"Beli garam doang berisiknya kayak sound horeg," ucap Bude Ju. Suaranya masih terdengar kesal. "Besok kalau manggil bawa speaker sekalian."
"Sudah, Bu Ju. Sudah. Jangan dimarahin lagi," sela Bude Patmi, mencoba menenangkan.
"Lagian aku kesel banget, lho, Bu. Teriak-teriak dari tadi, kayak aku orang budeg saja. Padahal manggil sekali juga cukup."
Bude Patmi terdiam sebentar, lalu melirik ke arahku. "Ya, tolong dimaklumi lah, Bu. Kasihan juga ... nggak ada bapak ibunya."
Mendengar itu, tanganku yang sedang memegang uang mendadak mengerat. Aku menunduk dalam. Kalimat itu lagi. Bapak dan Ibu. Dua kata itu selalu membuat dadaku terasa sakit.
"Nih." Bude Ju akhirnya menyerahkan garam kepadaku. "Dasar nggak punya sopan santun."
Aku menerimanya, lalu menyerahkan uang pembayaran dengan tangan gemetar.
"Pas, ya, ini, Gar," kata Bude Ju, masih saja ketus.
"Iya, Bude," jawabku.
Bude Patmi mengusap lenganku sebentar. "Besok lagi yang sopan, ya, Le."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Bude."
Setelah itu, aku segera berlari meninggalkan warung. Percakapan mereka seperti ikut berlari bersamaku. Menempel di kepalaku, juga dadaku.
Aku ini anak yang nakal. Aku anak yang nggak punya sopan santun. Amit-amit punya anak kayak Tegar. Pantas saja Bapak dan Ibu nggak mau sama aku.
Aku terus berlari sampai rumah. Bahkan langkahku tidak berhenti sampai ke dapur. Mbah yang sedang membenarkan api di tungku langsung menoleh ketika mendengar kedatanganku. Aku menatapnya.
"Dapat garamnya, Le?" tanya Mbah rendah. Suaranya selalu lembut saat berbicara denganku. Sangat berbeda dengan suara-suara yang kudengar tadi.
Napas aku masih tersengal. Dadaku terasa sakit, jadi aku tidak menjawab apapun.
Pandangan Mbah turun ke tanganku. "Sini garamnya, Le."
Aku melangkah mendekat, tapi bukan untuk menyerahkan garam itu.
"Aku janji nggak bakal nakal lagi." Suaraku bergetar didepan Mbah. "Jadi Mbah jangan tinggalin aku, ya."
Mbah tertegun menatapku. Beliau bahkan langsung diam. Hanya terdengar helaan napas panjang dari bibirnya. Kemudian Mbah berdiri. Tangannya terangkat, mengusap kepalaku pelan penuh kasih.
"Mbah nggak bakal ninggalin kamu. Jangan mikirin yang aneh-aneh, ya. Ingat, bagi Mbah, kamu adalah anak yang paling berharga," ucap Mbah.
Bibirku semakin bergetar. Aku menelan ludah. "Tapi kata Bude Ju dan Bude Patmi, Bapak sama Ibu nggak mau sama aku karena aku nakal. Karena aku nggak tahu sopan santun."
Tangan Mbah yang tadi mengusap kepalaku mendadak berhenti. Beliau terdiam. Untuk sesaat, Mbah hanya menatapku, lalu pandangannya perlahan beralih ke arah lain.