Maybe, It"s Still You

ravella han
Chapter #42

42. Kecurigaan Mireya.

Menjelang sore, Mireya akhirnya meninggalkan rumah Madeleine dan Efren.


Mobilnya melaju meninggalkan kawasan tempat tinggal Efren dan Madeleine. Namun, bukannya langsung pulang, Mireya justru meminta sopirnya membawa kendaraan untuk menuju rumah Jisu lagi.


Sepanjang perjalanan, pikirannya masih tertuju pada percakapan bersama Madeleine tadi.


Ia memang tahu di mana tempat Ansel tinggal.


Panti itu.


Tempat yang selama ini menjadi tempat Ansel menghabiskan sebagian waktunya ketika keluarganya tidak membawanya pulang.


Dan sekarang... Nadien juga berada di sana.


Mireya menghela napas pelan. "Jangan-jangan..." Ia segera menggeleng, seolah tidak ingin membuat kesimpulan sendiri.


Tidak lama kemudian, mobilnya berhenti di depan kediaman sang kakak.


Mireya turun dan langsung masuk setelah dipersilakan oleh salah satu pekerja rumah, ia menuju lantai dua rumah yang sangat besar itu.


Jisu yang sedang duduk santai dengan sebuah tab di tangannya langsung menatap wajah ketika melihat Mireya datang.


"Lho? Kamu lagi?"


Mireya langsung duduk di samping Jisu. "Kak, aku ingin bertanya."


Jisu menatap Mireya sebentar, lalu mengangguk. "Tanya saja."


"Saat tadi aku ke rumah Efren dan Madeleine, Nadien sedang tidak ada di rumah. Dia sedang pergi, dan katanya..." ucapannya terhenti, ia menatap Jisu.


Jisu mengernyit merasa ada yang aneh. "Katanya apa?" Jisu mengambil segelas minuman dingin yang tadi dibuatnya. "Ingin minum?" Namun, Mireya langsung menggeleng.


"Nadien pergi ke panti penitipan," lanjut Mireya. "Itu... bukannya tempat cucumu tinggal? Ansel."


Jisu yang baru saja minum itu pun seketika meletakkan gelasnya, untung ia tidak tersedak. "Panti penitipan? Nadien ngapain ke sana?" Ia bingung.


Mireya mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu. Tapi Madeleine bilang Nadien pergi ditemani Bi Lena dan sopir. Dan dia bilang... Nadien ke sana karena ingin bermain dengan teman baru yang dia temui."


Jisu diam, ia tentu tidak mengerti apa pun. "Kamu sudah memastikan jika itu benar-benar tempat Ansel tinggal?"


Mireya langsung menggeleng. "Tentu saja belum. Tapi kan, kak Jose pernah bilang katanya panti penitipan itu hanya ada satu di South Korea. Artinya... ya hanya itu."


Jisu terdiam sebentar, tatapannya lurus. "Memang iya." Ia mengangguk. "Tidak ada panti lain seperti itu, makanya dua tahun yang lalu... saat di Indonesia Terence membawa anaknya ke panti biasa—panti asuhan, karena memang tidak ada panti penitipan di sana," ia melanjutkan.


Mireya menatap Jisu. "Kalau begitu... apa mereka bertemu?"


Jisu menggeleng. "Tidak tahu. Mungkin saja. Kalau misalnya bertemu, lagi pula mereka sudah pernah bertemu juga sebelumnya. Seharusnya saling mengenal, iya kan?"


Mireya menarik napas, lalu membuangnya kasar, pandangannya beralih ke arah lain. "Kak..." Ia menatap Jisu sebentar. "Mereka itu setahuku tidak saling mengenal, bertegur sapa saja tidak pernah. Beberapa kali Ansel pernah datang ke Manila, dia dan Nadien sama sekali tidak pernah mau berkenalan, jangankan itu... disuruh menyapa saja saling tidak mau."


Jisu membuang napas pelan. "Ya sudah, tidak perlu memusingkan. Kamu mengkhawatirkan apa? Jika benar Nadien datang ke sana, tidak apa-apa, panti itu baik... apalagi sekarang kepalanya sudah ganti dan lebih baik dari sebelumnya."


Dahi Mireya mengerut mendengar itu, ia menggeleng pelan. "Justru itu, aku khawatir. Aku... menakutkan sesuatu."


Jisu tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Tidak perlu, Mireya."


"Dengar dulu, Kak. Bagaimana jika... Madeleine atau Efren berencana membawa Nadien ke tempat itu juga? Aku tidak akan membiarkan," kata Mireya.


Jisu menatap adik iparnya itu. "Tidak mungkin, Mireya. Tidak ada juga yang menghalang-halangi mereka merawat dan menjaga Nadien dengan tangannya sendiri, dari kita semua mendukung itu. Berbeda dengan anak dan menantuku, lagi pula... Nadien itu kan adik Efren, berbeda dengan Terence... anakku itu serba salah dalam posisinya. Apalagi, kondisi Keyna sekarang."


Mireya tertunduk, helaan napasnya terdengar kasar. "Semoga saja begitu."


"Kalaupun Nadien bertemu cucuku di sana, itu bagus saja. Cucuku anak yang baik, kamu tidak perlu khawatir Nadien akan kenapa-napa. Justru... cucuku itu kasihan, dia sering dijauhi teman-temannya." Jisu menenangkan.


Mireya mengangguk. "Kalau aku jadi kamu sih, Kak. Aku akan menjaga cucuku sendiri, menyayanginya, bukan malah..." 


