Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #6

Ayam Kecap

Setelah magrib, aku dan Mbah makan bersama. Malam ini, lauk kami terasa istimewa. Tetangga memberi Mbah dua ekor ikan.

Mbah dengan telaten memisahkan duri dari daging ikan. Lalu meletakkan potongan daging itu ke piringku.

"Mau tambah nasi nggak, Le?" tanyanya.

Aku mendongak menatap Mbah, lalu melirik piringnya yang masih utuh.

"Mau, tapi kenapa Mbah belum makan?" jawabku pelan sekaligus bertanya. 

"Mbah tadi habis makan ubi, masih agak kenyang," jawab Mbah sambil tersenyum. "Mumpung lauknya ikan, Tegar makan yang banyak, ya."

Beliau lalu menyendok setengah nasi dari piringnya ke piringku. Aku menatap nasi yang kini ada di piringku. Senyum tipis terbit di bibirku.

Kalau nanti aku sudah besar, aku janji bakal membahagiakan Mbah. Aku bakal bekerja yang rajin. Aku juga bakal memenuhi semua yang Mbah inginkan. 

Aku kembali menyuap nasi tapi kali ini rasanya sulit kutelan. "Udah ah, Mbah. Aku juga kenyang," kataku sambil mengangkat wajah dan tersenyum lebar. "Aduh... perutku sampai sakit," bohongku. 

Mbah tersenyum lembut. "Alhamdulillah," ucapnya rendah, lalu menyodorkan segelas air putih kepadaku.

Aku menerimanya lalu menyesapnya sedikit demi sedikit. Makan malam kami selalu sederhana tetapi kasih sayang Mbah selalu terasa lebih banyak daripada makanan yang ada di meja. Aku sayang sama Mbah. 

"Aku mau belajar dulu ya, Mbah," kataku, lalu segera masuk ke kamar mengambil buku pelajaran. Setelah itu, aku kembali ke ruang depan dan tengkurap di atas tikar, tidak jauh dari tempat Mbah duduk.

"Yang rajin belajarnya, ya, Le. Biar nanti jadi anak yang pintar, jadi anak sukses," ucap Mbah.

Aku mengangguk pelan, lalu mulai mengerjakan PR. Aku mengangkat kepala, menatap Mbah yang akhirnya mulai makan. Beliau menyuap nasi perlahan, lalu mengambil sedikit daging ikan yang tadi sengaja tidak beliau sentuh.

Aku tersenyum kecil. Syukurlah... Setidaknya malam ini Mbah jadi makan pakai lauk ikan. 

🍃🍃

Pagi harinya, setelah salat Subuh, kudengar suara air dari kamar mandi. Mbah sedang mencuci baju di sana. Aku menghampirinya.

"Mbah, hari ini nggak ke sawah?" tanyaku.

"Enggak, Le."

Tangannya berhenti mengucek pakaian. Beliau menoleh sambil tersenyum. "Mumpung Mbah nggak ke sawah dan kamu libur sekolah, Tegar mau dimasakin apa?" tanyanya.

"Hmm..." Aku menggaruk kepala. "Apa ya? Aku bingung."

"Ayam kecap mau?"

Aku terdiam. Ayam kecap ... Sudah lama sekali aku tidak memakannya. Pasti sangat enak, tapi, pasti mahal. Kasihan Mbah. 

Aku menggeleng pelan. "Nggak usah, Mbah. Aku mau sayur aja," jawabku cepat. "Kata Bu Guru, aku harus banyak makan sayur biar sehat."

Mbah tersenyum kecil. "Setiap hari juga Tegar makannya sayur singkong sama daun ubi."

Aku ikut tersenyum tipis, tidak menjawab lagi, lalu membalikkan badan dan berjalan ke teras. Di sana masih ada satu keranjang bawang merah yang belum dipilah. Aku duduk di sampingnya, lalu mulai memisahkan bawang-bawang itu satu per satu. Kali ini, mataku tidak lagi terasa seperih kemarin.

Lihat selengkapnya