Mbah akhirnya kembali duduk di sampingku lalu mengambil botol minyak kayu putih yang ada di dekat bantal.
"Mbah olesin minyak kayu putih sama parutan bawang merah ya, Le. Biar panasnya cepet turun," ucap Mbah.
Aku mengangguk patuh.
"Tunggu sebentar di sini, Mbah marut bawang merah dulu." Mbah kemudian bangkit dan berjalan menuju dapur.
Aku kembali memejamkan mata. Namun, bayangan Ibu kembali muncul di kepalaku. Terasa begitu nyata. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana Ibu berjalan menjauh dariku dalam mimpi tadi.
Bahkan dalam mimpi pun Ibu tidak mau menerimaku. Tapi kenapa aku masih merindukannya? Kenapa aku masih ingin bertemu Ibu? Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasanya dipeluk oleh Ibu. Aku selalu kecewa oleh penolakannya, tapi entah kenapa, tiba-tiba aku mengharapkan Ibu datang dan memelukku. Sebuah harapan yang sudah lama sekali ku kubur dalam-dalam. Mungkin karena bagaimanapun juga, dia tetap Ibuku.
Aku membuka mata, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Ibu ...." bisikku pelan.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Mbah mendekat. Langkah pincangnya terdengar semakin jelas hingga akhirnya Mbah masuk ke kamar sambil membawa wadah kecil berisi parutan bawang merah.
Mbah duduk di sisiku. Beliau menuangkan sedikit minyak kayu putih dalam wadah parutan bawang merah, lalu mengaduknya.
"Insyaallah ini mujarab, Le. Biar panasnya cepat turun dan Tegar cepat sembuh. Bismillah."
Aku mengangguk pelan, mengamini dalam hati.
"Buka bajunya, Le. Mbah balurin minyak kayu putih dulu."
Mbah mengambil kompres di keningku. Aku duduk, lalu membuka baju yang kupakai.
"Astaghfirullah, Le ...." tiba-tiba Mbah memekik.
Aku ikut terkejut dan langsung menoleh padanya. Tatapannya tertuju pada dadaku. Aku ikut menunduk. Ada memar di dadaku. Aku semakin menunduk, dan menemukan memar juga di perutku. Lenganku juga tidak luput dari bekas pukulan.
"Le ...." Suara Mbah terdengar berbeda. Sedikit bergetar. "Ya Allah, Le, punggungmu juga memar."
Mbah mengulurkan tangannya. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan itu bergetar sebelum menyentuh kulitku. Jari-jarinya perlahan mengusap memar di lenganku, lalu berpindah ke punggungku.
"Sakit nggak, Le?" tanya Mbah pelan.
Aku menggeleng. "Nggak, Mbah."
"Ini karena kamu berkelahi tadi siang di sekolah, ya?" tanyanya. "Ya Allah Le, kenapa sampai memar begini."
Aku diam tidak menjawabnya. Aku segera merebahkan tubuhku lagi.
"Cepet balurin minyak kayu putih aja, Mbah," kataku. "Aku mau tidur lagi."
Pelan-pelan, Mbah membalurkan minyak kayu putih ke tubuhku. Tangannya bergerak lembut dan hati-hati, terutama saat menyentuh bagian yang memar. Aku memejamkan mata, badanku terasa panas sekali.
Mbah mengusap dada dan perutku dengan telaten, memastikan semua bagian yang sakit sudah dibalur minyak.
"Miring dulu, Le, Mbah balur punggungmu," ucap Mbah.