Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #40

40. Perebutan hak asuh.

Beberapa hari telah berlalu sejak pernikahan Efren dan Madeleine.


Suasana di Mansion Rouvin terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari pernikahan mereka. Rumah besar tempat kakek dan nenek dari pihak keluarga sang ibu itu tinggal memang selalu menjadi tempat berkumpul keluarga ketika ada sesuatu yang harus dibicarakan bersama.


Sore itu, hanya ada beberapa orang di ruang keluarga.


Efren dan Madeleine duduk berdampingan di salah satu sofa. Di hadapan mereka ada Jose bersama Jisu, sementara Mireya duduk di sisi lain bersama Juan.


Mereka berada di sana bukan hanya serta merta tanpa alasan, melainkan ada sebuah hal sangat penting yang akan mereka bicarakan.


Sejak pernikahan itu selesai, pembicaraan mengenai siapa yang nantinya akan mengasuh Nadien mulai muncul. Selama ini, gadis kecil itu memang tinggal dan tumbuh bersama keluarga besar Rouvin, tetapi setelah Efren dan Madeleine resmi menjadi pasangan suami istri, keadaan tentu akan berubah.


Efren sudah mengambil keputusan, jika Nadien akan ikut bersamanya dan Madeleine.


Namun rupanya, keputusan itu tidak semudah yang ia bayangkan.


"Efren, apa tidak sebaiknya untuk sementara waktu kamu dan Madeleine tinggal berdua saja. Urusan Nadien, masih ada kami semua. Kami menyayangi Nadien, Aunty juga sudah sangat senang jika dia tinggal bersama Aunty." Mireya membuka pembicaraan di antara mereka.


Efren menatap Auntynya itu itu dengan mata tajamnya. "Kenapa, Aunty? Bukannya sudah ada perjanjian, kalau aku sudah menikah maka Nadien bisa ikut bersama aku lagi."


Juan menarik napas. "Yang kami lihat, Nadien juga sepertinya sudah nyaman tinggal bersama Aunty dan Uncle, Efren. Atau... dia juga sesekali di sini bersama Lolo dan Lola, atau pun Uncle Jose dan Aunty Jisu jika mereka sedang berada di sini." Ia menatap Jose dan Jisu sekilas.


Juan yang duduk di samping Mireya mulai melirik istrinya. Ia tahu pembicaraan ini mungkin akan menjadi lebih panjang daripada yang mereka bayangkan.


Mireya tetap tenang. "Aunty sama sekali bukan bermaksud memisahkan Nadien dari kamu."


Efren mengernyit. "Lalu apa lagi? Alasan apa lagi yang mau menghalangi aku untuk kembali meminta Nadien denganku lagi? Sekarang aku sudah menikah, seharusnya tidak ada alasan lain yang menghambat aku untuk mendapat hak asuhnya."


Madeleine yang sejak tadi diam akhirnya menyentuh lengan suaminya pelan. "Jangan pakai emosi," ucapnya pelan, mengingatkan.


Lolo dan Lola sejak tadi memperhatikan pembicaraan itu, hingga detik di mana kakeknya kemudian mulai membuka suara.


"Efren."


Efren menoleh pada kakeknya.


"Nadien itu adikmu, dan kami semua yang berada di sini sama-sama menyayanginya seperti kamu menyayanginya. Tidak ada masalah jika adikmu tinggal di mansion ini, atau pun di rumah Mireya dan Juan."


Lola menarik napas pelan. "Catalina mungkin akan lebih tenang di sana jika kita menjaga putri kecilnya bersama-sama, bukan malah berebut."


Efren menatap mereka semua dengan raut wajah sulit diartikan. "Tapi aku lebih berhak." 