Jisu menggeleng. "Aku juga maunya seperti itu, tapi... tidak semudah itu. Jika memang mudah, sudah sedari dulu aku dan kakakmu melakukannya. Untuk apa juga menitipkan seorang anak pemberian Tuhan jika kita masih bisa merawat dan menjaganya sendiri? Bila merasa kerepotan, kan masih ada pengasuh. Tapi... semua itu tidak bisa dilakukan dengan semudah itu, Terence juga sangat menyayangi anaknya. Anakku juga sakit melihat anaknya tumbuh bukan di depan matanya, tapi di tempat yang justru terlalu asing."


Mireya melihat mata Jisu yang perlahan berkaca-kaca, ia mengusap bahu kakak iparnya itu. "Aku mungkin tidak akan mengerti tentang hal sebenarnya yang dilewati Terence dan Keyna, tapi aku tahu... kamu dan kak Jose sangat menyayangi Ansel. Namanya cucu pasti lebih kita sayang seperti anak kita, bahkan lebih... aku juga sudah merasakannya. Apalagi, saat baru lahir... kamu yang merawat Ansel."


Jisu mengangguk. "Iya. Aku tentu sangat menyayanginya, setiap kali melihatnya... aku teringat pada anak-anakku ketika masih bayi. Sekarang dia sudah semakin besar, dan setiap kali aku melihatnya kembali di depan mataku... rasanya aku tidak dapat menahan perasaanku."


Mireya mengangguk, tatapannya tulus. "Apalagi dia cucu pertamamu dan kak Jose, aku sangat mengerti rasanya. Jangankan cucu, ke Nadien juga aku sangat sayang."


Jisu berusaha tersenyum, ia mengambil tisu yang berada di sampingnya untuk mengelap sudut matanya. "Yang aku khawatirkan sekarang, justru keadaan ibu Ansel. Aku dan kakakmu juga sebenarnya sangat geram dengan apa yang orang itu lakukan pada Ansel, namun belum ada hal yang membuat kami kuat untuk mempertahannya selalu di sisi keluarga."


Mireya mengangguk pelan. "Bagaimanapun itu, seharusnya Ansel adalah milik Rouvin selamanya," ucapnya. "Kak, dia cucu pertamamu. Mau kamu punya cucu laki-laki lain, sekalipun itu adik kandungnya Ansel yang juga merupakan anak Terence, tapi tetap saja berbeda."


Jisu mengangguk. "Kakakmu tentu sudah merencanakan sesuatu, di masa depan... siapa pun itu, tetap Ansel yang akan dia banggakan. Sekalipun Orfeo anak pertamaku dan akan memiliki anak laki-laki—" ucapannya terhenti, ia menatap lurus. "Tapi... cucu pertamaku dan suamiku adalah Ansel."


•••


Menjelang sore, suara mobil terdengar memasuki halaman rumah.


Madeleine yang sejak tadi berada di ruang keluarga langsung menoleh ketika mendengar pintu utama dibuka.


Sudah hampir berbulan-bulan ini ia tidak bekerja, semenjak mengetahui dirinya hamil... Efren tak membiarkannya beraktivitas seperti biasa.


Beberapa detik kemudian, Nadien muncul bersama Bi Lena.


Madeleine tersenyum melihat putrinya pulang, ia berdiri dari duduknya hendak menerima Nadien yang akan memeluknya.


Begitu melihat ibunya, wajah Nadien langsung berubah cerah.


"Kak Ine!" Anak itu datang kepadanya dan langsung memeluknya, Madeleine mengusap punggungnya.


Madeleine tersenyum lebar. "Nah, akhirnya pulang juga."


Madeleine kemudian tersadar, ia melepaskan pelukan Nadien dan memperhatikan penampilan putrinya dari atas sampai bawah.


"Lihat ini..." Madeleine menggeleng kecil. "Kamu main sampai kotor begitu."


Nadien menunduk melihat bajunya sendiri. Ada sedikit noda tanah di bagian bawah pakaiannya.


"Hehe..."


"Sudah sore juga." Madeleine mengusap rambutnya. "Ayo, mandi dulu. Ini rok kamu juga basah, dari mana saja?"


Nadien menatap Madeleine. "Nadien di sana kan main di danau, eh tapi... aman kok. Banyak kucing juga, Nadien suka!"


Madeleine mengangguk. "Iya. Selain hati-hati karena di danau, ini... baju dan rokmu." Ia menyentuh pakaian putrinya itu. "Sekarang mandi dulu."


"Tapi Nadien mau cerita—"


"Cerita nanti." Madeleine terkekeh. "Kakak dengarkan semuanya. Sekarang mandi dulu, nanti kamu masuk angin."


Nadien menghela napas kecil, tetapi akhirnya mengangguk.


"Iya..."


"Bi Lena, terima kasih ya sudah menemani Nadien."


"Iya, Nyonya."


"Nadien juga tadi tidak merepotkan, kan?"


Bi Lena tersenyum kecil. "Tidak, Nyonya. Tadi Nadien cukup menurut. Hanya memang... begitu sampai langsung mencari temannya."


Mendengar itu, Madeleine mengangguk. Ia kemudian menuju tangga dan naik ke lantai atas untuk ke kamar Nadien.


"Nanti cerita. Sekarang mandi."


Nadien mengangguk, lalu... 


"Jangan lari!" seru Madeleine.


Nadien langsung memperlambat langkahnya, sementara Madeleine kini berjalan di belakangnya.


"Iya, Kak Ine!"


Madeleine hanya menggeleng sambil tersenyum.


Tidak terlalu lama kemudian, Nadien sudah kembali turun—bersama ibunya juga.


Rambutnya yang tadi basah karena keramas pun baru saja dikeringkan menggunakan hairdryer oleh Madeleine.


"Sekarang Nadien makan dulu."


Nadien menatap Madeleine. "Makan sama apa, Kak?"


Lihat selengkapnya