Ayam kecap hari ini terasa begitu istimewa. Aku makan dengan sangat lahap. Bukan hanya karena rasanya enak, tetapi juga karena aku ingin Mbah senang melihatku makan dengan lahap. Karena di dalam ayam kecap ini, ada kasih sayang Mbah yang begitu besar untukku.
Siang harinya, aku tidak bermain keluar, aku memilih belajar. Aku ingin menjadi juara saat ujian nanti.
"Nggak main, Le?" tanya Mbah menghampiriku yang tengkurap di atas tikar.
Aku menggeleng. Mungkin Mbah heran melihatku tidak bermain di hari libur. Padahal biasanya, aku paling semangat kalau hari libur. Sampai lupa makan siang, lupa mandi, bahkan kadang Mbah harus mencariku kalau aku belum juga pulang menjelang magrib.
"Aku mau jadi anak pintar. Jadi harus rajin belajar," kataku.
Mbah tersenyum, lalu mengusap rambutku dengan lembut. "Mbah bangga sama kamu, Le."
Aku tersenyum lebar mendengar Mbah bilang begitu, ucapan itu membuatku semakin ingin belajar.
"Mau Mbah buatkan teh buat teman belajar?" tanya Mbah.
Aku langsung mengangguk cepat. "Mau, mau, mau."
🍃🍃
Sore hari, aku benar-benar ikut Mbah mengantar bawang merah yang sudah kami pilah ke rumah juragan.
"Aku kejar Mbah, nih!" teriakku bahagia sambil berlari mengejar sepeda Mbah yang melaju tidak terlalu cepat.
"Hati-hati, Le. Jangan sampai jatuh," teriak Mbah.
"Iya, aku hati-hati, kok, Mbah."
Rumah juragan berada di desa sebelah. Jujur saja, kakiku lumayan pegal karena berlari cukup jauh. Tapi aku tetap senang.
Sesampainya di sana, aku melihat sebuah ayunan besi di halaman rumah. Aku segera duduk di atasnya dan mulai mengayunkan kaki. 'Enak ya jadi orang kaya,' pikirku.
Ayunan ini terus bergerak maju dan mundur, sementara Mbah menunggu hasil dari bawang yang kami antar.
"Ini, Mbah. Upahnya," ucap Bu Siti, istri juragan, sambil menyerahkan uang.
"Makasih banyak, Bu."
"Hari ini lumayan dapat banyak, ya, Mbah."
"Iya, Alhamdulillah. Tegar yang bantuin dari kemarin," jawab Mbah.
Aku tersenyum kecil mendengar itu. Bisa kudengar rasa bangga dalam suara Mbah.
Bu Siti membawa pandangannya ke arahku. Aku segera mengalihkan pandangan ke arah yang lain dan kembali mengayunkan kaki.
"Ibunya Tegar nggak pernah pulang kampung, Mbah?" tanya Bu Siti.
Kakiku berhenti bergerak. Aku diam dan mendengarkan pembicaraan itu. Ibuku ... Bu Siti tanya tentang ibuku.