Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #41

41. Izin pergi ke panti.

Saat ini, usia Nadien sudah sembilan tahun.


Sudah cukup lama sejak akhirnya ia tinggal bersama Efren dan Madeleine di Mansion Hayes. Kehidupan Nadien pun perlahan berubah. Ia kini terbiasa berada di antara Efren dan Madeleine, mengikuti rutinitas keduanya, dan mendapatkan perhatian yang bahkan terkadang terasa berlebihan dari Madeleine.


Sekitar satu tahun terakhir, mereka juga menetap di Korea Selatan karena Efren harus mengurus perkembangan Hayes Group yang baru dibangun di sana. Meski begitu, Nadien tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.


Kini, Madeleine juga sedang mengandung—adik Nadien—setelah hampir dua tahun pernikahannya dan Efren.


Pagi itu, Nadien baru saja turun dari lantai atas ketika melihat Madeleine sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Kak Ine."


Madeleine langsung menoleh. "Ya, Sayang?"


Nadien berjalan mendekat pada Madeleine, lalu berdiri di dekatnya. "Boleh tidak kalau Nadien... ingin pergi. Nadien ingin main lagi ke panti."


Madeleine mengernyit. "Panti?" Ia tampak berpikir, karena memang tidak tahu. "Panti apa, Sayang?"


"Panti," jawab Nadien polos. "Waktu ada acara di sekolah bersama teman-teman dan guru... Nadien sempat bermain ke panti. Terus... Nadien waktu itu dapat teman, dia baik, punya kucing banyak, dan Nadien ingin juga..." katanya, lalu raut wajahnya tampak memohon.


Madeleine masih menatap putrinya dengan sedikit bingung. Selama mereka tinggal di Korea, Nadien memang beberapa kali menyebut panti tersebut, tetapi Madeleine tidak menyangka keinginan itu muncul lagi sekarang.


"Kamu mau ke sana sendiri?"


Nadien menggeleng pelan. "Tidak. Kan ada Pak Supir, pantinya sedikit jauh dari sini."


Madeleine langsung menggeleng. "Kak Ine tidak bilang kamu boleh pergi sendirian. Nanti Kak Efren marah kalau tahu, Nadien mau Kakak marah?"


Nadien terdiam, ia masih menatap Madeleine dan berharap diperbolehkan pergi.


"Kakak tidak akan marah, kan Nadien pergi tidak sendiri. Pak supir pasti akan menunggui Nadien, lagi pula di sana Nadien akan bermain bersama teman. Nadien merindukan kucing-kucing itu," ucapannya terhenti sesaat. "Juga dia..." suaranya mengecil.


Madeleine menatap putri sulungnya itu, ia kemudian mengusap rambutnya. Tentu ia berpikir keras, tak begitu saja dirinya mengizinkan putrinya yang masih kecil untuk pergi sendirian.


Sejak hari di mana ia dan Efren mengetahui bahwa Nadien adalah putri mereka, Madeleine dan Efren sama sekali belum memberitahu soal itu kepada Nadien. Mereka mengingat jika usia Nadien masih sangat kecil, terlebih waktu itu. Dan... mereka juga belum pernah membicarakan hal ini pada siapa pun di keluarga besar, hanya mereka berdua dan ibu dari Madeleine yang tahu rahasia besar ini.


Madeleine kembali menatap anaknya, Nadien yang ternyata masih menatap dirinya sejak tadi dan tampak memohon.


Ia kemudian menghela napas kecil. "Nadien mau berapa lama memangnya?"


"Sebentar saja," jawab Nadien, lalu menunduk sebentar dengan bibir sedikit mengerucut.


"Sebentar itu berapa lama?" Madeleine bertanya dengan nada lembut, ia juga tak tega melihat raut wajah putrinya itu menjadi sedih.


"Sampai Nadien selesai main. Hari ini kan, libur... Nadien bosan di rumah terus." Dahi Nadien mengerut kecil.


Madeleine menarik napas sekilas, lalu mengangguk. Melihat itu, raut wajah Nadien berubah antusias dengan senyum senangnya.


"Eits, jangan senang dulu. Ada syaratnya." Madeleine mengusap pelan rambut anaknya. "Nadien harus pergi ke sana ditemani Bi Lena juga, ya?"


Mata bulat Nadien menatap ibunya cukup lama. "Tapi Bi Lena bukan mau ikut main juga, kan?" 


