Sore itu, mobil yang membawa Efren dan Madeleine berhenti di depan sebuah rumah besar.
Madeleine yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangkat wajah.
Ia mengenal tempat ini.
Walaupun sudah bertahun-tahun tidak pernah datang, ingatannya tentang rumah tersebut masih tersimpan cukup jelas.
Rumah itu masih sama.
Besar, mewah, dengan halaman luas dan pagar tinggi yang mengelilinginya.
Hanya saja, entah mengapa kali ini tempat tersebut terasa jauh lebih asing.
"Sudah sampai," ujar Efren pelan.
Madeleine tidak langsung menjawab. Tangannya masih berada di atas pangkuan, jemarinya saling menggenggam.
Efren meliriknya. "Kalau kamu gak siap, kita bisa pulang."
Madeleine menggeleng. "Enggak." Ia menarik napas panjang. "Aku sudah terlalu lama juga tidak bertemu dengan Dad."
Madeleine kemudian membuka pintu mobil dan turun, Efren menyusul.
Mereka berjalan menuju pintu utama, sampai seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.
"Selamat sore..." Asisten rumah tangga itu tampak terpaku sebentar. "...Nona Madeleine." Ia lalu menunduk sopan.
"Apa Dad ada?"
Asisten rumah tangga itu langsung mengangguk. "Beliau ada di ruang keluarga, Nona."
Madeleine mengangguk kecil. "Terima kasih."
Ia kemudian berjalan masuk bersama Efren.
Setiap langkah yang ia ambil terasa aneh, seolah-olah ia sedang kembali ke masa dulu saat semuanya belum sekacau sekarang. Untuk bertahun-tahun ini, ia pertama kalinya kembali masuk ke rumah itu.
Hingga akhirnya mereka sampai di keluarga, dan terlihat seorang pria yang sedang duduk di sana.
Ia sedang membaca sesuatu, sampai suara langkah kaki membuatnya mengangkat wajah.
Tatapannya langsung berhenti pada Madeleine.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Pria itu menurunkan benda di tangannya.
"Madeleine?"
Madeleine menelan ludah. "Hi, Dad."
Suasana seketika menjadi hening.
Ayahnya menatap putrinya dari atas hingga bawah, seolah memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya memang benar-benar anaknya.
"Kamu..." Ia berhenti. "Kapan terakhir kali kamu datang ke sini?"
Madeleine tersenyum tipis. "Sudah lama."
"Bukan lama." Pria itu menggeleng pelan. "Sangat lama."
Madeleine tidak membantah, kemudian tatapan ayahnya berpindah kepada Efren.
"Dan dia?" Ayahnya terlihat tengah berusaha mengingat sesuatu. "Pacarmu yang dulu? Kalian... bersama lagi atau..."
Madeleine mengangguk. "Iya. Ini Efren, Dad." Ia menyentuh lengan Efren yang lalu diajaknya mendekat ke ayahnya.
Ayah Madeleine, yaitu Dominic Grant Beaumont duduk di seberang putrinya dan sang kekasih. Ia tampak memperhatikan putrinya, terutama seorang pria muda yang datang bersama putrinya itu.
"Efren Nathaniel Hayes." Ia mengangguk pelan beberapa kali, lalu menunduk untuk sesekali melanjutkan acara membacanya tadi.
Madeleine dan Efren memperhatikan Dominic yang malah fokus dengan kegiatannya, kemudian mereka berdua saling pandang.
"Dad..."
"Om..."
Keduanya memanggil bersamaan, membuat Efren dan Madeleine kembali saling pandang.
Dominic mengangkat wajah, membenarkan kacamatanya yang sedikit turun. "Kalian ke sini ada perlu sesuatu atau..." ucapannya kembali terhenti, ia memperhatikan kedua anak muda itu.
Madeleine diam, sementara Efren mengangguk.
"Lebih tepatnya, saya... ingin berbicara sesuatu dengan Om sebagai ayah Madeleine."
Dominic mendengarkan, ia mengangguk pelan. Kemudian, menegakkan tubuhnya untuk duduk lebih baik.
"Silakan, Efren," ucapnya pelan. "Apa itu sangat penting? Sepertinya kamu sedikit... gugup."
Efren menarik napas, lalu kembali mengangguk. "Cukup penting, Om. Itu kenapa saya mengajak Madeleine datang ke sini, karena saya ingin bertemu dengan Om secara langsung."
"Baik, langsung saja. Mau langsung ke intinya, atau sedikit basa-basi terlebih dahulu tak apa."
Ia memperhatikan Efren dengan baik, namun tak sengaja... pandangannya jatuh pada jari manis tangan kanan Madeleine. Tanpa banyak bicara lagi, atau pun memotong ia pun kembali mendengarkan Efren yang hendak berbicara.
Sementara Madeleine, ia ikut melihat tangan kanannya sendiri kala ayahnya itu sempat memperhatikan. Dan tentu saja, Efren juga menyadari itu.
"Jadi... saya ke sini bersama Madeleine karena kami ingin meminta restu Om Dominic untuk kami."
Ayah Madeleine menatapnya cukup lama. "Untuk menikahi anak saya?"
"Iya," jawab Efren singkat, namun terdengar tegas dan tanpa ragu."
Madeleine menoleh sedikit ke arah Efren.
Dominic kemudian kembali menatap putrinya. "Apa kamu sudah yakin?"
Madeleine terdiam, kemudian ia mengangguk. "Aku yakin, Dad," jawabnya pelan, tersenyum.
Dominic masih menatap putrinya beberapa detik. "Yakin?" tanyanya lagi.
Madeleine mengangguk. "Iya."
"Bukan karena kamu merasa berutang sesuatu kepadanya?"
Madeleine mengernyit. "Maksud Dad?"
"Karena kalian punya masa lalu." Dominic melirik Efren sekilas. "Jangan kamu pikir Dad tidak tahu, bagaimana dulu kamu saat di bangku sekolah. Kamu... banyak berutang kepadanya, karena Efren sudah banyak membantumu dan ibumu, kan?" Ia menghela napas yang terdengar lelah. "Karena dulu, kamu dan ibu terjerat utang-utang ibumu yang tidak jelas itu, tagihan-tagihan yang entah dari mana datangnya."
Madeleine terdiam. Efren hendak berbicara, tetapi Madeleine lebih dulu menggeleng kecil.
"Bukan karena itu, Dad."
Dominic kembali menatapnya.
"Aku dan Efren memang pernah berakhir." Madeleine menarik napas pelan. "Setelah memutuskan kembali bersama, karena aku sekarang juga masih mencintainya."
Dominic tidak langsung menjawab, ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Efren.