Efren hampir kehilangan keseimbangan. Matanya melebar menatap Madeleine yang bahkan mungkin sudah kaku dan hampir bergetar.
Lama.
Sangat lama.
Efren tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Tangannya yang semula memegangi pipi perlahan jatuh ke samping tubuh. Tatapannya tidak lagi dipenuhi keinginan untuk membalas perkataan Madeleine, melainkan kebingungan yang perlahan berubah menjadi keterkejutan.
"...Apa?" suaranya nyaris hanya berupa bisikan.
Madeleine menutup mata sejenak. Dadanya naik turun, emosinya yang sejak semalam ia tahan akhirnya runtuh begitu saja.
Efren menggeleng pelan.
"Tidak..." bibirnya bergetar. "Ulangi, Madeleine."
Madeleine menatapnya dengan mata yang mulai dipenuhi air mata.
Efren mengingat sesuatu.
Hari ketika ayahnya mendadak memaksanya kembali ke Manila.
Teleponnya yang kemudian disita.
Kesibukan keluarganya.
Usahanya beberapa kali menghubungi Madeleine yang tidak pernah mendapat balasan.
Ia memang datang sekali lagi ke Vancouver beberapa bulan kemudian.
Saat itu mereka sempat bertemu.
Namun setelah itu... Madeleine menghilang.
"Aku tidak pernah tahu..." suara Efren mulai serak.
Madeleine tertawa pelan, tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia.
"Itu hanya seandainya. Tenang, tidak pernah terjadi." Ia berusaha tenang mengatakan itu, dalam hatinya ia tertawa pahit. Air mata telah menggenang di matanya, ia membuang muka dan tak ingin terus menatap Efren. "Jangan takut. Kamu takut ya?" Ia bertanya kali ini menatap Efren sebentar.
Efren tentu bisa melihat itu, ia menangkup wajah Madeleine dan diusapnya kedua mata perempuan itu menggunakan kedua ibu jarinya.
Ia menggeleng berkali-kali. "Tolong jujur sejujur-jujurnya ke aku, Madeleine. Aku akan menerima semua kejujuran kamu, apa pun itu." Ia berusaha meyakinkan."
Madeleine mengembuskan napas pelan. "Aku sudah jujur, aku hanya bilang jika seandainya... memang begitu, kamu juga tidak akan pernah tahu ya? Kamu yang pergi begitu saja, jika seandainya..." Ia tertawa kecil. "Tanpa pamit sedikit pun ke aku, hanya melalui sebuah pesan yang kamu kirim. Lalu... menurut kamu, apa aku jahat kalau setelahnya aku mengakhiri hubungan kita tanpa persetujuan dari kamu?" Ia kini menatap Efren sambil berusaha tersenyum, walaupun tipis.
Efren menggeleng cepat beberapa kali. "Aku tidak pernah bilang kalau kamu jahat. Tapi, aku hanya butuh penjelasan." Suaranya kemudian menelan. "Hanya itu, aku hanya tidak mau kehilangan seseorang yang sudah aku cintai sedalam aku mencintai kamu, Madeleine."
Madeleine menarik napas panjang. Jemarinya perlahan melepaskan tangan Efren dari wajahnya. Kali ini ia tidak lagi berusaha terlihat kuat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh satu per satu.
"Kamu selalu bilang butuh penjelasan," ucapnya lirih. "Tapi pernah tidak kamu berpikir... kalau saat itu aku juga menunggu penjelasan darimu?"
Efren terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Madeleine masuk ke ruangannya pagi itu, ia benar-benar kehilangan kata-kata.
"Pesan yang kamu kirim hanya mengatakan kamu harus pulang ke Manila. Setelah itu... tidak ada apa-apa lagi."
"Aku berusaha menghubungimu," jawab Efren cepat. "Nomormu tidak pernah aktif. Emailku tidak pernah dibalas."
Madeleine menggeleng pelan.
"Karena setelah berhari-hari menunggu, aku memutuskan berhenti berharap."
Ruangan kembali sunyi.
Efren menatap perempuan di depannya dengan sorot mata yang jauh berbeda. Kali ini bukan amarah atau kerinduan, melainkan penyesalan.
"Daddy mengambil ponselku waktu itu," katanya pelan. "Aku bahkan tidak diberi kesempatan berpamitan dengan benar. Saat akhirnya aku bisa kembali ke Vancouver, aku pikir semuanya masih bisa diperbaiki. Aku juga sudah menceritakan tentang ini ke kamu, kamu sudah tahu itu."
Madeleine tersenyum pahit. "Sedangkan waktu itu aku mengira... kamu sudah memilih hidupmu."
Efren menggeleng kuat. "Aku tidak pernah memilih meninggalkanmu."
"Tapi kenyataannya..." Madeleine menatap tepat ke matanya. "Aku tetap ditinggalkan."
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tamparan yang baru saja mendarat di pipi Efren.
Efren menundukkan kepala. Baru kali ini ia benar-benar memahami bahwa selama bertahun-tahun mereka tidak saling membenci—mereka hanya hidup dengan kesalahpahaman yang tidak pernah diberi kesempatan untuk dijelaskan.
"Kalau aku bisa kembali ke hari itu," ucap Efren lirih, "aku akan melawan siapa pun yang mencoba memisahkan kita."
Madeleine menggeleng pelan.
"Masalahnya, Efren... waktu tidak pernah berjalan mundur."
Efren wajahnya perlahan, tatapannya tampak berbeda. Tidak lagi dipenuhi kemarahan atau keinginan untuk memaksa Madeleine menerima perasaannya, melainkan dipenuhi kegelisahan yang sulit disembunyikan.
"Madeleine..."
Perempuan itu tidak menjawab.
Efren menelan ludah. "Ada satu kalimat yang sejak tadi terus terngiang di kepalaku."
Madeleine perlahan menoleh. "Soal yang mana?"
"Kamu hamil, itu sungguh tidak pernah terjadi?" Efren menatap Madeleine lebih lekat untuk melihat adanya kejujuran dan tidak di sana.
Madeleine terdiam, tatapannya bertemu dengan mata Efren.
"Jawab aku," suara Efren semakin melembut, kedua alisnya sudah tertaut mendengar itu.
Madeleine terdiam cukup lama.
Tatapannya jatuh ke lantai, seolah sedang menimbang apakah dirinya benar-benar siap membuka luka yang selama bertahun-tahun ia kubur seorang diri.
"Kalau memang aku pernah hamil..." suaranya lirih. "...kamu mau apa?"