Sore harinya, aku menghampiri Mbah di belakang rumah.
"Mbah... aku main dulu, ya," teriakku meminta izin.
Mbah sedang memberi makan anak-anak ayam yang baru beliau beli beberapa hari lalu.
"Jangan pulang magrib ya, Le. Kamu belum mandi," jawab Mbah.
"Iya, Mbah."
Aku langsung berlari menuju tanah kosong di dekat pohon mangga, tempat kami biasa bermain setiap sore. Teman-teman sudah berkumpul di sana.
"Hom pimpa alaihum gambreng!"
Aku buru-buru menyelip di antara mereka. "Ikut... ikut!"
Aku segera mengulurkan tangan bersama yang lain.
"Hom pimpa alaihum gambreng!"
"Yes!"
Aku langsung bersorak ketika berhasil menang bersama satu temanku.
"Hom pimpa alaihum gambreng!"
Yang kalah kali ini Doni dan dia harus berjaga. Ia berdiri menghadap pohon mangga sambil menutup mata.
"Satu... dua... tiga..."
Kami langsung berlarian mencari tempat persembunyian, saat Doni mulai menghitung. Aku memilih bersembunyi di balik kandang ayam milik Pak Rudi.
"Dua belas... tiga belas... empat belas..."
Aku menarik napas pelan, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Hingga hitungan kedua puluh selesai, Doni mulai mencari.
Aku tetap diam, bahkan menahan napas. Tak lama, terdengar suara Doni yang berteriak menemukan salah satu diantara kami.
"Dapet! Rendy ketahuan!"
Beberapa saat kemudian...
"Dapet lagi! Yogi!"
Tak lama kemudian, seseorang berhasil berlari lebih dulu dan menyentuh pohon mangga.