Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #37

37. Kejutan mendalam hari pernikahan.

Catherine menatap putrinya cukup lama. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang langsung keluar.


Madeleine yang melihat perubahan ekspresi ibunya mulai merasa tidak nyaman.


"Mom?"


Catherine menarik napas panjang. "Madeleine, sebelum Mom cerita... Mom mau kamu mendengarkan sampai selesai."


Madeleine menatap ibunya itu. "Tentu aku akan mendengarkan, Mom."


Catherine menatap putrinya, lalu menunduk dengan jemari saling menggenggam erat. "Ini tentang sesuatu yang sudah aku simpan selama bertahun-tahun."


Madeleine memiringkan wajah, dahinya mengernyit. "Apa itu rahasia?"


Catherine mengangguk pelan. "Dan aku tahu... setelah kamu mendengarnya, mungkin kamu akan marah padaku, Madeleine."


Madeleine terdiam. Ia menatap wajah ibunya yang terlihat jauh lebih serius dari biasanya. "Mom tidak perlu membuat aku takut seperti itu."


Catherine terdiam, ia menatap putrinya itu.


"Kalau memang ada sesuatu, bilang saja."


Catherine kembali menarik napas, kali ini lebih panjang. "Beberapa waktu lalu, Mom mendapat kabar kalau ada seseorang yang melakukan pembongkaran makam."


Madeleine masih belum memahami maksudnya. "Makam siapa?"


Catherine tidak langsung menjawab. "Makam anakmu."


Madeleine membeku. "Makam anakku?"


Catherine mengangguk. "Iya."


Untuk beberapa detik, Madeleine hanya menatap ibunya tanpa suara. Wajahnya perlahan berubah, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.


"Kenapa... makam anakku dibongkar?"


Catherine menunduk.


"Mom juga tidak tahu."


Madeleine mengernyit. "Maksudnya?"


"Beberapa waktu lalu, Mom mendapat kabar kalau ada seseorang yang membongkar makam itu."


"Gak mungkin." Suara Madeleine terdengar pelan. "Siapa yang melakukan itu?"


"Kenapa ada orang yang mau membongkar makam anakku?"


Catherine kembali diam.


Madeleine mulai merasa ada sesuatu yang aneh.


"Mom?"


"Mom sendiri tidak tahu siapa yang melakukannya."


Madeleine menggeleng. "Terus sekarang gimana?" Matanya sudah berkaca-kaca, bibirnya bergetar.


Catherine diam, ia berkedip pelan menatap anaknya. "Maafkan aku kalau selama ini aku sudah membohongimu, Madeleine."


Madeleine menatap ibunya nanar. "Maksud Mom apa?"


Catherine masih menatap putrinya, ia menarik napas. "Selama bertahun-tahun, makam itu sebenarnya kosong dan tidak ada siapa pun di dalamnya."


Madeleine menatap ibunya tak percaya. "Maksud Mom apa?" Ia menggeleng beberapa kali. "Kenapa gak ada siapa-siapa?"


"Mom tidak tahu yang melakukan pembongkaran itu, tapi dari situ justru Mom ingin mengatakan hal yang sangat penting." Catherine menatap lurus putrinya. "Yang selama ini, kamu atau pun Efren tidak tahu."


Madeleine terus menatap ibunya, menunggu kalimat selanjutnya.


"Asal kamu tahu, Nadien itu anak yang kamu lahirkan. Dia anakmu, Madeleine. Itu kenapa, Mom menyayanginya sejak pertama kali bertemu saat kamu membawanya ke apartemen."


Detik itu juga, napas Madeleine tidak beraturan. Matanya membulat, dadanya terasa sangat sesak. Lalu... ia menggeleng berkali-kali, sedikit menunduk.


"Gak." Tangannya hendak meraih sesuatu, tubuhnya terasa melemas begitu saja. "Nadien..." gumamnya.


Hingga detik berikutnya...


Bruk!


Catherine membelalak ketika tubuh Madeleine tiba-tiba kehilangan keseimbangan.


"Madeleine!"


Ia segera berjongkok di samping putrinya, menahan tubuhnya agar tidak terbentur lantai lebih keras.


"Madeleine... bangun."


Namun Madeleine tidak menjawab.


Wajahnya terlihat pucat. Matanya terpejam, sementara napasnya terdengar pelan dan tidak beraturan.


Catherine mulai panik. Ia menepuk pelan pipi putrinya.


"Madeleine? Dengar aku."


Tidak ada respons.


Catherine menoleh cepat ke arah luar ruangan.


"Tolong!"


Suara itu membuat beberapa orang yang berada tidak jauh dari sana langsung menoleh.


menoleh.


"Someone, please help!"


Beberapa anggota keluarga yang mendengar teriakan Catherine segera datang. Suasana yang sebelumnya tenang mendadak berubah.


"Ada apa?" tanya salah seorang dari mereka.


"Madeleine pingsan," jawab Catherine dengan suara bergetar. "Tolong panggil Efren."


Lihat selengkapnya