Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #14

Pelukan Mbah

Langkahku tidak tenang menuju kelas. Aku kepikiran Mbah. Pelan, aku menoleh sekali lagi ingin melihat Mbah. Beliau terlihat tengah masuk ke ruang kepala sekolah. 

Aku kembali menunduk dan melangkah menuju kelas. Sesampainya di kelas, kulihat Rendy sudah berdiri di depan, tepat di samping meja Bu Guru.

"Tegar, sini. Berdiri di sebelah Rendy," kata Bu Guru dengan tegas. 

Aku melangkah ke sana, lalu berdiri tepat di samping Rendy.

Bu Guru menatap kami berdua. "Ibu dengar tadi kalian berkelahi."

Aku dan Rendy sama-sama diam.

"Ibu nggak mau tahu siapa yang mulai. Ibu cuma mau kalian berdua mengerti, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi."

"Iya, Bu," jawab kami hampir bersamaan.

"Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik. Jangan langsung main tangan. Sekarang sudah selesai, kembali ke tempat duduk masing-masing."

"Baik, Bu."

Aku duduk dibangku.

"Kamu nggak apa-apa kan, Gar?" Tanya Tio. "Aku lihat mereka ngeroyok kamu. Faiz nendang punggung kamu."

Aku menoleh menatap Tio. "Aku nggak apa-apa," jawabku. "Kamu ... Masih mau main sama aku kan?" Tanyaku sedikit ragu.

Tio mengangguk. "Iya, aku tetap mau main sama kamu kok. Mereka yang mulai duluan kan. Padahal kita tadi asik main tiup gelang karet."

Aku lega mendengar jawaban Tio. Syukurlah dia masih mau bermain bersamaku.

"Tio ... Tegar! Perhatikan papan tulis." Suara Bu Guru menegur kami.

"Iya, Bu," jawab kami bersamaan.

Sepulang sekolah, aku melangkah gontai menuju gerbang sekolah. Terbayang wajah Mbah yang menungguku dengan sabar. Hari ini, tidak ada cerita tentang nilai seratus yang kudapatkan. Hari ini aku kembali pulang sebagai Tegar yang berkelahi.

Langkahku terhenti sejenak saat melihat Mbah di sana. Meskipun tidak pernah kutemukan raut marah di wajahnya, tapi aku selalu takut membuat Mbah kecewa dan sedih. Apalagi setelah aku tahu alasan kenapa Mbah tidak pernah marah dan memukulku. Dan semakin hari, aku semakin mengerti bagaimana Mbah berjuang seorang diri untuk merawat dan membesarkanku.

Aku kemudian melangkah mendekati Mbah. Tanpa banyak bicara, aku naik ke boncengan sepeda.

Lihat selengkapnya