Hari yang dinantikan itu akhirnya tiba.
Sejak jauh-jauh hari, kelahiran anak kedua Madeleine dan Efren memang sudah dijadwalkan. Tidak ada yang mendadak, sebab dokter telah menentukan tanggal untuk operasi sesar yang akan dijalani Madeleine.
Kehamilan keduanya pun berjalan dengan pengawasan yang cukup ketat. Terlebih, sebelumnya Nadien juga lahir melalui operasi yang sama, sehingga untuk kehamilan kali ini dokter kembali menyarankan persalinan melalui operasi sesar.
Pagi itu, suasana rumah terasa berbeda.
Madeleine sudah bersiap sejak beberapa waktu lalu. Barang-barang yang diperlukan untuk ke rumah sakit pun telah dipersiapkan dan dibawa oleh para pekerja rumah.
Efren beberapa kali memastikan tidak ada yang tertinggal.
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan rumah, pandangan Efren sempat berkeliling mencari seseorang.
Nadien, namun ternyata putrinya itu masih berada di sekolah.
Efren sempat berdiri beberapa saat di dekat pintu, kemudian menghela napas kecil.
"Dia masih di sekolah."
Madeleine mengangguk. "Iya, kan memang masih jam sekolahnya. Pulangnya nanti sore, ayahnya sendiri lupa.
Efren terkekeh. "Kalau gitu kita berangkat dulu, urusan dia mau lihat adiknya gampang nanti."
Madeleine mengangguk lagi, selanjutnya ia masuk ke mobil terlebih dahulu dan diikuti Efren.
Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, Madeleine lebih banyak diam. Sesekali tangannya mengusap perutnya yang sudah begitu besar, sementara Efren beberapa kali menoleh untuk memastikan keadaan istrinya.
Tidak banyak percakapan di antara mereka.
Keduanya sama-sama tahu, beberapa jam lagi keluarga kecil mereka akan bertambah satu orang.
•••
Sesampainya di rumah sakit, Madeleine langsung dibawa menuju ruang persiapan.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Pemeriksaan dilakukan kembali sebelum Madeleine dipindahkan menuju ruang operasi. Efren tetap berada di sisinya, menggenggam tangannya dan sesekali memberikan senyum untuk menenangkan istrinya.
"Sebentar lagi," ucap Efren pelan. "Kita punya dua Princess."
Madeleine mengangguk, lalu tersenyum. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap suaminya.
"Kamu jangan pergi jauh lagi," ucapnya pelan pada Efren.
Efren menggeleng, mengusap air mata Madeleine yang sudah menggenang. "Semenjak ada baby di perut kamu jadi suka mellow?" Ia tentu tahu itu, lalu terkekeh kecil. "Aku di sini."
Madeleine mengangguk. "Bawaan baby cewek, dulu waktu Nadien juga malah lebih. Dikit-dikit, aku nangisan. Kalau yang sekarang mending, kadang kebawa kakaknya yang happy terus jadi ikutan."
Efren tersenyum, lalu mengecup dahi istrinya itu. "Aku tungguin terus, jangan takut." Ia mengusap tangan Madeleine lembut.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi akhirnya tertutup.
Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Hingga akhirnya, setelah menunggu cukup lama, suara tangisan bayi terdengar.
Untuk beberapa detik, Efren hanya terpaku. Kemudian senyum perlahan muncul di wajahnya, anak kedua mereka akhirnya lahir.
Seorang bayi perempuan yang dari posisinya kini terlihat menangis sangat kencang.
Efren dan Madeleine tidak dapat lagi menahan air mata mereka, tatapan mereka kemudian saling bertemu dan tersenyum bahagia.
Putri kecil yang selama berbulan-bulan hanya bisa mereka rasakan melalui gerakan kecil dari dalam perut Madeleine, kini benar-benar telah hadir ke dunia.
Dan untuk pertama kalinya, Efren menyadari satu hal sederhana—sekarang ia benar-benar memiliki dua putri.
"Lihat, dia sudah lahir, Sayang. Baby girl kita." Efren tersenyum harus, air mata itu tak dapat lagi ditahannya. Ia mencium beberapa kening Madeleine.
Madeleine tersenyum, ia menggenggam tangan Efren yang tak lepas darinya sejak tadi. "Resmi punya dua anak perempuan, punya dua Princess. Resmi juga jadi panggilan Papinya?" Ia menatap Efren lucu. "Selama ini Nadien belum punya panggilan yang benar-benar pas kata kamu."
Efren menatap istrinya sejenak. "P-Papi?" Ia gugup mengatakan itu. "Tidak Daddy saja?" Matanya mengerjap beberapa kali.
"Itu saja," balas Madeleine tersenyum. "Lebih cocok sama kamu."
Efren masih menatap Madeleine terpaku. "Kamu Mami Ine."
Madeleine mengangguk. "Iya," jawabnya tersenyum.
Efren memejamkan matanya sebentar. terlihat mengembuskan napas pelan. "Okay." Ia mengusap kepala Madeleine lembut. "Papi Mami," katanya akhirnya yang membuat senyum Madeleine semakin merekah.
•••
Keesokan harinya...
Madeleine sudah dipindahkan ke ruang rawat ibu sejak keluar dari ruang operasi itu, begitu pun sang bayi yang saat ini sedang berada di ruang bayi.
Madeleine sempat berulang kali menanyakan apakah bayinya benar-benar di ruang bayi, Efren yang sempat menduga beberapa hal pun tak lupa mendokumentasikan bayi mereka saat mengikutinya ke ruang bayi, dan benar saja dugaannya ketika bertemu Madeleine... istrinya itu terus bertanya bahkan hingga dirinya bingung sendiri.
Kini, bayi mereka juga sudah berada di sini. Bayi perempuan cantik yang menggunakan outfit serba pink itu sedang tertidur di sebuah box yang ditaruh di samping bed pasien Madeleine.
Sejak tadi, mereka memperhatikan bayi itu sambil tersenyum.