Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #31

31. "Oma."

Catherine masih berdiri memperhatikan putrinya bersama anak perempuan itu, ia terdengar menghela napas pelan.


"Astaga cucuku, tidak terasa sudah sebesar itu. Cantik sekali, keluarga ayahnya memberinya makan apa?" batin Catherine.


"Dia cantik seperti Efren," gumamnya, dan Madeleine mendengarnya langsung menoleh.


Madeleine mengerutkan dahi sejenak. "Mom sememperhatikan itu sampai bisa bilang dia mirip Efren ya?"


Catherine seketika gelagapan, ia merutuki ucapannya sendiri. Sepertinya, ia salah berbicara. Entah, ia tidak tahu. Tapi, ia tentu masih terus menutup rapat rahasia itu dan jangan sampai siapa pun tahu termasuk putrinya sendiri. Hanya ia, dan mendiang kedua orang tua Efren yang tahu rahasia ini.


Nadien mengangkat kepalanya, lalu berkata. "Aku adiknya Kakak," ucapnya polos.


Catherine mendengar itu, entah mengapa merasa hatinya mencelos begitu saja. Raut wajahnya seketika berubah, ia kemudian memalingkan wajah.


"Kak Ine, sudah habis," ucap Nadien menunjukkan tempat dessert yang dimakannya kini sudah habis.


"Kalau begitu, Nadien mandi. Nanti Kakak siapkan bajunya," ucap Madeleine, lalu mengajak anak itu menuju ke kamarnya.


Catherine melihat kepergian keduanya, tatapannya tak lepas dari Nadien. Ia lalu tersadar dan menggeleng cepat.


"Lebih baik aku masak untuk makan malam ini," gumamnya, lalu melangkah menuju dapur.


•••


Sekitar tiga puluh menit berlalu, Madeleine baru saja keluar dari kamarnya bersama Nadien. Mereka tentu sudah mandi, Madeleine mandi setelah Nadien selesai.


Madeleine hendak menuju ruang keluarga, namun ia melihat ibunya yang kini berada di dapur dan terlihat baru saja selesai memasak.


"Mom yang memasak juga akhirnya?" tanya Madeleine.


"Habisnya Mom lihat kamu sibuk, Mom keburu lapar jadi ya sudah Mom saja yang memasak," balas ibunya.


Madeleine lalu berjalan mengajak Nadien untuk duduk. "Nadien, Kakak tidak punya mainan apa pun. Biasanya, kalau di rumah Nadien ngapain?"


Nadien tampak berpikir. "Tidak apa-apa, Kak Ine. Nadien senang di sini, tidak kesepian seperti di rumah." Ia tersenyum.


Madeleine tersenyum, lalu tanpa sadar ibunya sudah berada di dekatnya.


Catherine mendekat ke Nadien. "Cantik, Oma baru saja selesai masak. Kamu sudah makan belum? Masakan Oma enak lho," ucapnya.


"Oma?" lirih Madeleine terheran menatap ibunya.


Catherine langsung tersadar dan langsung menoleh ke putrinya itu. "Mom sudah tua, wajar dipanggil seperti itu," katanya. "Ya? Mau makan?" Matanya berbinar kembali menatap Nadien.


Nadien kemudian mengangguk, lalu dengan antusiasnya Catherine meraih tangan anak itu. Ia menuntun Nadien yang kemudian digandengnya menuju pantry.


"Mom! Kenapa tidak di sini saja? Itu celemeknya dilepas dulu juga, Nadien baru saja mandi nanti dia terkena bau tidak sedap." Madeleine menatap ibunya yang begitu saja membawa Nadien dari hadapannya.


Catherine yang sudah terlanjur membawa Nadien ke pantry langsung berhenti. Ia menoleh ke arah Madeleine, lalu melihat celemek yang masih dikenakannya.


"Oh iya..." gumamnya. "Lupa."


Catherine buru-buru melepaskan celemeknya, kemudian menggantungnya di dekat dapur.


"Nah, sekarang sudah tidak bau masakan," katanya sambil kembali tersenyum pada Nadien.


Nadien hanya mengangguk kecil.


"Duduk sini, Sayang." Catherine menarik salah satu kursi di meja makan, lalu membantu Nadien duduk. Setelah itu, ia mengambilkan makanan yang baru saja selesai dimasaknya.


"Nadien suka ayam?"


Nadien mengangguk.


"Suka."


"Kalau sayur?"


Nadien berpikir sebentar, lalu mengangguk lagi.


"Wah pintarnya."