Jose menatap keponakannya. "Kami mengerti, Efren. Kalau kamu ingin mengambil alih hak asuh adikmu, tidak ada masalah dengan itu. Uncle Jose dan Aunty Jisu juga memiliki Terence yang bahkan sudah memiliki dua anak, dia seumuran kamu. Dari kami, tidak ada yang meragukan kamu sama sekali. Namun... maksud Aunty Mireya dan Uncle Juan, juga Lolo dan Lola, mungkin mereka menginginkan kamu untuk hidup berdua dulu dengan istrimu, mereka mengkhawatirkan kamu."


Efren terdiam.


Ia tahu apa yang dikatakan Jose ada benarnya. Semua orang di ruangan itu bukan sedang berusaha mengambil Nadien darinya. Mereka hanya melihat keadaan dari sisi yang berbeda.


Namun tetap saja, ada satu hal yang membuat Efren sulit mengalah.


"Aku tidak perlu dikhawatirkan," jawabnya akhirnya. "Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."


Jose mengangguk pelan. "Uncle tahu."


"Tapi kalau Nadien ikut denganku, aku bisa memastikan semuanya sendiri."


Mireya langsung menyahut, "Dan bagaimana dengan Madeleine?"


Efren menoleh pada istrinya.


Madeleine yang sejak tadi hanya mendengarkan pun ikut mengangkat wajah.


Mireya melanjutkan, "Kalian baru beberapa hari menikah. Kalian bahkan belum benar-benar menjalani kehidupan sebagai suami istri. Sekarang kamu langsung membawa seorang anak untuk tinggal bersama kalian. Bukan berarti itu tidak boleh, tapi apakah kamu sudah memikirkan bagaimana perubahan itu akan memengaruhi kehidupan kalian?"


"Aku sudah memikirkannya."


"Benarkah?"


Nada suara Mireya masih lembut, tetapi pertanyaannya cukup membuat Efren terdiam.


"Menjadi kakak yang menyayangi Nadien berbeda dengan menjadi orang tua yang bertanggung jawab atas seluruh kehidupannya," lanjut Mireya. "Kamu harus memikirkan sekolahnya, kesehatannya, rutinitasnya, kebutuhan sehari-harinya—walaupun, Nadien memiliki pengaruh sendiri, dan Bi Lena tentu mengurus itu semua. Namun, tetap saja semua itu juga butuh pengawasan, bahkan hal-hal kecil yang selama ini mungkin tidak pernah kamu pikirkan karena selalu ada orang lain yang mengurusnya."


Efren menatap Auntynya tanpa menjawab, kemudian Madeleine perlahan menyentuh tangan suaminya di atas sofa.


"Aku sama sekali tidak keberatan Nadien tinggal bersama aku dan Efren."


Semua mata langsung beralih kepadanya.


Madeleine menarik napas. "Justru aku ingin dia tinggal bersama kami."


Efren menoleh.


"Tapi aku juga tidak ingin keputusan ini diambil hanya karena Efren merasa harus mengambil Nadien sekarang juga."


Mireya mengangguk kecil. "Itu maksud Aunty."


Madeleine melanjutkan, "Aku ingin Nadien datang ke rumah kita ketika semuanya sudah benar-benar siap. Bukan karena kita sedang mempertahankan hak kita atas dia."


Efren menatap Madeleine cukup lama, lalu mengernyit heran. "Kamu juga berpikir aku belum siap?"


"Bukan begitu." Madeleine menggeleng. "Aku cuma ingin kita memastikan Nadien tidak merasa seperti sedang dipindahkan dari satu rumah ke rumah lain."


Kalimat itu membuat suasana seketika lebih hening.


Jose menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Nah. Itu yang sebenarnya perlu kalian pikirkan."


Jisu yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. "Nadien mengenal semua orang di sini. Kalau tiba-tiba setelah pernikahan kalian dia harus pindah lagi, tentu akan ada penyesuaian lagi untuknya."


Efren mengusap wajahnya pelan. "Aku tidak bermaksud sama sekali menjauhkannya dari kalian."


