Mbah

Nanas Nanas 🍎
Chapter #19

Obrolan-obrolan Itu

Hari libur, setelah sarapan, aku ingin cepat-cepat bermain. Aku menghampiri Mbah yang sedang berada di dapur.

"Mbah, Tegar main dulu, ya," pamitku. Namun, sebelum Mbah menjawab, aku melihat beliau sedang berusaha mengangkat cucian yang cukup banyak. Mbah terlihat kesulitan membawanya. Aku langsung mendekat pada Mbah.

"Sini, Mbah. Tegar bantu."

Aku membungkuk dan memegang sisi kanan ember, sementara Mbah memegang sisi kiri ember. Kami membawanya berdua ke belakang rumah.

Sesampainya di sana, aku membantu Mbah menjemur terlebih dulu, meskipun sebenarnya aku ingin sekali cepat bermain ke lapangan.

"Biar Mbah aja yang jemur," ucap Mbah. "Tegar kalau mau main, sana buruan main, jangan lupa pulang buat makan ya. Jangan sampai lupa waktu sholat dan makan."

"Aku bantu jemur Mbah dulu aja," jawabku.

Mbah menoleh dan tersenyum. "Makasih ya, Cah Bagus ...."

Aku tertawa kecil mendengar panggilan Mbah padaku.

Setelah semuanya selesai, barulah izin lagi pada Mbah.

"Ingat pesan Mbah ya, Le."

"Iya, Mbah."

Aku langsung berlari menuju lapangan, tetapi sesampainya di sana, ternyata sepi, tidak ada teman-temanku. Hanya ada beberapa ibu-ibu yang sedang menyuapi anak mereka.

Aku berhenti dan melihat ke sekeliling. 'Wah, aku pasti terlambat,' batinku.

Salah satu ibu yang sedang menyuapi anaknya menoleh kepadaku. "Nyariin teman-temanmu ya, Gar?"

Aku mengangguk pelan. "Iya, Bulek."

"Teman-temanmu pada ke rumah Hamdan, Gar. Hamdan punya sepeda baru. Mereka kesana semua."

"Oh. Makasih ya, Bulek."

"Iya sama-sama. Buruan nyusul sana Gar. Katanya ibunya Hamdan juga bagi-bagi nasi kuning."

"Iya."

Aku langsung berbalik dan berlari menuju rumah Hamdan dengan semangat. Sesampainya di rumah Hamdan, ternyata sudah ramai sekali. Teman-temanku berkumpul di halaman. Ada yang duduk di tikar, ada yang sibuk melihat sepeda baru Hamdan, dan ada juga yang sedang makan nasi kuning.

Doni yang melihatku langsung melambaikan tangan.

"Tegar! Sini!"

Aku segera menghampiri mereka.

"Aku tadi nyariin kamu di lapangan, tau," kataku.

"Tadi kita emang kumpul di lapangan, mau main lempar sendal tapi diajak bapaknya Hamdan kesini. Terus kita dikasih nasi kuning," jelas Doni.

Ibu Hamdan yang melihat kedatanganku langsung tersenyum.

"Eh, Tegar. Sini duduk sama teman-teman. Makan dulu."

Beliau mengambilkan sepiring nasi kuning dan memberikannya kepadaku.

Lihat selengkapnya