Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #13

Maafkan Aku, Mbah

Mereka semakin dekat. Aku tidak menunggu mereka menyerang lebih dulu. Aku langsung maju dan melayangkan tinjuku ke arah Faiz.

Bug! Tinju itu mengenai wajahnya. Faiz terhuyung beberapa langkah ke belakang.

"Kamu!" Rendy langsung maju. Tapi sebelum sempat berbuat apa-apa, tinjuku kembali melayang ke arahnya.

Bug! Rendy ikut terhuyung.

"Jangan panggil aku anak haram!" teriakku pada mereka semua. Aku semakin siap untuk memukul siapapun.

Dua anak lainnya, Daffa dan Tian langsung menyerang dari samping. Salah satu dari mereka memukul bahuku. Aku terhuyung, lalu yang satunya kembali menghantam bagian punggungku.

Aku berbalik dan mencoba melawan mereka tapi Faiz dan Rendy sudah kembali mendekat. Mereka berdua memukulku hampir bersamaan. Mengenai perut dan dadaku. Aku menahan sakit, lalu segera membalas, aku tidak boleh kalah.

Satu tinju kuberikan kepada Daffa, kemudian kepada Tian, aku memukul di wajah mereka, sengaja mengincar bibir mereka. Karena bibir itu yang mereka gunakan untuk mencelaku.

Tian dan Daffa mundur setelah kena pukulan ku. Sekarang, aku kembali menghadapi Faiz. Dia terlihat mulai takut. Bug! Satu pukulan mendarat di bibirnya. Lalu aku segera beralih pada Rendy. Bug! Mereka berdua kembali terhuyung.

Aku tidak tahu sudah berapa kali tanganku bergerak. Aku hanya tahu satu hal, bahwa aku tidak mau mereka menyebutku seperti itu lagi.

"Jangan panggil aku anak haram!" Teriakku lagi.

"Tegar!" Tio berteriak mencoba menghentikanku.

Aku menoleh padanya dan baru menyadari jika sudah banyak anak-anak yang menonton kami.

Tio segera berlari meninggalkan kami. "Aku panggil Pak Guru!" teriaknya.

Detik itu juga, empat orang sekaligus mengerubungiku. Rendy, Faiz, Daffa dan Tian.

Belum sempat aku bergerak, satu pukulan mengenai lenganku. Yang lain mencoba memukul dari belakang, tetapi aku segera berbalik dan mendorongnya. Namun tiba-tiba tersungkur, Faiz menendang punggungku. Aku terjatuh di atas lantai, dadaku menghantam keras lantai yang dingin, rasanya sakit sekali.

Mereka tidak berhenti sampai disitu. Mereka kembali mengeroyokku. Aku mencoba segera bangkit. Hingga tiba-tiba terdengar suara keras dari arah samping.

"BERHENTI!"

Semua gerakan kami seketika terhenti. Pak Guru berdiri di sana, menatap kami dengan tatapan yang terlihat sangat marah.

"Kalian semua!" Bentaknya.

Dan kami semua berakhir di ruang kepala sekolah.

Hari ini, kepala sekolah sendiri yang duduk di balik meja itu. Di sampingnya ada Pak Guru yang selama ini sering menangani kasusku.

"Kenapa kalian berantem?" tanya kepala sekolah, Pak Minan.

Kami diam, tidak ada yang menjawab lebih dulu.

"Bapak tanya sekali lagi. Jawab atau kalian jaga sekolah sampai malam nanti," kata Pak Minan. "Jadi, kenapa kalian berantem?"

Lihat selengkapnya