Madeleine sejak tadi memperhatikan ibunya itu, dan kini ia sudah mendekat ke pantry. Ia melihat ibunya itu yang sejak tadi tak seperti biasanya... yang menyebalkan Dan terus-menerus mengomel. Sekarang, ia melihat ibunya itu tampak tenang dan bahkan sesekali tersenyum pada Nadien.


Catherine selesai mengambilkan Nadien makan dengan beberapa lauk. "Sekarang anak cantik makan dulu, dari tadi belum makan ya? Cuma makanin jajan."


Nadien hendak mengambil piring itu, namun Catherine malah menahannya yang membuat Nadien mengangkat kepala menatapnya.


"Mom?" Madeleine sudah menatap ibunya.


Catherine tak mengindahkan putrinya sendiri, ia lalu duduk di kursi samping Nadien. "Oma suapi saja, ya?" ucapnya.


Nadien menatapnya. "Nadien bisa makan sendiri kok, Oma."


"Sudah, Oma suapi saja." Catherine kemudian memberikan satu suap, Nadien pun langsung membuka mulutnya. "Pintarnya."


"Nadien biasanya makan apa kalau di rumah?" Madeleine bertanya.


Catherine langsung menoleh pada putrinya. "Lagi makan jangan banyak ditanya dulu," ucapnya sedikit sinis.


Madeleine mengernyit. "Aku hanya bertanya, Mom. Pasti di rumah Nadien makan yang lebih baik dari ini, sedangkan ini hanya masakan sederhana."


"Biarpun sederhana yang penting kenyang, gizinya cukup juga sudah baik," balas Catherine tak peduli. "Gimana? Enak masakan Oma?" Ia tersenyum pada Nadien, melihat anak itu baru saja selesai mengunyah dan kemudian ia kembali memberikan suapan selanjutnya.


Nadien mengangguk. "Enak, Oma."


Catherine tersenyum lagi. "Nadien suka?"


Nadien mengangguk. "Suka."


•••


Bahkan, bermenit-menit telah berlalu. Saat ini Catherine bahkan terlihat memangku Nadien di sofa, sambil melihat tayangan televisi terbaru.


"Lucunya anak cantik ini." Ia beberapa kali menciumi pipi Nadien.


Nadien sesekali tertawa kecil. "Oma, Nadien sudah besar." Ia ingin turun dari pangkuannya sejak tadi, namun Catherine tak mengizinkan.


"Biarkan saja, dulu Kak Madeleine juga seperti ini waktu masih kecil. Oma jadi teringat... ini anak cantik, lebih cantik dari Kak Madeleine ya." Ia lalu kembali mencium Nadien.


Madeleine sempat mengernyit beberapa kali melihat itu, ia kini geleng-geleng kepala.


"Itu anak orang, Mom. Kasihan Nadien, maafin Oma ya Sayang... Omanya gemas sama kamu," ucapnya pada Nadien.


Nadien menoleh pada Madeleine seperti meminta pertolongan. "Kakak jemput jam berapa Kak Ine?"


Madeleine kembali melihat ponselnya sebentar. "Katanya jam sembilan nanti, Nadien sabar ya."


Catherine yang tengah mengusap dan memperhatikan rambut Nadien pun seketika tangannya berhenti, ia menoleh ke putrinya. "Efren mau ke sini?"


Madeleine mengangguk. "Dia mau jemput Nadien."


Catherine menunduk dan terdiam sebentar, lalu kembali menatap Nadien. "Besok masih weekend, Nadien libur sekolah?"


Nadien mengangguk. "Iya, Oma," jawabnya.


"Kenapa tidak menginap saja di sini? Nanti tidur sama Oma." Ia memperhatikan wajah itu yang kemudian kembali diciumnya.


Madeleine membelalak mendengarnya. "Mom, Nadien punya rumah," ucapnya mengingatkan ibunya. "Maafin Oma ya Nadien." 


Nadien mengangguk. "Nadien mau saja, Oma. Tapi sepertinya tidak boleh sama Kakak." Ia kemudian menggeleng.


"Pelit sekali Efren itu, memang iya begitu?" Ia menoleh untuk bertanya pada Madeleine.


Madeleine menatap ibunya, ia menggeleng pelan. "Memangnya Mom ingin sekali Nadien berlama-lama di sini?"


Nadien menoleh ke Madeleine. "Tapi kalau mau menginap Nadien mau tidur sama Kak Ine!" ucapnya.


Madeleine tersenyum, sementara Catherine kembali berbicara padanya. "Nanti bilang sama Kak Efren jangan pelit-pelit. Begitu, ya?"


