Sesampainya di rumah, aku segera turun dari boncengan dengan penuh semangat.
"Mbah, lihat!" Kataku.
Aku berlari ke teras rumah, cepat-cepat membuka tas, lalu mengambil buku matematika yang tadi dapat nilai seratus.
Mbah yang baru saja menstandarkan sepedanya menoleh, menatapku.
Aku membuka halaman tempat Pak Guru menuliskan nilai tugasku. "Lihat, Mbah. Seratus," seruku bahagia.
Mbah mendekat, lalu memperhatikan angka besar yang tertulis dengan tinta merah itu. "Wahhh... pinternya cucu Mbah. Mbah bangga sekali."
Aku tersenyum lebar. Lalu kubuka juga buku agama, menunjukkannya pada Mbah.
"Kalau yang ini ada satu yang salah. Jadinya nggak dapat seratus," kataku.
Mbah mengusap rambutku. "Nilai sembilan puluh juga sudah sangat bagus, Le. Besok lebih rajin belajar lagi, semoga besok nilainya lebih bagus lagi, ya."
Aku mengangguk, merasa mendapatkan semangat tiba-tiba. "Iya, Mbah."
"Nah, sekarang ganti baju dulu, lalu makan siang."
Aku segera memasukkan buku-buku itu kembali ke dalam tas. "Iya!"
Aku langsung masuk ke kamar, merogoh saku seragam, lalu mengeluarkan uang dua ribu yang tadi pagi Mbah berikan. Kumasukkan uang itu ke dalam kaleng bekas yang kusimpan di sudut kamar.
"Bimsalabim... jadi banyak," gumamku penuh harap.
Sudah dua minggu aku menabung. Aku ingin membeli sepatu baru. Karena sebenarnya sepatuku sudah robek di bagian pinggirnya. Kalau dipakai berlari, kadang kakiku terasa kemasukan debu, bahkan saat jalanan becek karena hujan, kaos kakiku jadi basah dan aku menahan dingin di telapak kaki sepanjang hari.
Aku mengganti baju, lalu bergegas makan siang yang sudah Mbah siapkan di dapur. Setelah selesai, aku menghampiri Mbah yang sedang duduk di teras sambil memilah bawang merah.
"Sudah makannya, Le?" tanya Mbah.
"Sudah. Alhamdulillah, sudah kenyang." Aku duduk di samping Mbah dan ikut memilah bawang.
"Nggak main sama teman-teman?" tanya Mbah.
Aku menggeleng pelan. "Lagi males," jawabku pendek.
Mbah tidak bertanya lagi. Mungkin sebenarnya Mbah tahu kenapa sekarang aku lebih sering memilih tinggal di rumah. Ya, karena teman-teman tidak ada yang mau main lagi sama aku.
"Kalau ngantuk, tidur saja, ya. Tidur siang," ucap Mbah.
"Aku nggak ngantuk, kok," jawabku tapi bibirku sepertinya tidak bisa diajak bekerja sama. Aku malah menguap lebar.