Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #8

Nasehat Mbah

Aku menuju pojok rumah dekat jendela, lalu duduk di atas tikar. Es krim mangga masih kugenggam, meski sudah mulai sedikit mencair.

"Kayaknya mau hujan. Es krimnya buruan dihabisin, ya, Le. Terus cepat mandi. Mbah angetin dulu ayam kecapnya buat makan malam," ucap Mbah sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku segera membuka bungkus es krim itu. Kusobek ujungnya menggunakan gigi dengan kasar, lalu memakannya cepat-cepat. Rasanya manis dan dingin, tapi aku tidak menikmatinya sama sekali. Aku masih kesal. 

Setelah es krimku habis, aku tetap diam. Aku masih sangat kesal, pokoknya aku kesal. Aku bahkan tidak mau membantu Mbah.

Beberapa saat kemudian, Mbah keluar dari dalam dan menghampiriku.

"Cepetan mandi, Le. Kalau kemaleman nanti dingin. Ini juga kayaknya mau turun hujan. Nanti malah tambah dingin, takut nanti kamu kedinginan." 

Aku hanya meliriknya sekilas lalu mlengos. "Nggak mau," jawabku ketus. Sengaja kubiarkan Mbah tahu kalau aku masih kesal.

"Mau Mbah rebusin air? Mandi pakai air anget mau?"

"Nggak mau," jawabku lagi, masih ketus.

Tiba-tiba hujan turun begitu deras. Suaranya mengetuk-ngetuk genteng dengan keras, berbaur dengan suara angin dan geluduk yang perlahan datang. 

Mbah segera membalik badan. Sedikit berlari diantara kakinya yang masih pincang. Aku menatap punggungnya yang perlahan menghilang. Lalu segera kususul beliau karena aku tahu, ada jemuran baju di belakang rumah.

Tanpa berkata apa-apa, aku berlari lebih cepat dari Mbah dan sampai lebih dulu di belakang rumah. Air hujan membasahi tubuhku dengan begitu cepat. Tanganku langsung meraih jemuran dan menariknya satu per satu dengan cepat lalu mendekapnya di dada. 

Setelah itu, aku segera membawa jemuran yang kini sedikit basah ke dapur.

"Larinya cepat banget, si ganteng," ucap Mbah menyusulku. "Nanti kalau lomba lari acara Agustusan pasti menang."

Aku diam tidak menjawab, masih berdiri sambil memegangi pakaian yang tadi kuambil. Aku tidak tahu harus meletakkannya di mana. 

Pelan, Mbah mengambil pakaian itu dari tanganku, lalu memasukkannya ke dalam ember. Nanti, setelah hujan reda, pakaian itu akan dijemur lagi di dalam rumah, di area dapur ini. Makanya, terkadang bajuku bau asap. 

"Kamu malah jadi kehujanan gara-gara ngambil jemuran," ucap Mbah, suaranya lembut penuh perhatian seperti biasanya. 

Aku tetap diam. Mematung seperti patung batu, sambil menatap tetesan air hujan dari atap yang bocor. Dari sudut mata, kulihat Mbah berjalan menuju pojok tempat tumpukan kayu kering berada. Beliau mengambil beberapa potong kayu, lalu membawanya ke depan tungku.

Dengan telaten, Mbah menyalakan api. Sepertinya Mbah sedang memasak air. Beliau lalu mengambil satu ember lagi, membawanya ke kamar mandi untuk menyiapkan air. 

Aku tetap diam di tempat. Tidak bergerak sedikit pun. Hanya mataku yang terus mengikuti setiap gerakan Mbah. Setelah airnya mendidih, Mbah membawanya ke kamar mandi dan mencampurnya dengan air biasa.

Lihat selengkapnya