Malam telah larut, Madeleine kini berada di kamarnya.
Selepas merawat diri dan wajahnya, ia kini terdiam cukup lama sejak tadi.
Entah mengapa, ia memikirkan ibunya yang tadi tak seperti biasanya saat Nadien berada di sini.
Ia menatap lurus ke arah balkon kamarnya yang masih terbuka. "Gak biasanya Mom seperti itu. Itu bukan Mom..." Ia menggeleng pelan.
"Kenapa bisa tiba-tiba seperti itu? Harusnya tidak, tidak bisa hal itu tiba-tiba. Ke anaknya sendiri saja seperti aku dan Raphael, Mom lebih sering marah-marah tidak jelas, boro-boro tersenyum. Tapi bersama Nadien... bahkan Mom terus tersenyum, aneh."
Ia menghela napas, kemudian beranjak dari duduknya di kursi depan meja riasnya itu. Madeleine menuju tempat tidur, dan duduk di sana sambil menarik selimut.
Madeleine melirik perutnya, lalu membukanya sedikit. Ia menyentuh sebuah bekas luka di sana, yang terlihat sedikit memudar.
"Sudah hampir tujuh tahun... Seandainya kamu masih ada... walaupun sekali, aku ingin memelukmu. Bukan hanya mendapat luka ini." Ia lalu memejamkan mata lama, hingga suara isak mulai terdengar pelan dari bibirnya.
Madeline menutup mulutnya, ia kembali membuka mata dan berusaha mengatur napas.
"Gak bisa bohong kalau aku melihat Nadien seperti anakku, tapi itu bukan dia... Aku juga gak bisa berharap lebih, apalagi menahan Nadien untuk berlama-lama. Dia bukan anakku... aku tahu itu, aku akan selalu mengingatnya." Ia kemudian berusaha kembali tersenyum.
"Jangan hanya karena masa lalu, kamu menjadi lemah, Madeleine. Karena seseorang dari masa lalu kamu datang lagi, apa kamu harus kembali menyesali semuanya?" monolognya, kemudian menggeleng pelan beberapa kali. "Gak. Semua sudah terjadi, dan aku sudah berjanji ke diriku sendiri untuk mengikhlaskan semua itu."
"Tapi melihat cara ibuku yang seperti itu ke Nadien membuatku terpikirkan hal yang bahkan tidak mungkin," batinnya, ia melihat ke arah luar.
"Dari cara Efren menyayangi adiknya yang..." Ia menunduk. "Aku tentu teringat anakku, walaupun aku tidak pernah melihatnya. Tapi... aku membawanya berbulan-bulan di perutku, walaupun Efren tidak pernah tahun hingga bertahun-tahun."
Madeleine kembali terdiam mengingat keadaan tadi.
Catherine mendekat ke Nadien. "Cantik, Oma baru saja selesai masak. Kamu sudah makan belum? Masakan Oma enak lho," ucapnya.
"Oma?" lirih Madeleine terheran menatap ibunya.
Catherine langsung tersadar dan langsung menoleh ke putrinya itu. "Mom sudah tua, wajar dipanggil seperti itu," katanya. "Ya? Mau makan?" Matanya berbinar kembali menatap Nadien.
Nadien kemudian mengangguk, lalu dengan antusiasnya Catherine meraih tangan anak itu. Ia menuntun Nadien yang kemudian digandengnya menuju pantry.
"Mom! Kenapa tidak di sini saja? Itu celemeknya dilepas dulu juga, Nadien baru saja mandi nanti dia terkena bau tidak sedap." Madeleine menatap ibunya yang begitu saja membawa Nadien dari hadapannya.
Catherine yang sudah terlanjur membawa Nadien ke pantry langsung berhenti. Ia menoleh ke arah Madeleine, lalu melihat celemek yang masih dikenakannya.
"Oh iya..." gumamnya. "Lupa."
Catherine buru-buru melepaskan celemeknya, kemudian menggantungnya di dekat dapur.
"Nah, sekarang sudah tidak bau masakan," katanya sambil kembali tersenyum pada Nadien.
Nadien hanya mengangguk kecil.
"Duduk sini, Sayang." Catherine menarik salah satu kursi di meja makan, lalu membantu Nadien duduk. Setelah itu, ia mengambilkan makanan yang baru saja selesai dimasaknya.
"Nadien suka ayam?"
Nadien mengangguk.
"Suka."
"Kalau sayur?"
Nadien berpikir sebentar, lalu mengangguk lagi.
"Wah pintarnya."
Madeleine sejak tadi memperhatikan ibunya itu, dan kini ia sudah mendekat ke pantry. Ia melihat ibunya itu yang sejak tadi tak seperti biasanya... yang menyebalkan Dan terus-menerus mengomel. Sekarang, ia melihat ibunya itu tampak tenang dan bahkan sesekali tersenyum pada Nadien.
