Sore mulai berganti malam ketika mobil Efren akhirnya memasuki halaman mansion tempatnya tinggal.
Sepanjang perjalanan, ia hampir tidak mengingat bagaimana dirinya menyetir.
Pikirannya kosong.
Tidak.
Justru terlalu penuh.
Suara Madeleine terus berputar di kepalanya.
"Perempuan. Aku menamainya Elaine."
"Aku tidak pernah tahu nama itu juga menjadi nama adik kamu."
Efren mematikan mesin mobil, namun ia tetap duduk di balik kemudi.
Tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa yang sebenarnya terjadi...?" gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, ia akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Kakak!"
Suara ceria itu membuat langkahnya berhenti, perlahan ia menoleh.
Nadien baru saja turun dari tangga, anak itu tersenyum ceria. Efren yang semula masih sangat pusing dengan segala hal yang baru saja ia ketahui hari ini, ia segera mendekat ke anak itu.
Ia tersenyum melihat Nadien, setiap melihat anak itu... ia merasa hatinya menghangat. Efren tak pernah curiga apapun selama tujuh tahun ini, ke siapa pun itu termasuk orang tuanya sendiri. Dan kini... ia sedang merasa semua itu tengah diputarbalikkan, tapi apakah mungkin benar isin pikirannya saat ini? Ia sama sekali tak tahu.
Efren berjongkok menyamai tinggi anak perempuan di dekatnya itu, ia memperhatikan wajahnya. "Setiap lihat dia, rasa capek gue rasanya selalu hilang gitu aja. Yang gue tahu selama ini... itu cuma perasaan seorang kakak ke adik kandungnya. Tapi... sekarang?" Ia menggeleng beberapa kali.
"Nadien kenapa belum tidur jam segini? Kan besok sekolah lagi," ucapnya.
Nadien menggeleng. "Nadien belum mengantuk, Nadien menunggu Kakak. Nadien sama Kakak." Ia menatap wajah Efren sambil tersenyum.
Efren masih tersenyum, ia lalu memeluk tubuh mungil itu. Ia memeluknya lama.
Efren menatap lurus. "Apa mungkin Mommy sama Daddy bohong?" Ia menggeleng berkali-kali berusaha menghilangkan pemikiran itu.
"Nadien belum mau tidur itu, Fren. Dia nungguin kamu gak pulang-pulang. Kangen sama kakaknya. Katanya juga, mau ketemu sama Kakak cantik di kantor kamu, siapa sih dia? Gak biasanya ngerengek mulu." Mireya terlihat datang dari belakang Nadien.
Efren melepaskan pelukannya pada anak itu, ia lalu menatap Mireya. "Aku kira Aunty gak ikut ke sini." Kemudian tatapannya beralih ke Nadien, menatap wajah anak itu baik-baik, sambil diusap kepalanya.
"Tentu saja Aunty ikut, Bi Lena kan sedang cuti pulang ke kampung. Kalau gak, nanti Nadien sendirian di sini," jawab Mireya.
"Menurut Aunty, Nadien mirip siapa?" Ia bertanya pada Mireya, namun pandangannya tidak beralih dari wajah adiknya.
Mireya mengernyit. "Tiba-tiba banget kamu bertanya seperti itu. Mirip kamu, banyak yang bilang. Aunty juga masih ingat, kamu kecil juga seperti ini bedanya Nadien memang lebih putih gak tahu mirip siapa. Padahal, Catalina atau Matteo juga tidak seputih ini."
Efren menoleh sebentar, lalu kembali memperhatikan adiknya. "Iya? Benar itu, Aunty?" Ia memastikan pada Mireya.
Mireya mengangguk. "Lolo dan Lolamu juga sampai bilang ini versi perempuanmu," jawabnya lagi.
Efren menunduk, ia menatap lantai. "Gak, kan?" Ia menggeleng pelan.
"Kayak Terence sama anaknya deh, tapi itu kan anaknya. Kalau ini, adik kamu." Mireya melanjutkan, ia mengusap lembut kepala Nadien.
Efren seketika menelan ludahnya susah payah. "Memang aku gak seputih Nadien waktu kecil gini?"
Mireya kembali menggeleng, lalu menghela napas pelan. "Seingat Aunty gak, karena Mommy dan Daddymu juga gak. Mommymu juga mengikuti gen Lolo, Aunty juga sama, yang putih cuma Uncle Jose deh karena ngikutin Lola ditambah istrinya Aunty Jisu jadi anaknya dapet putih semua juga gen Korea."
