Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #15

Ibu

Mbah melepaskan pelukannya perlahan. Tangannya mengulur, mengusap air mataku yang masih membasahi pipi. Setelah itu, beliau mengusap air matanya sendiri dengan cepat.

Aku diam menatap wajah Mbah. Baru kali ini aku melihat Mbah menangis di depanku. Baru kali ini aku mendengar suara tangisnya yang tertahan. Dan mungkin sebenarnya banyak sekali hari yang Mbah habiskan untuk menangis diam-diam. Namun, Mbah kemudian tersenyum. Senyum yang sama seperti biasanya, senyum yang selalu membuatku merasa aman dan bahkan menganggap bahwa senyum itu ada duniaku.

Tangannya beralih mengusap rambutku dengan lembut dan penuh kasih.

"Tegar jangan pernah punya pikiran macam-macam ya, Le," ucapnya. Suaranya parau, bergetar kecil. "Jangan dengerin omongan orang-orang, jangan pernah. Tegar hanya harus yakin bahwa Tegar adalah anak yang paling berharga. Bahwa apapun yang terjadi, Mbah nggak bakal ninggalin Tegar."

Aku mengangguk kuat-kuat, lalu tersenyum kecil. Dadaku mulai terasa nyaman, tidak terlalu sakit seperti tadi.

Mbah mengusap pipiku sekali lagi.

"Sudah, jangan nangis lagi ya. Jangan sedih lagi. Kalau Tegar sedih, Mbah juga ikut sedih," ucap Mbah. Matanya berkaca-kaca saat mengatakan itu.

"Sekarang makan dulu, yuk, sama Mbah. Dari siang kamu belum makan apa-apa. Nanti perutnya sakit."

Aku mengangguk dengan penuh rasa haru yang menghampiri hatiku. "Iya, Mbah."

Malam ini aku makan bersama Mbah. Kami makan dalam satu piring yang sama. Makan malam kami yang selalu sederhana tetapi penuh kehangatan dan kasih sayang. Inilah rumahku ... Mbah.

Setelah selesai makan, aku langsung mulai belajar. Mbah kemudian mengambil kaleng celenganku yang ku letakkan tak jauh dariku.

"Ini disimpan lagi, Le," ucap Mbah pelan.

Aku segera menggeleng, membawa pandanganku pada celengan itu.

"Nggak usah, Mbah. Tunggu orang tua Faiz sama yang lainnya datang. Nanti kasih celengan ini buat mereka."

Aku masih sangat ingat waktu dulu aku memukul Faiz. Setelah itu, kedua orang tua Faiz datang dan Mbah memberikan uang kepada ibunya Faiz untuk biaya berobat. Sekarang, aku yang ingin memberikan uangku sendiri, karena itu adalah salahku.

"Kenapa celengan itu untuk mereka, Le?" tanya Mbah.

Aku menoleh padanya.

"Karena aku habis mukul Faiz, Rendy, Daffa dan Tian," jawabku. "Aku inget, dulu ayah dan ibu Faiz datang setelah itu."

Mbah semakin menatapku, lalu memberikan celengan itu padaku.

"Simpan baik-baik celengan ini. Ini adalah uang kamu, belikan apapun yang kamu inginkan," ucap Mbah.

"Tapi Mbah ...."

"Insya Allah mereka tidak akan kesini," ucap Mbah. "Semuanya sudah dibicarakan baik-baik di ruang kepala sekolah. Semuanya sudah selesai."

Lihat selengkapnya