Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #1

Anak Haram

"Anak haram."

Ku bungkam mulut itu dengan satu pukulan keras. Tepat mengenai bibirnya. Anak itu terhuyung ke belakang. Tangisnya langsung pecah. Ia memegangi bibirnya yang robek sambil meraung kesakitan.

Suasana halaman sekolah mendadak riuh. Murid-murid yang sedang bermain berhenti. Mereka langsung mengerubungi kami. Ada pula yang berlari sambil berteriak memanggil guru.

"Pak Guru! Pak Guru! Tegar berantem!"

Aku tetap berdiri tegak di halaman sekolah. Aku sudah terbiasa dengan ini. Terbiasa dihina, terbiasa dicaci, terbiasa mendengar kata-kata yang sama berulang kali.

Anak haram. Anak yang tidak punya ayah. Anak yang tidak punya keluarga.

Dan ya ... mungkin mereka benar. Aku tidak punya ayah. Dulu, aku tidak tahu apa itu anak haram. Kenapa mereka menyebutku begitu. Namun lama-lama aku mengerti artinya. Bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuaku. Mungkin karena itulah ibu meninggalkaku bersama nenek. Sedangkan aku tidak pernah tahu siapa ayahku.

Ibu malu memiliki aku. Katanya, aku adalah aib. Katanya aku adalah sumber kesengsaraan dirinya.

Ibuku masih hidup tetapi ia memilih pergi bertahun-tahun lalu. Ibu menikah lagi. Memulai kehidupan baru dan meninggalkanku bersama Mbah.

Dulu, aku pernah menunggunya memelukku. Pernah berharap ia mengusap rambutku. Pernah percaya bahwa suatu hari ia akan datang dan membawaku bersamanya, tapi semakin besar aku tumbuh, semakin aku mengerti bahwa harapan itu hanyalah sesuatu yang kubuat sendiri. Karena baginya, aku tidak pernah ada.

Aku masih ingat saat ia datang berkunjung ke rumah Mbah. Hari itu aku begitu senang sampai berlari tanpa alas kaki dari halaman belakang.

"Ibu!"

Aku menghambur ke arahnya dengan senyum lebar. Tanganku terulur, berharap bisa memeluknya meski hanya sebentar. Namun sebelum aku sampai, ia sudah lebih dulu bergeser. Di detik berikutnya, kedua tangannya justru terulur kepada adikku yang masih kecil. Adik dari pernikahan barunya.

"Wah, anak Ibu sudah pintar, ya?"

Ia mengangkat adikku tinggi-tinggi. Tawa lembutnya terdengar begitu hangat. Sebuah kehangatan yang tidak pernah kuterima darinya.

Aku berdiri mematung, tanganku masih terulur mengarah padanya. Menunggu sesuatu yang tidak pernah datang untukku.

"Tegar juga anakmu, Rin," ucap Mbah pelan pada ibu. "Kenapa tidak kau peluk dia sebentar saja? Kasihan dia," lanjut Mbah.

Lihat selengkapnya