Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #30

30. Membawanya ke rumah.

Weekend telah tiba.


Sebuah mall cukup ramai, terutama di area lantai dasar yang dipenuhi berbagai restoran, toko, dan supermarket.


Nadien berjalan di samping Bi Lena sambil sesekali melihat sekeliling. Hari ini, ia memiliki jadwal les balet. Ia sendiri sudah siap dengan pakaian baletnya yang lucu berwarna pink, namun karena belum masuk kelas dan kelas dimulai ia kini masih mengenakan sebuah outher.


"Bi Lena..." Ia mendongak menatap pengasuhnya.


"Iya, Non?"


"Nadien mau es krim itu." Ia menatap salah satu kedai es krim yang hampir dilewatinya.


Bi Lena menoleh ke arah yang ditunjuk Nadien. "Sebentar lagi lesnya akan dimulai, sudah tinggal dua puluh menit lagi. Makan es krimnya nanti saja ya kalau sudah selesai balet?"


Nadien langsung menggeleng, dahinya mengerut. "Tidak mau, Bi. Nadien mau sekarang. Lagi pula, masih lama. Nadien akan cepat menghabiskan es krimnya kok." Kini langkahnya terhenti, ia menatap Bi Lena.


Bi Lena menghela napas pelan. "Ya sudah, nanti kalau tidak habis Bibi pegang saja."


Nadien mengangguk, lalu menarik lebih dulu tangan Bi Lena untuk menuju kedai es krim itu.


Bi Lena berhenti di depan kedai es krim itu, di sampingnya ada Nadien. Mereka memperhatikan kedai es krim itu yang sekarang terlihat sangat ramai, lebih ramai dari biasanya.


"Sepertinya antrenya lama, Non. Nanti Non Nadien bisa telat. Biasanya kan, Non belinya kalau sudah selesai les," ucap Bi Lena pelan.


Nadien menunduk, bibirnya sudah melengkung ke bawah tanda moodnya turun. Ia lalu kembali menatap Bi Lena dengan dahi mengerut.


"Tapi Nadien mau itu... sekarang," ucap Nadien. "Tidak mau nanti." Ia menggeleng.


Bi Lena hanya menatap anak itu, namun tak lama tanpa disangkanya Nadien berlari lebih mendekat ke arah kedai.


Bi Lena melihat itu pun terkejut, ia tentu langsung menyusul Nadien yang kini terlihat ingin ikut di barisan para pengantre.


"Non... tuh lihat kan, ramai sekali. Nanti Non malah tidak jadi les bagaimana? Padaha habis dari sini nanti, Non masih ada les matematika loh di rumah." Bi Lena berusaha memberikan pengertian, ia perlahan ingin meraih tangan Nadien tapi ternyata anak itu menolaknya dan tetap ingin mengantre es krim.


"Non Nadien..."


"Nadien mau itu, Bi," rengeknya pelan.


Bi Lena menghela napas. Ia sudah hendak kembali membujuk Nadien karena tiba-tiba anak itu justru menoleh ke arah samping.


Matanya yang semula terlihat kesal, mendadak berbinar.


"Kak Inee!" Ia tersenyum melihat seseorang.


Bi Lena mengernyit.


Nadien menunjuk seseorang yang baru saja keluar dari barisan kedai es krim.


"Kak Inee! Nadien di sini."


Suara Nadien membuat perempuan itu yang terlihat membawa beberapa kantong belanjaan langsung menoleh.


Madeleine tampak terkejut. 


"Nadien?"


Seketika senyum muncul di wajahnya.


Nadien langsung tersenyum lebar, ia mengangguk beberapa kali dengan mata berbinar melihat seseorang itu.


Bahkan, dirinya hampir berlari menghampiri Madeline tetapi Bi Lena buru-buru menahan tangannya menjadikan Nadien hanya berjalan pelan.


"Pelan-pelan, Non."


Madeleine berjalan mendekat sambil membawa satu cup es krim di tangannya.


"Kok Nadien ada di sini?" Madeleine berjalan mendekat sambil membawa satu cup es krim di tangannya.


Nadien mengangguk. "Nadien mau les balet, tapi Nadien mau beli es krim dulu." Ia lalu menunjuk kedai es krim di depan mereka yang kini antreannya bahkan sangat panjang.


Madeleine memperhatikan Nadien, dan pakaian anak itu, kemudian tersenyum. "Wah iya, cantiknya. Terus kapan mulai lesnya kok masih di sini?" Ia lalu beralih menatap sekilas pengasuh Nadien.


"Sebentar lagi, Nona." Bi Lena kemudian mengecek jam. "Sudah tinggal sepuluh menit lagi mulai, tapi Non Nadien memaksa ingin beli es krim dulu."


Madeleine melirik ke antrean di depan sana. "Masih lama, kayaknya gak cukup waktunya." Ia kembali menatap sebentar pengasuh Nadien dan Bi Lena langsung mengangguk, lalu Madeleine jongkok menyamai tinggi Nadien. "Nadien Sayang, belinya nanti saja mau? Kan sebentar lagi mau mulai, nanti kamu ketinggalan gak jadi les dong," ucapnya lembut pada anak itu.