"Tapi anak Aunty putih kok, Kuya Zoren ikut Uncle Juan," gumam Efren, pandangannya tak lepas dari Nadien.
"Memangnya kenapa Kakak? Bahas warna kulit, apa Nadien jelek?" Nadien membuka suara.
Efren cepat-cepat menggeleng. "Nadien cantik, tidak ada yang jelek. Yang bilang kamu jelek, Kakak omelin."
"Memang Kakak bisa mengomel?" Nadien mengernyit sambil memiringkan kepalanya, membuat Efren menghela napas namun tetap masih tersenyum pada gadis kecil itu.
Efren terkekeh pelan mendengar pertanyaan polos itu. "Apa menurut Nadien Kakak gak bisa marah?"
Nadien berpikir beberapa detik, lalu menggeleng mantap. "Karena Kakak kalau sama Nadien selalu baik."
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Efren kembali terasa sesak. Tanpa sadar, tangannya kembali mengusap rambut halus anak itu.
"Kalau ada yang bikin Nadien sedih, bilang sama Kakak."
Nadien mengangguk cepat. "Iya! Tapi tidak ada kok." Ia lalu menggeleng.
Mireya memperhatikan interaksi keduanya sambil tersenyum kecil. "Dari dulu tidak pernah berubah. Nadien paling nempel sama kamu, lagi di rumah Aunty saja sebenernya nanyain ya kakaknya terus. Bahkan waktu kamu dinas keluar kota beberapa hari saja, dia suka rewel."
Efren hanya mengangguk pelan, ia kembali menatap wajah Nadien.
Dari bentuk alisnya, cara anak itu tersenyum, hingga tatapan matanya.
Semuanya mendadak terasa seperti teka-teki yang tak pernah terpikirkan olehnya selama bertahun-tahun.
"Jangan berpikir terlalu jauh..." batinnya mencoba menenangkan diri.
"Madeleine sendiri bilang dia juga tidak tahu nama lengkap Nadien."
"Bisa saja semua ini hanya kebetulan terjadi."
Namun, semakin ia mencoba menghapus pikiran itu, semakin kuat pertanyaan-pertanyaan baru bermunculan.
"Kakak?" Suara Nadien membuyarkan lamunannya.
"Iya?" Efren tersadar, ia kembali tersenyum memandangi wajah itu.
"Kakak capek ya?"
Efren tersenyum tipis. "Sedikit."
Nadien meraih kedua pipi Efren dengan tangan kecilnya. "Kalau Kakak capek harus istirahat."
Efren menatap wajah itu cukup lama. Lalu, tanpa sadar ia kembali memeluk Nadien. Kali ini lebih erat.
Sampai-sampai Nadien mengeluarkan suara pelan. "Kakak."
Efren segera mengendurkan pelukannya. "Eh maaf ya." Ia mengusap kepala anak itu. "Anak cantik kegencet."
Mireya tersenyum. "Bedanya Nadien lebih lucu," Ia terkekeh. "Anak cantik ini." Ia menyentuh Nadien.
Mireya yang sejak tadi memperhatikan mulai merasa ada sesuatu yang berbeda.
"Fren."
Efren mendongak.
"Kamu baik-baik saja?"
Efren terdiam beberapa detik.
"...Iya."
"Kamu kelihatan banyak pikiran."
Efren tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sampai ke matanya. "Cuma urusan kantor saja, Aunty."
Mireya mengangguk, meski raut wajahnya menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya.
"Kalau memang ada masalah, jangan dipendam sendiri."
Efren hanya mengangguk. "Iya, Aunty."
"Kalau semua ini memang hanya kebetulan..."
"Kenapa aku terus merasa ada sesuatu yang belum pernah diberitahukan kepadaku?"
Malam itu, setelah memastikan Nadien masuk ke kamarnya untuk bersiap tidur, Efren bersih-bersih terlebih dahulu sebelum kemudian pergi ke ruang kerjanya di lantai dua.
Pendingin ruangan terasa sangat dingin di ruangan itu.
Ia mengeluarkan ponselnya. Jarinya sempat membuka daftar kontak, dan berhenti tepat pada satu nama.
Madeleine.