Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #34

34. Tunangan?

Beberapa minggu kemudian.


Sudah hampir satu bulan sejak mereka tiba di kota itu. Urusan cabang baru Hayes Group ternyata jauh lebih panjang dari perkiraan awal. Meeting demi meeting, pemeriksaan laporan, pembahasan legal, hingga persiapan operasional membuat hari-hari mereka hampir selalu dipenuhi pekerjaan.


Dan selama itu pula, Efren dan Madeleine masih tinggal di The Waverly.


Awalnya Madeleine mengira semuanya hanya akan berlangsung selama beberapa hari.


Ternyata tidak.


Pagi itu, Madeleine baru saja selesai bersiap. Ia mengenakan pakaian kerja, rambutnya digerai rapi, sementara Efren baru saja membuka mata.


"Aku kira kamu masih tidur." Madeleine menoleh ke arah tempat tidur.


Efren mengangkat wajah dari ponselnya. "Aku sudah bangun dari tadi."


Madeleine melihat jam tangannya. "Masih pagi."


"Justru itu."


Madeleine berjalan menuju meja makan dan meletakkan tabletnya. "Meeting pertama jam sepuluh. Sebelum itu ada conference call dengan tim legal Toronto. Setelah makan, aku perlu—"


"Madeleine."


"Ya?"


"Berhenti kerja sebentar."


Madeleine mengernyit. "Kenapa?"


Efren beranjak. "Aku mau mengajakmu keluar."


"Ke mana?"


"Nanti kamu tahu."


Madeleine menatapnya curiga. "Kalau ini urusan kerja—"


"Bukan." Jawaban itu justru membuat Madeleine semakin heran. "Terus?"


"Pokoknya ikut."


Madeleine menghela napas. "Efren, aku harus menyelesaikan—"


"Aku sudah memindahkan jadwalmu."


Madeleine langsung terdiam. "Kamu apakan?"


"Semua meeting pagi ini sudah dipindahkan."


Madeleine menatapnya tidak percaya. "Kamu benar-benar—"


"Tenang. Aku sudah meminta persetujuan semua pihak."


Madeleine mengusap keningnya. "Kenapa tiba-tiba begini?"


Efren hanya tersenyum tipis. "Nanti kamu tahu."


•••


Beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah tempat yang cukup tenang. Madeleine turun dari mobil dan langsung memperhatikan sekeliling.


"Ini di mana?"


Efren tidak menjawab, ia hanya berjalan beberapa langkah di depan Madeleine.


Perempuan itu mengikuti, sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat dengan pemandangan Vancouver yang luas.


Madeleine menatap sekeliling. "Efren..."


Pria itu berbalik. "Aku tahu beberapa minggu terakhir ini semuanya terlalu banyak."


Madeleine diam.


"Kerjaan, cabang baru, dan... pergi ke makam anak kita."


Ekspresi Madeleine berubah sedikit, lalu Efren baru melanjutkan.


"Dan mungkin aku terlalu banyak membawa masa lalu ke dalam kehidupan kita yang sekarang."


Madeleine menunduk. "Aku gak tahu harus bilang apa."


"Aku tahu." Efren menarik napas panjang. "Tapi ada satu hal yang justru membuatku semakin yakin."


Madeleine mengangkat wajah. "Apa?"


"Aku gak mau terus hidup dengan sesuatu yang setengah-setengah."


Madeleine mengernyit. "Efren?"


Pria itu kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya.


Madeleine membeku. "A-Apa?"


Efren membuka kotak tersebut, sebuah cincin terlihat di dalamnya.


Madeleine hanya menatapnya, beberapa detik kemudian matanya membesar. "Kamu..."


Efren menatapnya serius. "Madeleine."


Perempuan itu bahkan belum mampu menjawab.


"Aku gak mau kamu menerima ini karena masa lalu kita."


Madeleine menelan ludah, ia menggeleng perlahan.


"Aku mau kamu menerimanya karena kamu masih punya perasaan untukku."


Madeleine terdiam, kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini sengaja ia sembunyikan. Ia memang pernah mencoba menghilangkan perasaannya, bahkan setelah mengetahui Efren sudah bersama orang lain, Madeleine memaksa dirinya untuk percaya bahwa semua yang pernah mereka miliki sudah selesai.


Ia belajar menerima, dan melepaskan.


Soal belajar... ia melihat Efren sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya sudah sejauh bertahun-tahun yang lalu.


Tapi kemudian ia bertemu kembali dengannya. Awalnya, di pemakaman kedua orang tua laki-laki itu, hingga semakin lama mereka ditakdirkan sering bertemu. Madeleine tentu sangat menyadari, bahwa perasaan yang ia kira sudah mati hanya ia simpan terlalu dalam.


Madeleine menarik napas dalam-dalam, kemudian membuangnya. "Efren."


"Aku serius." Efren lalu berlutut di depan perempuan itu. "Aku mau kamu menikah denganku, bila kamu bersedia. Aku mau kita menjadi satu, bersama lagi, tapi dengan versi lebih baik daripada bertahun-tahun yang lalu. Aku tahu, selama bertahun-tahun ini... kamu banyak memendam sakit, begitu pun aku. Walaupun, rasa sakitku selama kehilangan kamu masih jauh jika dibandingkan dengan rasa sakitmu selama ini. Aku sungguh minta maaf atas semua yang terjadi, Madeleine..." Ia menatap Madeleine dalam. "Aku memintamu menjadi pasangan hidupku tentu bukan karena alasan itu, tapi karena aku masih benar-benar mencintai kamu sampai detik ini. Perasaan itu gak pernah berubah sejak dulu, walaupun aku pernah berusaha membuangnya jauh. Dan sekarang... aku semakin yakin, apalagi aku memiliki Nadien yang juga membutuhkan sosok yang lengkap di hidupnya."


Madeleine menutup mulutnya, sedetik ia memalingkan pandangan sebelum kembali menatap Efren. Ia menatap cincin itu.


"Kamu beneran mau melakukan ini?"


"Iya."


"Kenapa sekarang?"


Lihat selengkapnya