Catherine menatap menantunya itu dan membeku beberapa saat. "...A-Apa?" Ia menggeleng beberapa kali, menutup mulutnya tak percaya.
Senyum miring Efren muncul. "Kenapa Mom terlihat terkejut? Harusnya aku dan Madeleine yang terkejut dengan semua itu."
Catherine menunduk, ia masih menutup mulutnya sambil menggeleng pelan beberapa kali.
"Kenapa kamu melakukan itu, Efren?" Ia bertanya karena tak percaya.
"Harusnya saya yang bertanya-tanya karena sudah dibohongi selama bertahun-tahun." Efren menatap lurus. "Setelah mengetahui kalau Madeleine sempat hamil beberapa tahun lalu, dan usia anak kami sama dengan Nadien... aku tidak sebodoh itu."
Catherine masih tidak berani kembali menatap menantunya itu, ia masih terdiam sambil menutupi mulutnya dengan air mata yang menetes.
"Anda telat mengatakan ini semua kepada saya, karena saya sudah tahu semuanya."
Catherine mengangkat wajah. "Termasuk Nadien anak kamu? Kamu tahu dari mana?"
Efren mengangguk. "Tentu saja, saya tidak cukup bodoh untuk itu."
Catherine menggeleng, perlahan matanya memicing menatap laki-laki muda itu. "Kalau aku telat mengatakan ini, lalu apa dengan kamu yang bahkan tidak pernah tahu Madeleine hamil? Boro-boro bertanggung jawab." Ia mendecih pelan, lalu kembali memalingkan wajah. "Justru orang tuamu sudah sangat merendahkannya."
Efren menatap ibu mertuanya itu, matanya berkilat mendengarnya. Ia tentu sudah tahu hal itu, dan ia juga tak suka dengan cara orang tuanya memperlakukan Madeleine.
"Kalau saya tahu sejak dulu, saya tidak akan membiarkan Madeleine menanggung ini tanpa saya." Ia menunduk sejenak.
"Terima kasih, karena sudah jujur." Efren kemudian meninggalkan wanita itu seorang diri, ia hendak kembali menemui Madeleine.
Di depan kamarnya, beberapa orang berkumpul.
"Efren, kamu dari mana saja?" Mireya bertanya padanya saat ia baru kembali.
Ia melirik sebentar ke belakang, ibu Madeleine tidak mengikutinya kemari.
"Ada sesuatu yang baru aku bicarakan dengan Mom Madeleine."
Mireya mengangguk, ia mengusap bahu keponakannya itu. "Kalau begitu, kamu masuk dulu."
Jisu mengangguk. "Dia mengalami syok, Efren. Ada apa sebenarnya? Sekarang dia sudah sadar, dan ada Angela di dalam."
Efren mengangguk singkat, tanpa menjawab pertanyaan Jisu ia langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Madeleine, kamu sebenarnya kenapa?" tanya Angela menatap Madeleine yang kini kembali menatap lurus ke depan, ia baru saja menaruh segelas air putih ke meja.
Madeleine menatap Angela. "Terima kasih, Kak."
Tak lama, muncul Efren dari arah pintu. Angela mengerti itu, ia beranjak.
"Kalau begitu, aku keluar."
Efren mengangguk. "Terima kasih, kak."
Angela keluar dari kamar itu, sementara Efren sudah duduk di dekat Madeleine.
Madeleine belum menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu, ia masih menatap lurus ke depan. Bukan tak menyadari kehadiran Efren, melainkan ia masih merenungi hal yang baru saja ia ketahui.
"Sepertinya aku baru saja mimpi," ucapnya akhirnya.
Efren menatap perempuan itu, ia menarik wajahnya pelan. "Gak, semua yang baru saja kamu ketahui itu benar adanya. Mom akhirnya jujur ke kamu."
Madeleine perlahan mengangkat wajah, ia menatap kedua netra Efren. Senyum tipis muncul, bersamaan dengan satu per satu tetes air yang turun dari kedua sudut matanya. Bibirnya bergetar, hendak mengatakan sesuatu namun terasa sulit.
Ia menggeleng. "Kamu tahu?"
Sesaat Efren tidak menjawab. "Tentu aku baru tahu juga, tapi beberapa waktu lalu aku mencari tahu semuanya sendiri. Dan sekarang, ibu kamu mengatakan yang sejujurnya dengan sendirinya."
Madeleine memejamkan mata, dan tangisnya pecah.
Efren langsung mendekap tubuh itu, menaruh kepala istrinya di dadanya.
"Kenapa Mom tega bohongin aku selama itu..." Madeleine menggeleng beberapa kali dalam dekapan Efren.
Efren menarik napas, matanya memejam menahan semua rasa yang tentu saja akan meledak. "Aku juga kecewa sama semuanya, dan aku juga baru tahu," ucapnya di sela-sela tangisan pelan Madeleine di dadanya.
"Sekarang di mana Mom? Aku mau bicara! Aku mau Mom jelasin dengan benar! Aku tidak begitu saja menerima ini, Efren!" Madeleine menggeleng cepat berkali-kali, emosinya hampir meledak namun Efren mengusap kepalanya.
"Mom sudah keterlaluan! Aku bodoh bertahun-tahun ini! Aku gak ngerti sama diriku..." Ia meremas rambutnya sendiri, yang perlahan Efren meraih kedua tangannya itu.
"Sshhtt, iya, aku ngerti." Efren masih berusaha mendekap istrinya itu, berusaha menenangkannya.
"Aku terlalu positif thinking sama ibuku sendiri, yang justru dia yang juga paling besar membiarkan aku dengan semua kebohongan itu, dan... dia sendiri yang membuat itu semua."
