Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #33

33. Kembali ke Vancouver.

Pesawat yang membawa mereka akhirnya mendarat di Vancouver setelah perjalanan panjang.


Begitu keluar dari Bandara, udara dingin langsung menyambut. Madeleine menarik sedikit coat yang dikenakannya, sementara Efren berjalan di sampingnya dengan satu tangan membawa tas kerja dan tangan lainnya memasukkan ponsel ke dalam saku coat.


Beberapa orang dari tim Hayes Group sudah menunggu di area penjemputan.


"Mr. Hayes."


Efren mengangguk singkat. "Good afternoon."


"Welcome to Vancouver. Mobil sudah kami siapkan."


"Terima kasih."


Madeleine yang berjalan di sampingnya hanya mengangguk sopan. Ia sudah kembali pada mode kerjanya sejak mereka turun dari pesawat.


"Setelah ini langsung ke hotel?" tanya Madeleine sambil membuka tablet.


Efren menggeleng. "Aku mau langsung ke makam. Kamu tidak masalah, kan?"


Madeleine mengangkat wajah, jemarinya yang tadi hendak membuka agenda berhenti.


"Aku pikir mungkin kamu akan menundanya sebentar, kita baru saja sampai. Mungkin, kamu ingin istirahat dulu?"


"Sudah cukup berjam-jam di pesawat, karena ini juga tujuan utamaku. Tolong segera beritahu arah menuju ke sana, Madeleine."


Madeleine menatap Efren yang tetap berjalan, pandangannya lurus tak menoleh padanya. Ia kemudian mengangguk, tak membantah atau pun menyela lagi.


"Tadi dia bilang, mungkin tak akan langsung. Lalu sekarang, berubah?" batinnya berpikir.


•••


Perjalanan menuju pemakaman berlangsung cukup tenang.


Vancouver sore itu tampak terang, dengan pepohonan di sepanjang jalan bergerak pelan karena tertiup angin.


Madeleine duduk di samping Efren, dan sesekali melirik pria itu yang sejak memasuki area makam terus memandang ke arah jendela.


Mobil akhirnya berhenti. Salah seorang tim yang mengantar mereka hendak ikut turun, tetapi Efren langsung menggeleng.


"Kalian tunggu di mobil."


"Are you sure, Sir?"


Pria itu mengangguk dan kembali duduk, sementara Efren turun lebih dulu disusul Madeleine.


Mereka berjalan berdampingan melewati beberapa baris makam.


Efren menarik pinggang Madeleine agar lebih dekat berjalan di sisinya. "Kamu masih ingat, kan?"


Madeleine menoleh. "Menurut kamu aku lupa?" Ia mengernyit, lalu berjalan lebih cepat.


Hingga kini, Madeleine berdiri di salah satu pusara yang ada di sana. Efren yang berdiri di sampingnya menoleh sebentar ke Madeleine yang langsung diangguki perempuan itu, tak lama Efren berjongkok di dekat nisannya.


Efren menyentuh nisan itu, membaca namanya. "Ini benar?" tanyanya, matanya berkilat.


Madeleine mengangguk.


Efren menggeleng pelan sambil menatap nisan itu, kemudian mengusapnya perlahan. "Entah mengapa, aku tidak yakin..." batinnya. 


"Kamu yakin?" Ia kembali bertanya pada Madeleine tanpa memindahkan pandangannya.


Madeleine mengernyit tipis, lalu mengangguk. "Tentu saja."


Efren masih menatap nisan itu, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu yang bisa membuatnya percaya bahwa apa yang ada di hadapannya benar-benar nyata.


Tangannya kembali menyentuh permukaan batu dingin berbentuk salib di hadapannya.


"Elaine..." Ia menggumam membaca nama itu.


Untuk beberapa detik, tidak ada yang terjadi. Tidak ada jawaban, atau pun suara. Hanya angin yang bergerak melewati pepohonan di sekitar mereka.


Efren menelan ludah. "Ini tempatnya?"


Madeleine kembali mengangguk. "Iya."


"Dan... dia memang dimakamkan di sini?"


Madeleine mengangguk lagi. "Iya, Efren."


Efren menarik napas panjang, matanya masih terpaku pada nama tersebut.


Elaine.


Hanya satu nama. Namun bagi Efren, nama itu membawa begitu banyak hal yang tidak pernah sempat ia miliki.


Seorang anak yang tidak pernah ia lihat, tidak pernah ia dengar tangisannya, dan tidak pernah ia gendong. Bahkan, ia tidak pernah tahu saat Madeleine hamil. Ia tidak tahu kalau anaknya pernah ada, pernah hidup walaupun hanya di dalam kandungan.


"Aku bahkan gak tahu kapan dia lahir." Ia menatap nisan itu dan kembali membaca setiap tulisan yang ada di sana, lalu kedua alisnya terangkat. "Tujuh Februari 2022." Ia mengangguk beberapa kali, lalu tersenyum miring.


"Daddy sama Mommy udah bohongin aku," gumamnya hampir tak terdengar. 


Madeleine menyentuh pundaknya perlahan, lalu diusap pelan. "Kamu gak bisa gitu aja, Elaine udah tenang. Aku udah ikhlas sama semuanya, tolong kamu jangan gini."


Efren beberapa kali, ia telah menunduk dan tak lama terdengar isakannya. 


"Kamu gak ingin memastikan sesuatu?" Kedua tangannya mencengkeram kuat tanah-tanah di antara makam itu. 


Perlahan, urat-urat lehernya mencuat hingga kulitnya terlihat putih.


Madeleine melihat itu, ia pun menggeleng untuk menanggapi pertanyaan Efren tadi.


"Kenapa?" Efren meliriknya.


"Apa yang mau dipastikan?"


Efren kembali tertunduk, tangannya kembali menyentuh nisan. Hingga kemudian... ia mendekat perlahan, memeluknya.


"Kalau memang benar iya... atau pun tidak. Tanpa seizin kamu, aku akan pastikan sendiri, Madeleine," batin Efren. 


Efren bangkit, ia menatap makam itu secara keseluruhan. "Pembongkaran makam."


Ia menoleh menatap Madeleine sebentar, sebelum akhirnya menatap lurus ke depan. "Sekarang, kita kembali." Ia berdiri lebih dulu, lalu melangkah pergi meninggalkan Madeleine yang bahkan baru saja berdiri dari posisinya.


Efren berjalan sangat cepat, sementara Madeleine yang sejak tadi mengikutinya terlihat tergesa-gesa karena langkah pria itu yang lebih berkali-kali lipat darinya.


Madeleine hampir terengah, namun ia tetap berjalan cepat.


Hingga kini, Efren sudah sampai di depan pintu mobilnya yang sudah langsung terbuka. Ia masuk ke dalam sana, sesekali mengusap matanya.


"Mr. Efren baik-baik saja?" tanya sopir yang bersamanya.


Efren diam sejenak, pandangannya ia alihkan ke jendela. Tentu ia tak ingin dilihat dengan keadaan seperti itu, hingga kemudian Madeleine juga ikut masuk dan duduk di sampingnya.


"Jalan aja, kita langsung ke kantor."

Lihat selengkapnya