Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #2

Maaf, Mbah

Suara rantai sepeda tua yang berderit menjadi satu-satunya suara di antara kami. Aku duduk diam di boncengan Mbah. Memegang pinggangnya erat. Tidak ada satu kata pun yang terucap.

Dibawah terik surya ... Aku mendongak, menatap langit biru cerah yang nyaris tanpa awan. Aku tidak tahu apa yang sedang Mbah pikirkan. Mbah tidak marah padaku. Selalu begitu. Padahal kuharap, Mbah akan memarahiku, lalu menjewer telingaku seperti yang Pak Guru lakukan, tapi ternyata tidak.

Aku masih ingat, tadi di ruang kepala sekolah. Setelah Pak Guru selesai berbicara, Mbah hanya menatapku, lalu tanpa berkata apa-apa, tangannya mengusap halus rambutku.

Tidak ada amarah di wajahnya, tidak ada juga kekecewaan yang beliau ucapkan. Hanya usapan lembut yang justru membuatku ingin menangis.

Aku kembali menunduk. Kini menatap punggung Mbah yang mulai bungkuk, mungkin karena sering menggendong keranjang di punggungnya.

'Mbah ... Tegar minta maaf, ya,' batinku. Aku tidak cukup berani mengatakan itu secara langsung.

Beberapa saat kemudian, kami tiba di rumah. Sepeda tua itu berhenti di halaman.

"Ganti baju dulu lalu makan ya," ucap Mbah lembut.

Aku mengangguk pelan tanpa berani menatap wajahnya. Aku lalu berlari masuk ke dalam kamar.

🍃🍃🍃

Selepas magrib, saat aku makan, Pakde datang ke rumah. Membuka pintu dengan keras.

"Mana Tegar. Mana anak nakal itu. Mana bocah tengik itu." Suara Pakde menggelegar tiba-tiba di rumah kecil ini.

Aku menghentikan suapan lalu menoleh ke arah Pakde yang berdiri kokoh di sana.

Mbah yang sedang menjahit seragamku segera berdiri lalu menghampiri anak pertamanya itu.

"Ada apa, Han?" Tanyanya pelan. "Tegar lagi makan."

"Ibu tau kan kelakuan dia hari ini?!"

Mbah diam hanya menatap Pakde Burhan.

"Dia itu nakalnya makin nggak ketulungan, Buk. Bibir si Faiz, anak Pak Narno sampai robek karena dipukul sama anak itu." Suara Pakde tinggi. Tangannya mengulur menunjuk lurus ke arahku. "Makin besar makin jadi. Anak itu bikin malu keluarga aja."

Aku menunduk, nasi di piringku mendadak terasa hambar.

"Tidak perlu marah-marah, nanti ibu bakal menasehatinya," ucap Mbah lembut. Mencoba meredam amarah Pakde.

"Menasehati bagaimana?!" Suara Pakde semakin tinggi. "Tegar itu udah sering kayak gini. Sama Fatih, anak Pak Seno bahkan belum ada seminggu. Sekarang sama anaknya Pak Narno."

"Nanti ibu akan lebih menasehatinya."

Lihat selengkapnya