Suara Madeleine semakin bergetar. Ia menundukkan wajah, kedua tangannya masih berada dalam genggaman Efren.
"Bertahun-tahun, Efren..." lanjutnya pelan. "Aku percaya sama Mom. Aku percaya waktu dia bilang anakku sudah meninggal. Aku bahkan datang ke makam itu..."
Ia berhenti, napasnya tercekat.
"Aku menangisi seseorang yang ternyata bahkan tidak pernah ada di sana."
Efren terdiam, kalimat itu membuat dadanya terasa semakin berat.
Madeleine mengangkat wajahnya kembali. Air matanya masih mengalir, tetapi kali ini tatapannya mulai dipenuhi kemarahan.
"Dan selama ini Nadien ada di depan aku."
Efren menatapnya.
"Dia ada di depan aku selama ini." Suara Madeleine pecah. "Aku bahkan tidak tahu kalau anak yang selama ini sudah aku sayangi itu anakku sendiri."
Efren menggenggam tangannya lebih erat. "Aku ngerti."
"Tidak." Madeleine menggeleng cepat. "Kamu tidak tahu rasanya, Efren."
"Aku tahu aku tidak bisa tahu persis apa yang kamu rasakan." Efren menarik napas panjang. "Tapi aku tahu satu hal. Aku juga marah."
Madeleine terdiam.
"Aku marah karena orang tuaku melakukan hal yang sama. Mereka tahu Nadien anak kita, tapi mereka juga memilih diam." Tatapan Efren turun sebentar. "Dan aku lebih kecewa karena mereka tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk tahu kebenarannya, justru... mereka bilang Nadien adik aku."
Madeleine kembali menunduk. "Kenapa semuanya harus disembunyikan dari kita?"
Efren tidak langsung menjawab. "Karena mereka pikir mereka bisa menentukan apa yang terbaik untuk kita."
Madeleine tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Terbaik?" Ia menggeleng. "Memisahkan seorang ibu dari anaknya selama bertahun-tahun itu bukan sesuatu yang terbaik. Apa tujuan mereka?!"
"Itu kenapa aku memutuskan membongkar makam atas nama Elaine itu."
Madeleine menatap suaminya. "Kamu yang melakukannya?" Ia menggeleng tak percaya.
"Maaf, karena tanpa seizin dan sepengetahuan kamu. Aku melakukannya, karena aku butuh untuk membuktikan semua kecurigaan aku semenjak... tahu kamu pernah hamil. Dari beberapa hal yang aku tahu—usia Nadien dan... hal-hal lain, itu semua mengganggu pikiranku."
Madeleine menatap suaminya itu dan menggeleng tak percaya, ia bahkan tak pernah menduga apa pun selama ini. Mungkin pernah... tapi ia selalu membuang jauh pikiran yang menurutnya mustahil.
Pintu terketuk, dan tak lama seseorang masuk.
Madeleine langsung mengangkat wajah untuk melihat, sementara Efren juga menoleh namun raut wajahnya langsung berubah ketika melihat siapa yang datang.
Catherine berdiri di ambang pintu.
Wajahnya masih terlihat sembap. Matanya merah, jelas ia baru saja menangis setelah pembicaraannya dengan Efren.
Madeleine terdiam, tatapan keduanya bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Efren perlahan berdiri dari tempat duduknya.
Catherine menatap putrinya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Madeleine..."
Mendengar namanya disebut, Madeleine justru memalingkan wajah.
"Kenapa Mom ke sini?" Suaranya terdengar datar.
Catherine menelan ludah. "Mom mau bicara sama kamu."
Madeleine tertawa kecil tanpa menatapnya. "Bicara?"
Catherine terdiam.
"Setelah bertahun-tahun, baru sekarang Mom mau bicara sama aku?"
"Madeleine..."
"Kenapa?"
Kali ini Madeleine menatap ibunya. "Kenapa baru sekarang, Mom?"
Catherine tidak mampu menjawab.
Madeleine mengusap pipinya yang masih basah. "Kenapa Mom baru bilang kalau Nadien itu anakku setelah aku menikah dengan Efren?"
"Mom minta maaf."
"Jangan minta maaf dulu." Suara Madeleine bergetar. "Aku mau tahu semuanya." Ia menggeleng pelan. "Dari awal."
Catherine menarik napas panjang. "Madeleine..."
"Dari awal, Mom." Madeleine menatap ibunya itu dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau tahu kenapa aku bisa percaya anakku meninggal."
Catherine menunduk.
"Kenapa Mom membuat makam kosong itu?"
Pertanyaan tersebut membuat Catherine kembali menutup matanya.
"Karena waktu itu..." Suaranya tertahan. "Mom takut."
"Takut apa?"
"Takut semuanya terbongkar."
Madeleine mengernyit.
"Jadi Mom memang tahu?"
Catherine mengangguk pelan. "Iya."
Madeleine langsung memejamkan mata. Air matanya kembali jatuh. "Sejak kapan?"
Catherine tidak menjawab beberapa detik. "Sejak kamu melahirkan Nadien."
Madeleine membeku. "Jadi sejak hari itu... Mom sudah tahu anakku masih hidup?"
"Iya, Mom tahu, Madeleine."
"Dan Mom membiarkan aku percaya dengan ucapan Mom kalau dia meninggal?"
Catherine menunduk semakin dalam. "Iya."
Madeleine menggeleng perlahan. Stangannya menutup mulut, berusaha menahan tangis yang kembali muncul.
"Ya Tuhan..."