Hampir menjelang magrib, aku masih bermain di lapangan. Sampai akhirnya Mbah datang menjemputku.
"Le, mainnya sudah dulu. Pulang, kamu belum mandi, udah mau magrib."
Aku mengangguk. Teman-temanku juga mulai berhenti bermain dan pulang ke rumah masing-masing.
Aku berjalan pulang bersama Mbah.
"Seru, ya, Le, mainnya?" tanya Mbah.
"Iya, Mbah. Seru banget. Tadi aku ketahuan terus, tapi aku malah suka. Aku kadang sembunyi di tempat yang mudah di temukan."
Mbah terkekeh mendengar jawabanku.
"Mbah, habis nyari Tegar ya," sapa tetangga yang kami lewati.
"Iya, belum mandi nggak pulang-pulang," jawab Mbah. Kami menghentikan langkah, menghormati Bude Ti yang berbicara.
"Anak-anak ya gitu kalau udah main lupa mandi, lupa tidur, sampai lupa makan," ucap Bude Ti.
"Iya."
"Gar," kali ini Bude Ti menatapku. "Mbah tuh udah sepuh, udah nggak sekuat dulu. Jadi kamu harus tau waktu ya, Le. Kalau waktunya pulang ... pulang, biar Mbah nggak usah capek-capek nyariin kamu."
Aku mengangguk. "Iya, Bude."
"Pulang dulu ya, Ti," ucap Mbah pamit.
"Iya, Mbah. Sehat-sehat ya, Mbah. Besok kalau suamiku dapat ikan lagi, saya kasih ke Mbah."
"Maturnuwun, Ti."
"Iya, Mbah."
Kami melanjutkan jalan lagi.
"Jadi ikan yang sering kita makan itu pemberian Bude Ti ya, Mbah?" tanyaku.
"Iya," jawab Mbah. "Makanya nanti, kalau Tegar sudah jadi orang sukses, Tegar jangan lupa sama orang-orang yang baik sama kita ya, Le."
Aku mengangguk pasti. "Iya, Mbah. Aku bakal selalu inget mereka semua."
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi. Setelah itu, aku sholat Magrib bersama Mbah, lalu kami makan malam bersama.
Sambil makan, aku masih bercerita tentang permainan tadi di lapangan.
"Tadi aku sembunyi di belakang pohon, Mbah. Tapi Dimas tetap nemuin aku."
Mbah tersenyum mendengarkan ceritaku.
"Terus pas kamu yang jaga, kamu bisa nemuin yang lain nggak?" tanya Mbah.
"Bisa dooong," jawabku semangat. "Cuma satu yang nggak ketahuan."
"Siapa?"
"Hamdan," jawabku. "Lha dia malah naik ke pohon kersen. Aku nggak kepikiran sama sekali."