Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #36

36. Pernikahan.

Hingga berbulan-bulan kemudian, akhirnya hari itu tiba.


Hari pernikahan yang sudah mereka persiapkan dengan matang sejak beberapa bulan sebelumnya.


Sebelum sampai di hari ini, Madeleine dan Efren sudah melewati cukup banyak hal bersama. Mereka sudah mendapatkan restu dari beberapa pihak keluarga masing-masing, termasuk... Madeleine juga sudah datang bersama Efren ke makam kedua orang tua Efren, mereka berdua yang juga saling membicarakan rencana pernikahan yang telah mereka impikan, menyelesaikan berbagai persiapan, hingga melakukan perjalanan ke Prancis untuk sesi foto pre-wedding mereka di sekitar Menara Eiffel.


Venue pernikahan mereka dipenuhi oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Dekorasi yang telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya terlihat begitu elegan, dengan nuansa putih dan warna-warna lembut yang membuat seluruh ruangan terasa hangat.


Di ujung ruangan, sebuah altar berdiri dengan indah.


Dan di sanalah Efren kini berdiri.


Mengenakan tuxedo hitam yang telah dipilihnya sejak beberapa waktu lalu, pria itu sesekali menarik napas panjang. Tatapannya lurus ke arah pintu besar yang berada di ujung ruangan.


Ia sudah menunggu cukup lama.


Namun ketika musik akhirnya mulai terdengar, seluruh suara di dalam ruangan seolah menghilang.


Pintu perlahan terbuka, Madeleine muncul di sana.


Perempuan itu mengenakan gaun pengantin yang telah mereka pilih bersama. Rambutnya ditata dengan rapi, sementara veil panjang menjuntai di belakang tubuhnya.




Untuk beberapa detik, Efren hanya diam. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun, ia melihat Madeleine berjalan perlahan menuju altar.


Di sampingnya, Nadien ikut berjalan dengan langkah kecilnya, mengenakan dress cantik yang telah disiapkan khusus untuknya. Anak itu tampak beberapa kali melihat ke arah para tamu, sebelum akhirnya kembali memperhatikan Madeleine.


Efren tersenyum kecil ketika melihat mereka.


Madeleine juga tersenyum.


Namun semakin dekat perempuan itu kepadanya, semakin banyak hal yang terlintas di dalam kepala Efren.


Bertahun-tahun lalu, ia bahkan tidak pernah membayangkan akan berdiri di tempat seperti ini bersama perempuan itu.


Dulu, ia kehilangan Madeleine. Dan sekarang, ia justru sedang menunggunya berjalan menuju dirinya.


Ketika akhirnya Madeleine sampai di hadapannya, Efren mengulurkan tangan.


Madeleine menyerahkan tangannya.


"Hi," bisiknya pelan.


Efren tersenyum. "Hello."


Madeleine menahan senyum kecil. "Kamu gugup?"


"Banget."


Madeleine hampir tertawa. "Padahal biasanya kamu terlihat tenang, apalagi kalau udah di depan para karyawan.


"Karena biasanya gak seperti ini, lihat kamu berjalan ke arah aku memakai gaun pengantin."


Madeleine menatap laki-laki itu, ia tersenyum tipis menahan senyumnya yang ingin lebih dari itu.


Nadien yang berdiri di samping mereka kemudian menatap Efren.


"Hello, Princess," sapa Efren, sebelum akhirnya menggandeng tangan Madeleine menuju ke pendeta yang sudah menunggu.


Nadien tersenyum, ia melihat kedua mempelai pengantin itu yang sudah berjalan ke depan sana. Sementara ia sendiri, berbalik hendak menuju ke tempat duduk para keluarga besar.


"Sini, Sayang." Mireya sudah merentangkan tangannya.


Nadien langsung mendekat ke arahnya, ia duduk di kursi samping Mireya.


"Nadien cantik sekali," sapa Keyna tersenyum lebar melihat Nadien. ia sejak tadi memperhatikan apa yang ada di depan sana—termasuk Nadien.


Nadien menoleh, ia pun tersenyum. "Terima kasih, kak Keyna juga cantik." Ia lalu menunduk pelan.


Keyna masih tersenyum, ia sedikit menyentuh jepit rambut yang dipakai Nadien.


Mireya ikut menoleh. "Keyna pengen anak cewek ya? Bikin sana, ajakin Terence," ucapnya, lalu menahan tawa.


"Eh makasih, Aunty. Gak kok, nanti menantunya aja hehe," balasnya meringis, lalu perlahan melepaskan tangannya dari Nadien.


"Bohong itu, sebenernya Keyna pengen banget, Aunty," sahut Willa yang tak jauh.


Keyna langsung menoleh, ia membelalakkan mata menatap Willa. "Sshttt gak ya kak, anakmu aja itu juga udah cewek," lirihnya sedikit menekan.


Terence yang sejak tadi duduk di sampingnya diam saja, namun terlihat menahan tawa melihat istrinya itu bersama beberapa orang.


Acara pemberkatan akan dimulai, para keluarga dan tamu undangan yang hadir pun perlahan mengarahkan perhatian mereka kembali kepada altar.


Pendeta yang berdiri di hadapan Efren dan Madeleine tersenyum sebelum mulai membuka rangkaian prosesi.


"Selamat sore semuanya."


Suasana langsung menjadi lebih hening.


Efren dan Madeleine berdiri berdampingan, tangan mereka masih saling menggenggam.


Madeleine sesekali menarik napas pelan. Entah kenapa, meskipun seluruh persiapan sudah dilakukan berbulan-bulan, baru sekarang ia benar-benar menyadari bahwa hari ini bukan sekadar acara yang mereka persiapkan.


Hari ini, ia benar-benar akan menikah dengan Efren.


Pria yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya, dan tentu ia sendiri tak pernah membayangkan jika hari ini akan tiba. Ia tak pernah membayangkan jika Efren benar-benar akan kembali menjadi bagian hidupnya, dan menikahinya. Karena menurutnya dulu, semua itu adalah hal yang mustahil.


Pendeta mulai menyampaikan beberapa kalimat pembuka mengenai pernikahan dan kehidupan yang akan mereka jalani setelah hari ini.


Efren mendengarkan dan Madeleine mendengarkan dengan serius.


Pendeta kemudian memandang keduanya secara bergantian.


"Efren dan Madeleine, hari ini kalian datang ke hadapan Tuhan untuk mengikat janji pernikahan. Ingatlah bahwa pernikahan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang kehidupan yang akan kalian jalani bersama setelah meninggalkan tempat ini."


Efren dan Madeleine mengangguk pelan.


Pendeta kemudian memberikan kesempatan kepada keduanya untuk menyampaikan janji masing-masing.


Efren lebih dahulu menarik napas panjang.


Ia menatap Madeleine cukup lama sebelum akhirnya berbicara.


"Madeleine Rose Beaumont."


Perempuan itu mengangkat wajah.

Lihat selengkapnya