Setelah selesai menjahit, Mbah pergi ke dapur. Sementara aku terus belajar, bahkan pelajaran yang tadi sudah kupelajari, kuulangi lagi.
Beberapa saat kemudian, Mbah keluar dari dapur membawa segelas teh manis. "Minum dulu, biar tambah semangat," katanya.
Aku segera duduk dan menyesap teh manis itu hingga separo. Kadang aku suka membayangkan, bagaimana rasanya minum susu setiap hari. Pasti enak, ah, tapi ... teh juga enak. Apalagi kalau minumnya sama Mbah. Semuanya jadi terasa enak.
Mbah kemudian duduk di sampingku.
"Nanti kalau Tegar lulus SD dan nilainya bagus, Mbah beliin sepeda," ucap Mbah.
Aku berhenti menyesap teh seketika mendengar apa yang Mbah ucapkan. Sepeda? Aku membawa pandangan pada Mbah. Aku ingin sekali punya sepeda. Bisa pergi ke sekolah naik sepeda sendiri.
"Aku bakal lebih rajin belajar kalau begitu," kataku penuh semangat.
Mbah mengangguk sambil tersenyum. "Cah bagusss." Tangannya terangkat mengusap rambutku penuh kasih. Aku tersenyum dan kembali belajar.
Mbah masih tetap duduk di sampingku, kakinya diselonjorkan, menemani aku belajar. Aku sedang mengerjakan soal matematika dengan serius ketika aroma khas balsam tercium.
Benar saja ... Mbah sedang mengoleskan balsam ke kakinya. Aku memperhatikan kaki itu. Kaki yang terluka itu terlihat lebih kecil dari yang sebelah. Tulangnya tampak jelas, seperti hanya dibungkus kulit. Aku mengerutkan kening. Memangnya kalau kaki terluka, bisa mengecil begitu, ya?
"Emangnya luka karena sepeda bisa bikin kaki Mbah jadi kecil, ya?" tanyaku sungguh tidak mengerti.
Mbah tetap mengusap balsam ke seluruh kakinya. "Bukan karena lukanya, Le. Mbah memang sudah tua. Kaki tua ya begini."
Aku menelan ludah. Pandanganku segera beralih pada wajah Mbah, menatapnya lekat-lekat. "Tapi Mbah nggak bakal mati, kan?" tanyaku segera. Ada rasa takut yang tiba-tiba memenuhi dadaku, juga pikiranku.
Mbah terkekeh pelan sambil menutup botol balsamnya. "Doakan Mbah panjang umur, ya. Biar Mbah bisa terus nemenin Tegar."
Aku segera mengangguk kuat-kuat. "Ya. Mbah nggak boleh mati. Pokoknya nggak boleh." Aku masih terus menatapnya lekat-lekat. "Kalau Mbah mati, Tegar sama siapa? Mending Tegar ikut mati sama Mbah."
Senyum di wajah Mbah seketika menghilang. Ada keterkejutan yang jelas terlihat di wajah tuanya. "Hus! Nggak boleh ngomong begitu. Nanti ada malaikat lewat."