Catherine selesai mengambilkan Nadien makan dengan beberapa lauk. "Sekarang anak cantik makan dulu, dari tadi belum makan ya? Cuma makanin jajan."
Nadien hendak mengambil piring itu, namun Catherine malah menahannya yang membuat Nadien mengangkat kepala menatapnya.
"Mom?" Madeleine sudah menatap ibunya.
Catherine tak mengindahkan putrinya sendiri, ia lalu duduk di kursi samping Nadien. "Oma suapi saja, ya?" ucapnya.
Nadien menatapnya. "Nadien bisa makan sendiri kok, Oma."
"Sudah, Oma suapi saja." Catherine kemudian memberikan satu suap, Nadien pun langsung membuka mulutnya. "Pintarnya."
"Nadien biasanya makan apa kalau di rumah?" Madeleine bertanya.
Catherine langsung menoleh pada putrinya. "Lagi makan jangan banyak ditanya dulu," ucapnya sedikit sinis.
Madeleine mengernyit. "Aku hanya bertanya, Mom. Pasti di rumah Nadien makan yang lebih baik dari ini, sedangkan ini hanya masakan sederhana."
"Biarpun sederhana yang penting kenyang, gizinya cukup juga sudah baik," balas Catherine tak peduli. "Gimana? Enak masakan Oma?" Ia tersenyum pada Nadien, melihat anak itu baru saja selesai mengunyah dan kemudian ia kembali memberikan suapan selanjutnya.
Nadien mengangguk. "Enak, Oma."
Catherine tersenyum lagi. "Nadien suka?"
Nadien mengangguk. "Suka."
Madeleine berkedip, ia berusaha mencerna. Walaupun mungkin... itu hanya sebuah kemustahilan.
"Kakak jemput jam berapa Kak Ine?"
Madeleine kembali melihat ponselnya sebentar. "Katanya jam sembilan nanti, Nadien sabar ya."
Catherine yang tengah mengusap dan memperhatikan rambut Nadien pun seketika tangannya berhenti, ia menoleh ke putrinya. "Efren mau ke sini?"
Madeleine mengangguk. "Dia mau jemput Nadien."
Catherine menunduk dan terdiam sebentar, lalu kembali menatap Nadien. "Besok masih weekend, Nadien libur sekolah?"
Nadien mengangguk. "Iya, Oma," jawabnya.
"Kenapa tidak menginap saja di sini? Nanti tidur sama Oma." Ia memperhatikan wajah itu yang kemudian kembali diciumnya.
Madeleine membelalak mendengarnya. "Mom, Nadien punya rumah," ucapnya mengingatkan ibunya. "Maafin Oma ya Nadien."
Nadien mengangguk. "Nadien mau saja, Oma. Tapi sepertinya tidak boleh sama Kakak." Ia kemudian menggeleng.
"Pelit sekali Efren itu, memang iya begitu?" Ia menoleh untuk bertanya pada Madeleine.
"Mom bahkan gak pernah mengkhawatirkan sesuatu yang bukan urusannya, biasanya hanya memikirkan dirinya sendiri saja," batin Madeleine saat ini.
"Tapi Efren benar sayang ke adiknya ini?" bisik Catherine pada Madeleine.
Madeleine seketika menoleh. "Kenapa harus ditanyakan, Mom? Tentu saja, ini adiknya."
"Mom hanya mengkhawatirkan saja, dan apakah dia bisa menjaga dan merawat anak ini dengan baik setelah kepergian orang tuanya," kata Catherine. "Sayang..." Ia memeluk Nadien.
"Mom tidak pernah mengkhawatirkan seseorang sampai begitu, kecuali memang yang dia manfaatkan seperti aku dan adikku. Apalagi... untuk apa seperti itu ke orang lain? Tidak biasanya." Madeleine mengerutkan dahi.
"Selama ini, Kak Efren baik sama Nadien tidak?" tanya Catherine.
Madeleine langsung kembali mengernyit, tapi kemudian Nadien menjawab. "Baik. Kakak sayang sama Nadien."
"Terlalu basa-basi pada anak kecil, bahkan saat aku kecil saja Mom tidak seperhatian atau pun semanis itu," batin Madeleine lagi, entah mengapa ini sangat mengganggu pikirannya.
Efren menelan ludah kasar. "...Apa tadi?" Ia tentu terkejut, tak menyangka.
"Oma, Tante ini sudah tua. Nadien ini kan lebih cocok jadi anakmu, kenapa begitu saja heran?" balas Catherine.
Efren masih menatap Catherine dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tatapannya kemudian beralih kepada Nadien, lalu kembali kepada Catherine.