"Kami tahu," jawab Jisu. "Makanya tidak ada yang bilang kamu tidak boleh membawanya."


Efren kembali menatap Jose. "Lalu apa yang kalian inginkan?"


Jose tidak langsung menjawab, ia melirik Jisu sebentar sebelum akhirnya kembali menatap Efren.


"Beri Nadien waktu."


"Berapa lama?"


"Tidak ada angka yang harus dipaksakan."


Efren mengernyit.


"Uncle maksudkan, lakukan secara bertahap. Nadien akan pulang ke mansion Hayes, dan membiasakan tinggal bersama kamu juga Madeleine." Jose berhenti sejenak. "Kalau setelah beberapa waktu Nadien memang benar-benar sudah nyaman, barulah kalian bisa sepenuhnya mengambil hak asuhnya."


Efren masih terlihat belum puas. "Dan kalau aku tetap ingin dia tinggal denganku mulai sekarang?"


Mireya kembali menyela. "Kalau begitu, tanyakan pada Nadien."


Efren terdiam.


Mireya menatapnya lembut. Dia bukan barang yang sedang kita bagi."


Kalimat itu membuat Efren menatap Mireya lurus, tatapannya bahkan kembali menajam pada Auntynya itu.


Juan kemudian ikut berbicara. "Efren, kalau Nadien memang ingin tinggal bersamamu dan Madeleine, kami tidak akan menghalangi. Aunty Mireya juga tidak akan menghalangi."


Mireya mengangguk. "Tapi jangan sampai karena kamu merasa paling berhak, kamu lupa bahwa kami semua memiliki hak yang sama untuk mengasuh Nadien dan memastikannya tumbuh dengan baik."


"Mengapa seperti sulit sekali? Terlalu banyak syarat. Padahal dulu Aunty mengambilnya dariku dengan banyaknya alasan," ujar Efren, ia mulai menatap tak suka pada Mireya.


Mireya menarik napas. "Aunty sama sekali tidak berniat seperti itu, Aunty hanya ingin memastikannya benar-benar baik-baik saja."


"Kita tidak memiliki hak yang sama, aku lebih berhak dari siapa pun," lanjut Efren, dahinya sudah mengerut dengan kedua tangan mengepal.


Mireya memiringkan kepala dan mengernyit mendengar ucapan keponakannya itu. "MengapA kamu berbicara seperti itu, Efren? Kami semua di sini, sama-sama keluarga Nadien."


"Karena Nadien a—" Efren menghentikan ucapannya, ia menoleh pada Madeleine yang buru-buru menyentuh lengannya. Tatapannya kini bertanya-tanya pada istrinya itu.


Madeleine menatap suaminya itu, memberi isyarat dari tatapan matanya dan menggeleng sangat kecil.


Efren menarik napas, ia membuangnya dengan mata yang sudah memejam lelah. "Karena tentu saja Nadien itu adikku, Mommy dan Daddy sudah menitipkannya padaku saat mereka masih ada di dunia ini, dan aku... aku sudah berjanji akan menjaganya dengan baik bersamaku. Aku akan memberikan yang terbaik untuknya apa pun itu, aku mampu."


"Tidak ada yang meragukan kamu soal itu, Efren. Lolo sendiri sangat yakin kamu mampu dengan semuanya, kamu sudah dewasa dan kami semua mengerti. Apalagi... dengan Hayes Group yang Lolo lihat sudah semakin berkembang, di masa depan mungkin... bisa menyaingi Rouvin." Lolonya tersenyum tipis, lalu mengambil minum yang sudah dipersiapkan di meja hadapannya.


Mendengar itu, Efren langsung menggeleng. "Kalau menyaingi Rouvin, tidak juga. Rouvin jauh lebih tinggi."


Tuan Gideon Rouvin menggeleng pelan melihat cucunya itu. "Tidak juga. Hayes sudah cukup baik, begitu pula dengan Montemayor."

Lihat selengkapnya