Madeleine mendelik. "Mom! Jangan bicara seperti itu," lirihnya.


"Selama ini, Kak Efren baik sama Nadien tidak?" tanya Catherine.


Madeleine langsung kembali mengernyit, tapi kemudian Nadien menjawab. "Baik. Kakak sayang sama Nadien."


"Mom ngapain bertanya seperti itu, Nadien saja bersama Efren semenjak..." Ia menghentikan ucapannya karena takut menyakiti Nadien. "Tapi Nadien juga sering sama Aunty Mireya ya," katanya kemudian.


Nadien mengangguk. "Di rumah Aunty Mirey ada baby, Nadien ingin punya adik!"


"Kalau ingin punya adik, Kakaknya disuruh menikah dulu," ucap Catherine.


Nadien mengangguk. "Nadien ingin Kakak bersama Kak Ine," ucapnya polos membuat mata Catherine seketika membulat.


Catherine kemudian terkekeh kecil. "Kalau itu... berat ya, Sayang," ujarnya, ia mengelus rambut halus Nadien. "Memangnya Nadien sayang sama Kak Ine? Suka sama Kak Ine?"


Nadien mengangguk antusias. "Nadien sayang! Suka sama Kak Ine!" jawabnya tersenyum.


Catherine lalu menoleh pada putrinya sejenak. "Kalau Nadiennya suka, memangnya Kakaknya Nadien suka?" tanyanya pada Nadien yang membuat Madeleine seketika terkejut.


Nadien mengangguk cepat. "Kak Efren pasti suka."


"Mom..." Madeleine memanggil ibunya, ia lalu mengembuskan napas pelan.


Klik.


Pintu rumah terbuka, dan Raphael muncul dari sana.


Tiga orang itu seketika menoleh ke arah pintu, terutama Nadien karena tidak tahu siapa orang itu.


"Pulang juga, baru selesai kamu?" tanya Madeleine ke adiknya.


Raphael mengangguk, lalu tatapannya berhenti pada anak perempuan di pangkuan ibunya. Ia mengernyit sebentar, lalu sedikit memiringkan kepalanya menatapnya lebih jelas—matanya mengalami gangguan, ia minus lima dan saat ini sedang tidak menggunakan kacamata.


Raphael memutuskan mendekat ke ibunya, berusaha melihat anak perempuan itu lebih jelas. "Kamu siapa?" tanyanya pada Nadien, sedikit menunduk.


Nadien diam saja seperti takut, kemudian Raphael bertanya ke ibunya. "Anak siapa ini, Mom? Akrab sekali kelihatannya."


"Anaknya Kak—" ucapan Catherine terhenti, sementara Raphael sudah sangat menunggu. "Adiknya bos kakakmu."


Raphael seketika membulatkan mata, lalu langsung menoleh ke Madeleine sebelum kemudian. "O-ohh..." Ia mengangguk beberapa kali. "Namanya... siapa?"


"Nadien, Kakak," jawab Nadien, wajahnya ketakutan melihat Raphael.


"Dipanggil Kakak banget?" gumam Raphael hampir tak terdengar. "Kok dia seperti ketakutan begini, Mom?" tanyanya ke ibunya.


"Makanya kamu pulang itu mandi! Mata juga dibenerin, pake kacamatanya! Dikira tidak menyeramkan, apalagi ada anak kecil," ujar ibunya.


Raphael kembali berdiri tegak. "It's okay, Mom." Ia hendak melangkah. "Cantik ya, tidak seperti Kakak waktu dulu." Ia melirik pada Madeleine.


"Maksudmu apa?!" Madeleine hampir saja melemparkan sandal bulu yang dipakainya ke wajah adiknya itu.


Raphael segera menggeleng. "Ya tidak, ternyata anak perempuan kecil itu cantik. Jadi seketika terbayang wajahmu saat kecil dulu, Kak," katanya yang lalu buru-buru masuk kamar.


"Kurang ajar," umpat Madeleine lirih. "Memangnya dulu aku tidak secantik ini, Mom?" Ia kini mendekat ke tempat ibunya duduk, ikut mengusap rambut Nadien.


"Ya jelas tidak, dia ini pasti sudah cantik sejak bayi," balas ibunya. "Ya, Nak?" katanya pada Nadien.


Madeleine tersenyum melihat wajah mungil nan cantik itu. "Nadien memang sangat cantik, lucu sekali pasti Kak Efren senang banget punya adik seperti kamu ya," ucapnya masih tersenyum, ia gemas memandangi wajah itu.


Lihat selengkapnya