Begitu masuk kelas, aku segera meletakkan tas di atas meja, lalu menghampiri teman-teman yang sedang bergerombol di belakang kelas. Mereka tengah asyik bermain tepuk kartu, aku ingin ikut.
Salah satu dari dari mereka menoleh padaku. Rendy namanya.
"Eh, ada anak yang nggak punya bapak," serunya.
Langkahku langsung terhenti seketika, tatapanku mengarah padanya. Jemariku mulai mengepal, rasanya ingin sekali ku tonjok mulut itu, tetapi bayangan wajah Mbah yang menangis semalam muncul di kepalaku. Aku juga teringat uang hasil kerja keras Mbah yang diberikan kepada orang tua Faiz.
Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan, mencoba tidak terpancing oleh omongan Randy. Aku lalu melangkah lagi menghampiri mereka.
"Ikut main, dong," pintaku sambil memaksakan senyum pada semuanya.
Mereka semua saling pandang. Yogi buru-buru mengumpulkan kartu-kartu bergambar itu lalu menyembunyikannya di balik tubuh.
"Nggak boleh," katanya dengan menatap tajam kearahku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kata ibuku, aku nggak boleh main sama kamu," jawab Yogi keras.
"Ibuku juga bilang gitu."
"Ayahku juga."
Aku terdiam mendengar ucapan-ucapan itu.
"Kamu kan suka mukul," sahut Rendy.
"Iya. Nanti kalau main sama kamu, aku ikut dipukul," imbuh Yogi.
"Udah, kita pindah aja, yuk," imbuh yang lain.
Mereka bergegas berdiri, pergi ke sudut kelas yang lain. Sementara aku tetap berdiri di tempatku, menatap kearah mereka semua. Senyum yang tadi kupaksakan perlahan menghilang, digantikan rasa kecewa yang menghampiri dada.
Aku membalik badan lalu duduk di bangkuku. Pandanganku tertuju pada papan tulis yang masih dipenuhi tulisan pelajaran kemarin.
Tak lama, Alina mengambil penghapus lalu mulai membersihkannya.
Aku menoleh ke daftar piket yang tertempel di dinding. Hari ini ternyata giliran Alina. Tatapanku kembali ke depan. Alina terlihat menjinjit, berusaha menghapus tulisan yang letaknya terlalu tinggi. Berkali-kali ia mengangkat tangan dan menjinjit, tetapi tetap tidak sampai.
Pelan, aku bangkit dari bangku. Kuseret bangkuku hingga ke depan kelas, lalu kuletakkan di samping Alina.
"Pakai ini," ucapku.
Alina menoleh menatapku, lalu pada bangkuku.
"Tapi sepatuku kotor," katanya.
"Nggak apa-apa. Nanti bangkunya bisa dibersihin."
Belum sempat Alina menjawab, Mila menghampirinya.
"Alina, jangan deket-deket sama Tegar. Nanti kamu dipukul."
Mila menarik pelan lengan Alina.