Madeleine menggeleng pelan, lalu terkekeh kecil. "Tidak, Sayang. Lagi pula, Nadien kan sudah pernah bilang kalau sekolah saja Nadien sudah tidak mau ditunggu Bi Lena... katanya, malu sudah besar." Ia terkekeh lagi, melihat anaknya yang kemudian menunduk diam.


"Iya, hehe," balas Nadien malu. "Kalau itu syaratnya supaya Nadien bisa pergi lagi ke panti itu, tidak apa-apa kak Ine!" lanjutnya antusias.


Madeleine tampak berpikir. "Sebenarnya panti apa? Memang ada panti... penitipan? Apa itu berbeda dengan panti asuhan?" batinnya, ia menatap lurus.


Madeleine masih memandangi Nadien dengan tatapan penuh perhatian, ia kemudian meraih tangan anak itu dan menariknya pelan agar duduk di sampingnya.


"Kalau begitu, nanti Kak Ine minta Pak Supir mengantarkan kamu. Bi Lena ikut, ya."


Nadien langsung mengangguk cepat. "Yeay! Iya, Kakak!" Ia tampak sangat senang.


Madeleine mengusap rambut Nadien. "Nanti biar Bi Lena tunggu di mobil saja sama pak supir, tapi kamu juga jangan membuat Bi Lena kesulitan mencari kamu. Kalau sudah waktunya pulang... pulang ya, jangan kesorean. Nanti Kak Ine telepon."


Nadien mengangguk lagi. "Iya, Kakak!" 


Tatapan gadis kecil itu yang sejak tadi pada wajah Madeleine, kini berpindah pada perut sang ibu yang telah membesar lalu menyentuhnya.


"Kakak Nadien pergi dulu ya," ucapnya sambil tersenyum, lalu ia mengusapnya pelan menggunakan tangan mungilnya.


Madeleine tersenyum. "Iya, kakak Nadien."


Tak lama setelah itu, Nadien langsung berlari kecil menuju kamarnya.


Madeleine hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya. Anak itu memang terlihat sangat bersemangat setiap kali membicarakan panti tersebut.


"Sayang, jangan lari-lari!" panggil Madeleine.


Nadien langsung menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Iya, Kakak!"


Madeleine menggeleng kecil. "Pelan-pelan. Nanti jatuh."


Nadien terkekeh, kemudian melanjutkan langkahnya dengan lebih hati-hati.


Madeleine memperhatikannya sampai Nadien menghilang di balik pintu kamar.


Ada senyum kecil yang masih tertinggal di wajahnya. Entah mengapa, melihat Nadien begitu bahagia hanya karena diperbolehkan mengunjungi tempat itu membuat hati Madeleine terasa hangat. Walaupun... pasti ada rasa kekhawatiran, namun ia tak membiarkan begitu saja putrinya yang masih kecil pergi sendirian, Bi Lena akan menemani Nadien.


Beberapa saat kemudian, Nadien kembali turun dan Bi Lena sudah menunggu di bawah bersama Madeleine.


"Mau pergi seperti itu?"


Nadien mengangguk. "Iya."


Madeleine lalu menoleh ke Bi Lena. "Nih Bi Lena sudah bawakan Nadien banyak perlengkapan, ada jaket sama yang lainnya, Nadien pasti membutuhkan."


Dahi Nadien mengerut melihat itu. "Banyak sekali, Nadien kan bukan bayi," lirihnya karena merasa aneh.


Madeleine terkekeh, lalu berbicara pada Bi Lena. "Sudah Bi, biarkan saja. Sudah sana, hati-hati lho ya."


Nadien mengangguk, lalu memeluk sekilas ibunya yang kemudian Madeleine segera mencium keningnya.


"Jangan hilang-hilangan atau lari-lari, nanti Bi Lena lelah cari kamu." Peringat Madeleine, namun putrinya itu sudah berjalan menuju ke pintu utama sambil menggandeng Bi Lena.


Nadien menoleh sebentar. "Iya, Nadien ingat kok!" Ia tersenyum.


Madeleine tersenyum melihatnya, putrinya itu sudah perlahan menghilang dari pandangannya. "Ada-ada saja, semakin besar semakin ngerti sesuatu, kalau dilarang sedih..." Ia menggeleng pelan beberapa kali. 


•••


Mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup familiar bagi Nadien.


Begitu pintu mobil dibuka, Nadien langsung turun dengan langkah cepat. Matanya segera menyapu halaman panti yang pagi menjelang siang kala itu terlihat cukup ramai.


"Bi, Nadien masuk dulu, ya!"

Lihat selengkapnya