Mbah kemudian duduk bersama kami.
"Sudah sembuh, Las," kata Mbah. "Sudah nggak terasa sakit sama sekali. Ibu pincang, ya, karena memang sudah tua."
"Alhamdulillah kalau sudah sembuh, Bu."
Bude Lastri kemudian berdiri. "Aku ambilkan sendok dulu buat Tegar." Bude Lastri masuk ke dalam rumah untuk mengambil sendok.
Aku kembali menatap kaki Mbah yang sedang selonjoran di dekatku.
"Mbah, kakinya sakit nggak?" tanyaku, merasa khawatir.
Mbah menggeleng. "Nggak, Le. Sudah nggak sakit," jawab Mbah. Beliau lalu mengambil balsam dan mengoleskannya di kaki.
"Kalau nggak sakit, kenapa Mbah sering ngoles balsam ke kaki?" tanyaku penasaran.
"Ini namanya udah tulang tua. Kalau tulang tua itu, sering pegal-pegal," jelas Mbah dengan kekehan kecil.
Aku mengangguk, tapi pikiranku masih teringat ucapan Bude Lastri tadi. Katanya luka Mbah sudah lama dan belum sembuh-sembuh.
Mbah kemudian memperhatikan sesuatu yang kubawa.
"Bubur jagungnya pakai gula, ya?" tanyanya.
Aku mengangguk. Mbah langsung tersenyum lebar.
"Enak banget itu, Le. Bubur jagung pakai gula. Apalagi bikinan Bude Lastri, enak banget."
Aku ikut tersenyum mendengarnya.
Bude Lastri kembali sambil membawa satu sendok.
"Nih, Le. Sendoknya." Beliau menyerahkannya kepadaku.
"Makasih, Bude," ucapku sembari menerima sendok dari Bude Lastri.
"Iya. Dimakan buburnya, biar cepat sehat." Bude Lastri kembali duduk bersama kami.
Aku mulai menyendok bubur jagung itu lalu menyuap ke mulutku. Masih hangat dan rasanya manis. Aku suka. Aku memakannya dengan lahap.
Mbah dan Bude Lastri tersenyum lebar melihatku makan.
"Bude, bubur jagung buatan Bude enak," kataku.
"Alhamdulillah kalau kamu suka," jawab Bude Lastri. Beliau lalu membantu Mbah mengoles balsam.
🍃🍃🍃
Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah tapi aku mencoba tetap belajar di rumah. Aku tidak boleh ketinggalan pelajaran.
Pagi ini, sekitar pukul sepuluh, aku dan Mbah dikejutkan oleh suara ramai dari depan rumah.
Mbah segera berdiri dan melangkah keluar.
"Bu Guru," ucap Mbah. Lalu disusul suara Bu Guru wali kelasku.
Ternyata Bu Guru datang bersama teman-teman sekelasku. Aku langsung tersenyum lebar mengetahui kedatangan mereka. Tanganku segera merapikan rambutku yang masih berantakan sejak pagi.
Mereka semua datang menjengukku, beberapa teman yang dulu tidak mau bermain denganku bahkan ikut datang. Semuanya duduk di atas tikar lantai yang sangat sederhana.