Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #3

Aku Janji Akan Jadi Anak Baik

Setelah kepergian Pak Narno dan Bu Narti, aku segera melangkah mundur. Lalu duduk di pinggir dipan.

Mataku lurus menatap tirai. Terdengar sura pintu depan yang di tutup. Disusul suara pincang kaki Mbah yang melewati kamar lalu samar-samar terdengar melangkah ke arah dapur.

Aku mendongak, menatap langit-langit kamar yang usang, ada banyak jaring laba-laba di atas sana. Aku mencoba mengalihkan rasa sesak yang tiba-tiba datang di dadaku pada jaring laba-laba itu. Berharap aku tidak akan menangis. Tapi mataku malah semakin panas.

'Aku menyusahkan mbah aja dan aku bikin Mbah sedih.'

Aku kembali menunduk. Kini menekuri lantai tanah.

Uang Mbah itu ... Uang yang beliau kumpulkan sedikit demi sedikit, sekarang harus habis karena ulahku.

Andai saja aku tidak nakal. Andai saja aku tidak memukul teman-teman yang mengejekku. Mbah pasti tidak perlu meminta maaf kepada siapa pun.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki Mbah mendekat. Aku segera mengusap wajahku kasar. Lalu mendongak menatap ke arah pintu.

Sosok yang paling kusayangi itu berdiri di depan tirai kamar, lalu perlahan membukanya.

"Makan sama Mbah, yuk, Le," ajaknya lembut. "Mbah nggak habis kalau makan sendirian."

Aku segera mengangguk sambil tersenyum lebar. Bangkit dari dipan, lalu berjalan menghampiri Mbah.

Malam ini, kami makan bersama. Berdua, dalam satu piring yang sama.

Setelah selesai makan, aku membawa piring kami ke dapur. Biasanya aku membantu Mbah jika beliau memintaku. Tapi malam ini, sebelum Mbah sempat berdiri, aku sudah lebih dulu membereskan semuanya.

Malam semakin larut. Aku dan Mbah tidur di satu dipan yang keras beralaskan tikar warna warni pemberian tetangga yang katanya sayang jika di buang.

Tangan Mbah bergerak mengipasiku dengan kipas anyaman. Begini setiap malam sampai aku tertidur. Mbah akan pergi ke kamarnya sendiri setelah itu.

"Le..." Panggilan Mbah pelan.

"Iya, Mbah," jawabku tanpa menoleh menatapnya. Aku tetap memunggunginya.

"Mbah boleh tahu nggak kenapa tadi kamu mukul Faiz?" Tanyanya lembut dan hati-hati.

"Karena... Karena dia bilang aku anak haram."

Gerakan tangan Mbah langsung terhenti. Meskipun aku tidak melihat bagaimana ekspresinya saat ini tapi aku tahu jika Mbah terkejut mendengar itu. Padahal itu kata-kata yang sudah biasa menjadi cacian untukku. Kata-kata yang sudah sangat biasa Mbah dengar dari aduanku. Tapi tetap saja, mungkin hati Mbah sakit mendengar itu.

"Kamu tahu kan kalau nggak ada anak haram di dunia ini," ucap Mbah pelan, suaranya tercekat. Tangannya kembali bergerak mengipasiku

Lihat selengkapnya