Efren mendengarkan semua yang diceritakan oleh ibu dari Madeleine, dan ia benar-benar tidak menyangka pada kedua orang tuanya. Dirinya... bahkan tak mengetahui hal itu selama bertahun-tahun, baru setelah Madeleine mengatakan sendiri jika ia pernah hamil... perlahan Efren tahu semua rahasia itu.
"Jadi memang itu benar-benar yang Mommy dan Daddy inginkan..." gumam Efren, ia menunduk tetapi terlihat dari tatapannya bahwa sangat ada kekecewaan di sana.
Ia kemudian menatap Madeleine yang masih sesekali terisak.
Efren tidak langsung mengatakan apa pun. Tatapannya berpindah pada wajah istrinya yang masih basah oleh air mata, kemudian kembali kepada Catherine.
"Selama ini..." Efren menarik napas pelan. "Aku bahkan sempat mengira semuanya berakhir karena keadaan."
Catherine terdiam.
"Aku pikir setelah kami berpisah, Madeleine memang sudah tidak ingin ada hubungannya lagi denganku."
Catherine masih terdiam.
Efren mengembuskan napas panjang, kemudian menatap Madeleine lagi. Perempuan itu masih menundukkan wajah, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Perlahan, ia mendekat.
"Aku tidak pernah tahu kalau ternyata selama ini ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar hubungan kita yang berakhir."
Efren mengusap pelan punggung tangan Madeleine.
"Dan sekarang... mungkin semuanya sudah terlambat untuk dikembalikan seperti semula, aku masih berpikir bagaimana caranya aku bilang ke Nadien." Ia berhenti sejenak. "Tapi setidaknya sekarang aku sudah tahu semuanya."
Madeleine menoleh. "Jangan sekarang, kasihan dia masih kecil. Kalau tiba-tiba bilang, dia pasti bakalan kecewa."
•••
Sementara itu, di luar kamar, suasana pernikahan yang sebelumnya dipenuhi kebahagiaan dan kesakralan telah berubah menjadi penuh tanda tanya.
Acara yang seharusnya masih berlangsung terpaksa dihentikan sementara setelah Madeleine tiba-tiba pingsan, para tamu undangan yang sebelumnya duduk menikmati acara kini mulai saling berbisik.
"Ada apa sebenarnya?"
"Katanya Madeleine pingsan."
"Kenapa sampai dibawa ke kamar?"
"Dia sakit?"
"Efren ke mana?"
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan.
Beberapa tamu undangan bahkan mulai mendekati keluarga Rouvin untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mireya yang kini berada di area acara pernikahan pun berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang.
"Tenang dulu. Madeleine hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat."
"Cuma pingsan?" tanya salah satu tamu.
Mireya mengangguk. "Iya. Jangan terlalu khawatir."
Namun tentu saja jawaban itu tidak benar-benar memuaskan siapa pun, apalagi pernikahan tersebut merupakan acara besar dengan banyak tamu yang hadir.
Di sisi lain, beberapa sepupu Efren justru terlihat semakin penasaran.
Chio berdiri tidak jauh dari Orfeo dan Zoren sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar.
Zoren yang tengah menggendong anaknya sejak tadi pun juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa iya kak Madeleine hamil?"
Plak!
Tabokan ringan langsung mendarat di pantat Chio.
Chio melirik pantatnya yang ditepuk, ia langsung menghindar dari kakaknya itu karena tentu saja terkejut.
Orfeo yang berada persis di samping adiknya itu mendelik seketika pada Chio. "Hust. Mulut lo dijaga, ini acara gede lagi ramai."
"Gue cuma tanya, lagi pula pingsan tiba-tiba tuh kenapa? Gak ada yang jawab," ujarnya, kali ini sedikit berbisik.
Orfeo kemudian. menunjuknya dengan tatapan memperingatkan. "Kalau lo ngomong begitu di depan para tamu, yang ada satu gedung ini langsung bikin cerita sendiri."
Chio mengerucutkan bibir. "Iya... maaf."
"Padahal kalau benar, lucu juga," sahut Zoren tanpa merasa bersalah, lalu tertawa pelan dengan raut wajah senang.
"Tobat lo, udah punya anak juga," balas Orfeo, matanya melirik tajam.
Zoren cengengesan. "Yang lebih tua, nikah aja belum," lirihnya, kemudian kembali tertawa pelan—ia memang menyindir Orfeo.
"Diem. Tua-tua gini juga diledekin mulu sama yang lebih muda." Wajah Orfeo sudah masam.
"Tinggal gue doang yang belum lompatin kakak pertama ini, hehe," ucap Chio menatap kakak pertamanya itu.
Orfeo hanya melirik adik bungsunya—Chio. "Udah biasa," gumamnya, lalu kembali menatap ke arah depan—tempat para tamu berada.
Tak lama kemudian, Efren akhirnya keluar dari kamar. Seketika setelahnya, beberapa orang menoleh kepadanya.
"Efren!"
"Kondisi Madeleine bagaimana?"
"Dia kenapa?"
"Acara dilanjutkan atau bagaimana?"
Pertanyaan datang hampir bersamaan, membuat Efren berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya menyapu orang-orang yang berkumpul, dan ia tahu tidak mungkin menjelaskan semuanya sekarang.
"Iya, Efren. Sebenarnya apa yang sudah terjadi, mengapa Madeleine bisa tiba-tiba pingsan?" Mireya mendekat pada keponakannya itu agar lebih leluasa bertanya dengan jelas.
Efren akhirnya menarik napas pelan. "Seperti kata dokter tadi, Madeleine hanya mengalami syok dan kelelahan."
Beberapa orang langsung saling pandang.
"Syok?"