Nadien menggeleng, raut wajahnya kembali berubah. Ia tampak sedih dan tak suka mendengarnya.


"Atau gini aja..." Madeleine menunjukkan es krim di tangannya. "Kalau ini mau gak?"


"Itu punya Kakak," balas Nadien dengan tatapan polosnya. 


"Gak apa-apa, kalau Nadien mau ambil aja." Madeleine tersenyum, ia masih menunjukkan es krim di tangannya itu.


Nadien menggeleng. "Tidak mau, Kakak pasti ingin juga. Biar Nadien beli sendiri saja."


Madeleine masih tersenyum. "Kakak bisa membelinya lagi kapan pun. Nadien lebih ingin, kan?" Ia terlihat menggoda.


Nadien tampang memalingkan sedikit wajahnya, ia sepertinya ingin bilang iya tetapi malu.


"Boleh, Kakak?" Ia menatap Madeleine ragu-ragu.


Madeleine langsung mengangguk. "Tapi habis ini harus berangkat les, ya? Nanti ketinggalan." Ia memberikan es krim di tangannya pada Nadien.


Nadien menerimanya, lalu Bi Lena menatap Madeleine seperti tidak enak. "Wah maaf ya, Nona. Terima kasih banyak. Apa benar tidak apa-apa?"


Madeleine menoleh dan mengangguk, ia tersenyum. "Tidak apa-apa." Ia mengusap rambut Nadien. "Cantiknya, siapa yang pakaikan jepit sebanyak ini? Bi Lena ya?"


Nadien langsung mengangguk, ia sudah tengah memakan es krim itu. "Terima kasih ya, Kakak Inee..."


Madeleine tersenyum. "Iya, sama-sama cantik..."


"Kesukaan Nadien itu es krimnya rasa strawberry." Bi Lena memperhatikan Nadien.


Nadien mengangguk. "Nadien suka strawberry."


"Kalau begitu... sekarang kita mulai lesnya, ya?"


Nadien mendongak ke Bi Lena, ia lalu menatap Madeleine. "Kak Ine mau ke mana?"


Madeleine berpikir sejenak. "Mau pulang, Kakak baru saja belanja. Hari ini kan libur. Kenapa, Sayang?"


Ekspresi Nadien berubah datar. "Kakak mau pulang?" ulangnya, seperti ada kekecewaan.


Madeleine mengangguk kecil. "Iya. Kakak mau pulang."


Nadien berhenti menyendok es krimnya. "Pulang ke mana?"


"Ke rumah Kakak."


Nadien terdiam beberapa detik. Tatapannya kemudian beralih pada kantong belanjaan yang dibawa Madeleine. "Kakak sendiri?"


"Iya."


Nadien kembali menatap wajah Madeleine. Entah kenapa, raut wajahnya justru semakin murung.


"Kenapa?" Madeleine bertanya sambil tersenyum kecil.


"Nadien mau ikut."


Bi Lena yang sejak tadi berdiri di samping mereka langsung membulatkan mata.


"Non Nadien!"


Nadien menoleh.


"Tidak bisa, Non. Kita harus les. Ayo, sekarang kita berangkat."


"Tapi Nadien mau ikut Kak Inee."


"Lesnya sudah mau mulai."


"Nadien gak mau les."


Bi Lena menghela napas panjang. "Lho, tadi Non Nadien sendiri yang bilang mau balet."


"Sekarang gak mau."


Madeleine yang mendengar itu sampai terkekeh kecil. Ia lalu berjongkok kembali di hadapan Nadien.


"Kenapa tiba-tiba gak mau les?"


"Nadien mau ikut Kak Inee."


"Kenapa?"


"Mau main sama Kakak."


Madeleine terdiam sebentar. "Nadien mau ikut Kakak ke rumah?"


Nadien langsung mengangguk cepat. "Iya."


Bi Lena mengusap keningnya sendiri. "Aduh, Non..."


Madeleine berdiri perlahan, kemudian menatap Bi Lena. Lalu, tak lama kembali menatap Nadien.


"Tuh, Nadien masih harus les. Mainnya nanti saja, ya?"


Nadien menggeleng. "Tidak mau. Nadien mau ikut Kak Ine."


Madeleine lalu menatap Bi Lena, mereka sama-sama kebingungan.


"Nadien mau ikut!"


Madeleine merapatkan bibirnya. "Nadien lesnya selesai jam berapa?"


"Jam lima sore nanti, Nona." Bi Lena yang menjawab.


Madeleine tampak berpikir, ia melihat jam tangannya. "Sekarang baru mau jam dua," gumamnya.


Ia tadi ke mall ini karena tujuan utamanya ada membeli beberapa kebutuhannya yang memang sudah habis, juga sekalian ia mampir ke supermarket di dalam mall ini karena membeli keperluan pesanan ibunya untuk dimasak sore ini. 


Lihat selengkapnya