"Sudah mau magrib. Buruan pulang. Nanti kamu dicariin Mbahmu," ucap Pakde.
Aku menghentikan tanganku seketika, lalu mendongak ke atas. Iya, hari memang sudah mulai gelap.
Pakde To berdiri lebih dulu, "Sini," pintanya. Beliau mengambil plastik hitam bekas wadah singkong, lalu mengisinya dengan kacang tanah. "Nah, ini bawa pulang." Beliau menyerahkan kantong itu kepadaku.
"Wahh, makasih, Pakde." Aku menerimanya dengan kedua tangan.
"Terus ini, buat jajan karena tadi sudah bantuin Pakde."
Pakde To mengulurkan selembar uang sepuluh ribu kepadaku. Aku menatap uang itu, lalu menggeleng.
"Lima ribu aja, Pakde. Aku cuma bisa nyabut kacang sedikit, kok. Terus ini juga sudah dapat sekantong kacang."
"Halah, sudah. Buruan diterima, terus cepat pulang."
Pakde To malah memasukkan uang itu ke dalam saku celanaku.
"Sudah sana. Buruan pulang. Kasihan Mbah kalau nyariin kamu."
Aku tersenyum, hatiku terasa hangat. "Makasih, ya, Pakde."
"Iya, sip. Dah, sana pulang. Hati-hati. Jangan lari."
Aku bergegas pulang. Langkahku terasa jauh lebih ringan dari pada tadi. Bahkan sesekali aku melompat-lompat kecil karena terlalu bahagia. Kedua tanganku memeluk erat sekantong plastik kacang tanah pemberian Pakde To.
Sesampainya di rumah, Mbah sudah menungguku di teras.
"Kamu ini dari mana sih, Le?" tanyanya begitu melihatku.
Aku segera memperlihatkan apa yang kubawa. "Aku dari sawah Pakde To, Mbah. Bantuin Pakde panen kacang tanah."
Mbah menghembuskan nafas panjang. "Mbah nyariin kamu ke lapangan, tapi kamu nggak ada di sana. Ternyata di sawah," kata Mbah.
Aku bisa melihat wajahnya yang masih menyimpan kecemasan.
"Seru banget nyabutin kacang. Aku sampai lupa kalau sudah mau magrib," kataku.
Mbah melangkah lebih dekat lalu mengusap rambutku pelan.
"Ya sudah, sekarang buruan mandi, ya."
"Iya, Mbah."
Mbah menerima kantong kacang tanah yang kubawa, lalu kami masuk ke dalam rumah.
"Aku juga dapat upah dari Pakde To, tahu, Mbah."
"Alhamdulillah."
"Dikasih sepuluh ribu. Banyak, ya, Mbah?"